Wahabi sebagaimana ramai diketahui, adalah gerakan yang mengusung pemurnian ajaran Islam dan menggeluti isu-isu yang berhubungan dengan bid'ah, syirik dan khurafat. Gerakan ini didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung penuh oleh pemerintahan Abdul Aziz bin Su'ud.

Pada awalnya gerakan yang menurut As-Shawi dalam tafsirnya disebut sebagai khawarij ini hanya berkembang di Saudi Arabia dan sebagian Timur Tengah seperti Yaman dan Yordania. Di Indonesia munculnya gerakan Wahabi dapat diketahui melalui terjadinya gerakan Paderi di Sumatera Barat dan lahirnya organisasi Muhammadiyah.

Sejak sekitar tahun 1980 gerakan ini mulai merembet masuk secara besar-besaran ke berbagai negara di penjuru dunia, menebar fitnah dan pengkafiran terhadap masyarakat muslim. Saat ini fitnah dan pengkafiran yang mereka sebarkan semakin terasa seiring dengan perkembangan media dan kemajuan teknologi informasi, apalagi didukung dengan dana yang kuat dari negara kelahiran Wahabi, Saudi Arabia.

Untuk mengetahui dan mengenal gerakan mana yang termasuk bagian dari wahabisme, berikut akan diuraikan secara singkat gerakan-gerakan yang beraliran wahabi, walaupun terkadang antara gerakan satu dengan gerakan yang lain malah saling membid'ahkan dan mengkafirkan.

Gerakan Salafi

Istilah salafi pada mulanya digunakan oleh  beberapa komunitas Sunni. NU menggunakan istilah ini untuk kesetiaan terhadap model ajaran para imam-imam madzab dalam memecahkan problem masa kini. Sejak awal, NU juga telah mengklaim sebagai kelompok ”ahlussunnah wal jamaah”. Istilah yang juga kini digunakan gerakan salafi ini.

Istilah Salafi dipopulerkan oleh Nashiruddin Al-Albani pada dekade 1980-an di Madinah. Jamaahnya kemudian dikenal dengan al-Jamaah al-Salafiyyah al-Muhtasib. Hampir sama dengan wahabi, salafi yang dimaksudkan  Al-Albani adalah  suatu gerakan untuk memurnikan kembali ajaran Islam dengan mengedepankan kampanye pembasmian terhadap segala sesuatu yang dianggap bid’ah. Al-Albani tidak menggunakan nama wahabi dikarenakan istilah ini, dianggap kurang tepat. Di dalamnya terkesan ada pemujaan  terhadap tokoh.

Tokoh penting gerakan salafi ini tentu saja adalah Nashiruddin Al-Bani dan Sheyh Mugbil Yaman. Sedangkan pusat utama perkembangannya adalah Saudi. Universitas-universitas di sana menjadi basis  kaderisasi salafi.

Di luar universitas, tempat yang berperan penting adalah halaqoh-halaqoh yang diadakan ulama Wahabi secara informal. Halaqoh inilah yang nantinya menjadi titik penting kaderisasi serta melahirkan jaringan guru-murid. Sayangnya, perkembangan halaqoh salafi di Arab Saudi justru tidak sepesat di Jordan maupun Yaman.

Jordan kini telah menjadi basis penting perkembangan salafi. Kendati Al-Albani memulai gerakan salafi dari Madinah, namun Al-Albani justru mengembangkan salafi secara intensif di tanah kelahirannya. Di sini dia membangun semacam pondok pesantren yang berperan penting dalam kaderisasi dakwah. Para murid senior Al-Albani kemudian mendirikan Markaz Imam Al-Albani di Aman, Jordania. Mereka adalah Syekh Salim bin Ied Al-Hilaly, Syaikh Ali Hasan al-Halaby, Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Masyhur Alu Salman, Syaikh Husain al-Awaisyah. Berkat ketenaran Al-Albani, dalam waktu singkat Markaz mampu menarik minat banyak kalangan dari banyak negara untuk mendalami salafi. 

Pusat kedua adalah Pondok Syeikh Muqbil di Dammaj, Yaman. Pondok yang terletak di sebuah desa  terpencil ini telah dikunjungi murid dari berbagai penjuru dunia, mulai dari negara Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Kanada, (tentu saja dengan jumlah murid yang lebih sedikit) hingga negara-negara mayoritas sunni, khususnya kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara.

Perkembangan salafi makin menemukan momentumnya tatkala pemerintah Arab Saudi secara tidak resmi memberikan bantuan dana bagi operasi dakwah salafi puritan di berbagai penjuru dunia. Bantuan ini umumnya mengalir lewat individual, yayasan ataupun lembaga islam internasional seperti Rabithah dan IIRO. Untuk Robithoh dan IIRO, aliran bantuannya memang tidak membedakan friksi dalam salafi. Kedua lembaga ini hanya concern terhadap perkembangan Islam terutama yang mengusung ideologi Salafi. Orientasi ke salafi  ini sangat kuat karena sebagian besar organisasi Islam sunni moderat di Indonesia umpamanya, kurang mendapatkan bantuan dari organisasi Islam internasional tersebut.

Sama seperti kecenderungan internasional, gerakan salafi baru muncul di Indonesia pada awal dekade 1980-an. Dorongan utamanya adalah berdirinya lembaga LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab) yang merupakan cabang dari Universitas Imam Muhammad ibn Saud Riyad di Indonesia. LIPIA pertama kali dipimpin oleh Syeikh Abdul Aziz Abdullah al-Ammar, murid tokoh utama salafi Syeikh Abdullah bin Baz.

LIPIA menggunakan kurikulum Universitas Riyad, staf pengajarpun didatangkan langsung dari Saudi. Salah satu yang membuat banyak mahasiswa tertarik belajar di LIPIA, karena LIPIA menyediakan beasiswa berupa uang kuliah dan uang saku. Lebih dari itu, LIPIA juga menjanjikan para alumninya untuk bisa melanjutkan tingkat master dan doktoral di Universitas Riyad di Saudi.

Alumni LIPIA angkatan 1980-an, kini menjadi tokoh terkemuka di kalangan salafi. Diantaranya adalah Yazid Jawwas, aktif di Minhaj us-Sunnah di Bogor; Farid Okbah, direktur al-Irsyad; Ainul Harits, Yayasan Nida'ul Islam, Surabaya; Abubakar M. Altway, Yayasan al-Sofwah, Jakarta; Ja'far Umar Thalib, pendiri Forum Ahlussunnah Wal Jamaah; dan Yusuf Utsman Bais’a direktur al-Irsyad Pesantren, Tengaran. (Bersambung)

 
Top