Sabar: Sendi dari Segala Sesuatu (2-Habis)


Pada artikel sebelumnya dijelaskan bahwa musibah ada dua macam. Yang pertama adalah musibah yang langsung diberikan Allah tanpa perantaraan orang lain, seperti sakit, kehilangan dan lain-lain. Sedangkan musibah yang kedua adalah musibah yang datang dari orang lain, seperti dihina orang lain, dirugikan orang lain dalam harta benda, dipermalukan orang lain, atau disakiti badannya.

Kesabaran akan musibah ini dilakukan dengan cara menahan diri untuk membenci orang yang telah menyakitinya, apabila ia seorang muslim, menahan diri untuk berbuat buruk kepadanya, menjaga lisan agar tidak mendoakan keburukan kepadanya dan menahan diri untuk tidak membalas keburukannya sama sekali. Sabar akan semua itu dengan menahan semua rasa sakit dan memaafkan semuanya, mencukupkan diri pada pertolongan dari Allah dan berharap pahala sabar yang dilakukan.

Kesabaran terhadap musibah seperti ini dapat didorong dengan mengetahui hadits-hadits atau firman Allah yang menjelaskan fadilah-fadilah bagi orang-orang yang mampu menahan marah, menahan semua rasa sakit, dan mau memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Barang siapa memaafkan dan berdamai, maka pahalanya ditanggung Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat aniaya”. (QS. As-Syura: 40)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana besarnya pahala orang-orang yang mau memaafkan dan berdamai, sehingga Allah menyatakan bahwa pahala bagi mereka ditanggung oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah bersabda:

من كظم غيظا ولو شاء أن ينفذ لنفذه ملأ الله قلبه أمنا وإيمانا

“Barang siapa mau menahan marah yang mana jika ia melampiaskannya, maka akan terlampiaskan, niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman”.

Rasulullah juga bersabda:

ينادي مناد يوم القيامة ليقم من أجره على الله ، فيقوم العافون عن الناس

“Di hari kiamat malaikan memanggil-manggil: ‘Berdirilah orang yang pahalanya ditanggung Allah!’. Lalu berdirilah orang-orang yang mau memaafkan orang lain”.

Orang yang bersabar terhadap musibah jenis ini, maka Allah akan memberinya budi perkerti yang baik, dimana ia adalah pusat dari segala keutamaan dan tiang bagi semua kesempurnaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا شيء أثقل في الميزان من حسن الخلق وإن العبد ليبلغ بحسن الخلق درجة صاحب الصلاة والصيام

“Tidak akan sesuatu yang lebih memberatkan timbangan amal dari pada budi pekerti yang baik. Dan sesungguhnya seorang hamba akan sampai dengan budi pekerti yang baik kepada derajat orang yang melakukan shalat dan puasa”.

Rasulullah bersabda:

أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحسنكم خلقا

“Yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat tempat duduknya nanti di hari kiamat adalah kalian yang paling baik budi pekertinya”.

Ibnul Mubarok rahimahullah mengatakan: “Budi pekerti yang baik adalah wajah yang berseri, memberikan kebaikan dan menahan sakit”.

Imam Al-Ghozali nafa’anallahu bihi mengatakan: “Budi pekerti yang baik adalah sifat yang menancap dalam hati dan memunculkan perbuatan yang baik dengan mudah”.

Sabar yang keempat adalah sabar dari semua keinginan syahwat. Syahwat di sini ialah setiap sesuatu disukai hati, yang berupa kenikmatan-kenikmatan dunia yang bersifat mubah.

Kesabaran yang sempurna terhadap semua syahwat ini dapat dilakukan dengan menahan diri secara batin dari memikirkan apa-apa yang disenangi. Dan secara lahir dilakukan dengan menahan diri dari untuk mencari dan terjun ke dalamnya.

Kedabaran ini dapat dipacu dengan pengetahuan bahwa mencari apa-apa yang disenangi atau melakukannya mengakibatkan lupa kepada Allah, lalai dari melakukan ibadah kepadaNya, dan berakibat terjerumus dalam perkara syubhat dan perkara haram, serta munculnya keinginan yang besar akan kemewahan dunia dan timbulnya kenginan untuk hidup selamanya.

Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah mengatakan: “Meninggalkan satu syahwat lebih memberi manfaat kepada hati dari pada ibadah selama setahun. Barang siapa melanggengkan sabar terhadap keinginan dunia maka Allah akan memuliakannya dengan mengeluarkan cinta dunia dari hatinya”.

Hanya dari Allah segala pertolongan. Wallahu A’lam bis shawab.

Diterjemahkan dari kitab Risalatul Mu’awanah, karya Al-Habib Abdillah bin Alawi Al-Haddad 

Related

Akhlaq-Tashawuf 4024145314550964983

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

TERBARU

Langganan Via Email

Statistik Blog

item