Sayidah Maryam dan Hidangan Surga

“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, dari mana kamu mempe...

“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rizqi kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” – QS Ali Imran: 37.

Sayyidah Maryam, yang disebut-sebut dalam kisah Zakaria, adalah anak tunggal Imran, salah seorang pe­muka dan ulama Bani Israil. Ibunya, sau­dara ipar Nabi Zakariya, sejak bersuami­kan Imran, belum merasakan kebaha­gia­an memperoleh anak.

Sang ibu tentu merasa, hidup tanpa anak adalah sunyi dan membosankan. Ia sangat mendambakan keturunan, untuk menjadi pengikat yang kuat dalam kehidupan bersuami-istri, pelipur duka, dan pembawa suka dalam kehidupan keluarga. Saat melihat seorang ibu meng­andung bayinya atau burung mem­beri makan kepada anaknya, ia merasa iri hati dan itu terus menjadi kenangan yang tak kunjung lepas dari ingatannya.

Tahun demi tahun berlalu, usia ma­kin hari makin lanjut, namun keinginan tetap tinggal keinginan dan idam-idaman tetap tidak menjelma menjadi kenyata­an. Ber­bagai cara dicobanya dan ber­bagai na­sihat dan petunjuk orang di­terap­kannya, tapi belum juga membawa hasil. Dan se­telah segala daya upaya yang bersumber dari kepandaian dan ke­kuasaan manusia tidak membawa buah yang diharapkan, sadarlah istri Imran bahwa hanya Allah Yang Ber­kuasa me­menuhi keinginannya dan sang­gup mengaruniainya dengan seorang anak yang didambakan, walau­pun rambutnya sudah beruban dan usia­nya sudah lanjut.

Ia pun bertekad membulatkan ha­rap­an­nya hanya kepada Allah, bersujud siang dan malam, dengan penuh khusyu’ dan kerendahan hati, bernadzar dan ber­janji kepada Allah, bila permohonannya dikabulkan, ia akan menyerahkan dan menghibahkan anaknya ke Baitul Maq­dis untuk menjadi pelayan, penjaga, dan pe­melihara rumah suci itu dan sesekali tidak akan mengambil manfaat dari anak­nya untuk kepentingan dirinya atau kepen­ting­an keluarganya.

Tetap Yakin

Harapan istri Imran yang dibulatkan kepada Allah tentu tidak sia-sia. Allah me­nerima dan mengabulkan permohon­an­nya. Bahkan telah disuratkan dalam tak­dir-Nya bahwa suami-istri Imran akan menurunkan seorang nabi besar.

Maka tanda-tanda permulaan keha­mil­an yang dirasakan oleh setiap perem­puan yang mengandung tampak pada istri Imran, yang lama-kelamaan merasa gerakan janin di dalam perutnya yang makin membesar. Alangkah bahagia si istri yang sedang hamil itu, idam-idam­annya itu akan menjadi kenyataan dan kesunyian rumah tangganya akan terpe­cah ketika bayi yang dikandungkan itu lahir.

Ia bersama suami mulai merencana­kan apa yang akan diberikan kepada bayi yang akan datang itu. Jika mereka se­dang duduk berduaan, tak ada yang di­perbincangkan selain soal bayi yang akan dilahirkan. Suasana suram sedih yang selalu meliputi rumah tangga Imran ber­balik menjadi riang gembira, wajah se­pasang suami-istri itu menjadi berseri-seri, tanda suka cita dan bahagia dan rasa putus asa yang mencekam hati mereka berdua berbalik menjadi rasa penuh ha­rapan akan hari kemudian yang baik dan cemerlang.

Manusia merancang, Tuhan me­nen­­tu­kan. Demikian kata orang bijak. Imran, yang sangat dicintai dan disayangi oleh istrinya dan diharapkan akan me­nerima putra pertamanya serta mendam­pingi­nya di kala ia melahirkan, wafat, dan ting­gallah istrinya seorang diri dalam ke­adaan hamil tua.

Rasa sedih ditinggalkan oleh sang suami, bercampur dengan rasa sakit dan letih yang didahului kelahiran si bayi, menimpa istri Imran di saat-saat dekat­nya masa melahirkan.

Dan setelah segala persiapan untuk menyambut kedatangan bayi telah di­laku­kan dengan sempurna, lahirlah sang bayi dari kandungan ibunya dan meng­hirup udara bebas.

Namun agak kecewalah si ibu, janda Imran, setelah mengetahui bahwa bayi yang lahir itu adalah seorang putri, se­dangkan ia menanti seorang putra, yang telah dijanjikan dan dinadzarkan untuk dihibahkan kepada Baitul Maqdis.

Dengan suara lirih, berucaplah ia seraya menghadapkan wajahnya ke atas, “Wahai Tuhanku, aku telah me­lahir­kan seorang putri, sedangkan aku bernadzar akan menyerahkan seorang putra yang lebih layak menjadi pelayan dan pengu­rus Baitul Maqdis.” Tapi ia tetap yakin, Allah akan mendidik putrinya itu dengan pendidikan yang baik.

Menyediakan Segala Sesuatu

Tatkala bayi Maryam diserahkan oleh ibunya kepada pengurus Baitul Maqdis, para rahib berebutan, masing-masing ingin ditunjuk sebagai wali yang bertang­gung jawab atas pengawasan dan peme­liharaan Maryam.

Karena tidak ada yang mau meng­alah, terpaksalah diundi di antara me­reka, dan akhirnya undian jatuh kepada Nabi Zakariya AS.

Nabi Zakariya AS, bersama istrinya, kemudian memelihara bayi perempuan itu, Sayyidah Maryam, dengan penuh kasih sayang.

Tindakan pertama yang diambil Zakariya sebagai petugas yang diwajib­kan men­jaga keselamatan Maryam ialah men­jauhkannya dari keramaian seke­li­ling dan dari jangkauan para pengunjung yang tiada henti-hentinya berdatangan ingin melihat dan menjenguknya.

Maryam pun ditempatkan di sebuah kamar di atas atap Baitul Maqdis yang tinggi yang tidak dapat dicapai melain­kan dengan menggunakan sebuah tangga.

Zakariya merasa bangga dan baha­gia, beruntung memenangkan undian mem­peroleh tugas mengawasi dan memeli­hara Maryam. Ia mencurahkan cinta dan kasih sayangnya sepenuhnya kepada Maryam, sebagai ganti anak kandungnya yang tidak kunjung datang.

Tiap ada kesempatan, ia datang men­­jenguknya, melihat keadaannya, mengu­rus keperluannya, dan menye­dia­kan se­gala sesuatu yang membawa ke­tenang­an dan kegembiraan baginya. Tidak satu hari pun Zakariya pernah me­ninggalkan tu­gasnya menjenguk Mar­yam.

Dari Sisi Allah

Rasa cinta dan kasih sayang Zakariya terhadap Maryam sebagai anak saudara istrinya yang ditinggalkan ayahnya me­ningkat menjadi rasa hormat dan ta’zhim tatkala terjadi suatu peristiwa yang me­nandakan bahwa Maryam bukanlah gadis biasa sebagaimana gadis-gadis yang lain,  melainkan ia adalah wanita pilihan Allah untuk suatu kedudukan dan peranan besar di kemudian hari.

Ketika Maryam telah menjadi gadis re­maja, Zakariya membangunkan se­buah bangunan untuk Maryam berupa sebuah mihrab (kamar khusus) di dalam Baitul Maqdis. Kamar itu dimaksudkan sebagai tempat Maryam beribadah kepada Allah untuk menyempurnakan nadzar Han­nah, ibu Maryam, yang telah diputuskan atas dirinya.

Maka mulailah Maryam menempati kamar itu untuk beribadah kepada Allah, Yang Maha Esa. Siang hari ia berpuasa dan malamnya ia beribadah.

Zakariya membiarkan Maryam di ka­mar itu sendirian sampai tiba saatnya ke­tika ia harus mengirimkan makanan dan minuman untuknya.

Begitulah kehidupan yang berlaku atas diri Maryam hari demi hari.

Setiap datang ke kamar Maryam un­tuk membawakan makanan dan minum­an buat Maryam, Zakariya melihat seong­gok buah musim panas di waktu musim di­ngin, dan buah musim dingin di waktu mu­sim panas. Nabi Zakariya bertanya-tanya di dalam hatinya, dari mana da­tangnya buah-buahan musim panas itu, padahal mereka masih berada dalam musim dingin.

Ia tidak sabar menanti kemenakan­nya selesai bersembahyang, ia lalu men­dekatinya dan bertanya kepadanya, “Dari mana engkau peroleh (makanan) ini?”

Maryam menjawab, “Makanan ini da­tang dari sisi Alah. Ini adalah pemberian Allah yang aku dapat tanpa kucari dan aku minta. Di waktu pagi di kala matahari terbit, aku mendapati, rizqiku ini sudah ber­ada di depan mataku, demikian pula bila matahari terbenam di waktu senja. Mengapa Paman merasa heran dan takjub? Bukankah Allah berkuasa mem­berikan rizqi-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan?”

Kisah ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an, “Setiap Zakariya masuk untuk me­nemui Maryam di mihrab, ia dapati ma­kanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, dari mana kamu memper­oleh (makanan) ini?’

Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rizqi kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” – QS Ali Imran: 37.

Segala Jenis Buah-buahan

Tahun demi tahun berlalu. Datanglah masa paceklik menimpa Bani Israel. Ma­kanan dan minuman sulit didapat, sehing­ga tak sedikit penduduk yang kelaparan.

Keluarlah Nabi Zakariya menemui kaum­­nya dan berseru, “Hai Bani Israil, ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku sudah tua dan lemah untuk menang­gung anak perempuan Imran. Maka siapa­kah di antara kalian yang bersedia memelihara Maryam sepeninggalku, men­cukupi bagi­nya makanan dan mi­num­an sampai ia dapat menyelesaikan ibadahnya kepada Allah sebagaimana nadzar ibunya?”

Pengundian pun dilakukan dan jatuh pada seorang yang shalih, sepupu Mar­yam sendiri, seorang tukang kayu yang bernama Yusuf. Banyak pemberian Allah kepada Yusuf An-Najjar sebagai keber­kahan dan kemuliaan bagi Maryam dari Allah, Tuhannya. Dan setiap kali Yusuf datang ke kamar Maryam untuk mengirim makanan dan minuman, ia melihat di sisi Maryam sebagaimana yang dilihat Nabi Zakariya sebelumnya, yaitu karunia Allah kepada Maryam, berupa segala jenis buah-buahan segar.


Related

Kisah Para Rasul 835931861393194943

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item