Antara Waswas dan Mudah Tersinggung

Waswas adalah permainan syetan. Adalah Khonzab , syetan yang menggoda manusia ketika melakukan ibadah, seperti shalat. Kadang orang meng...


Waswas adalah permainan syetan. Adalah Khonzab, syetan yang menggoda manusia ketika melakukan ibadah, seperti shalat. Kadang orang mengira bahwa waswas adalah bagian dari khusyu'. Padahal tidak! Ia adalah aib dan sebuah kebodohan yang harus dientaskan. 

Waswas berbeda dengan syak (ragu). Ragu ialah munculnya dua anggapan yang sama-sama kuat, sehingga menimbulkan kebingungan, mana yang harus dipilih. Sedangkan waswas tidak semacam itu. Jika dikatakan 1 + 1 = 2, maka 2 adalah keyakinan. Dan jika hasil 2 ini masih diragukan, maka inilah yang dinamakan waswas akibat kebodohan dan permainan syetan. 

Sebut saja Sariman, seorang yang berkarakter mudah tersinggung, walaupun belum jelas apa yang membuatnya tersinggung. Suatu ketika ia didapuk menjadi imam dalam sebuah jamaah shalat fardlu. Di belakangnya, di antara deretan makmum, Sarimin dengan baju hampir basah kuyup, lantaran wudlunya hampir menghabiskan air di jeding masjid, tengah bersiap-siap untuk bermakmum. Tangannya kaku, badannya tegap, seperti tentara yang sedang "siap grak". 

"Allohu Akbar", Sariman melakukan takbiratul ihram, diikuti oleh para makmum. Sementara itu, Sarimin mulai melafalkan niat dengan suara agak keras, dengan tujuan mampu menghilangkan penyakit waswas yang ia derita.

"Ushalli…. Ushalli…. Ushalli…..!" Begitu lafal niat Sarimin, seakan tidak pernah selesai.

Akhirnya, "Ushalli fardlal maghribi tsalatsa rakaatin makmuman….. makmuman…. Makmuman…. Makmuuuuuuman…..!".

Tanpa disangka sebelumya, Sariman yang hendak membaca fatihah, berteriak sekuat tenaga. Bukannya basmalah yang ia ucapkan, tetapi sebuah ucapan yang membuat geger seluruh isi masjid. "BAPAKMU MIIIIIIIIIIN!"….. Sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sarimin, yang tidak mengerti apa yang tengah terjadi. 

Related

Anekdot 7684280940158988960

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

TERBARU

Arsip

Statistik Blog

item