Kaya yang Bersyukur dan Fakir yang Bersabar

Mana yang lebih utama antara fakir yang sabar dan bersyukur dengan orang kaya yang bersyukur dan sabar?. Ada perbedaan pendapat ulama ...


Mana yang lebih utama antara fakir yang sabar dan bersyukur dengan orang kaya yang bersyukur dan sabar?. Ada perbedaan pendapat ulama yang berbeda dalam masalah ini. Segolongan ulama mengatakan bahwa kaya yang sabar dan bersyukur adalah lebih utama. Mereka beralasan karena kekayaan adalah kekuatan, sedangkan fakir adalah ketidakmampuan dan tentu saja kekuatan lebih utama dari pada ketidakmampuan. Lagi pula orang kaya mempunyai kesempatan dan ruang yang lebih banyak dari pada orang fakir, dalam memperbanyak amal ibadah kepada Allah. Dengan harta yang dimiliki, orang kaya mampu memberikan manfaat yang luas kepada orang lain. Sementara itu, orang fakir seakan tidak mampu berbuat lebih, kecuali hanya dengan ketaqwaan dan kesabarannya. 

Rasa syukur yang timbul dari orang kaya juga lebih banyak, seiring banyak dan besarnya nikmat-nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Rasa syukur orang kaya juga lebih mantap dibanding syukur orang fakir. Ketika diperbanding-kan antara ucapan ‘alhamdulillah’ misalnya, yang keluar dari mulut orang kaya, saat ia terlentang di atas kasur yang empuk, dengan ucapan ‘alhamdulillah’ yang keluar dari orang fakir yang terlentang hanya di atas tikar yang lusuh, maka dapat dibayangkan bagaimana kemantapan ucapan masing-masing. 

Dalam urusan sabar, orang kaya dituntut lebih dari pada orang fakir. Kekayaan yang dimiliki memberikan peluang yang sangat lebar baginya dalam melakukan perbuatan durhaka kepada Allah. Ketika dikatakan bahwa neraka dilingkupi hal-hal yang menyenangkan, maka orang kaya dituntut ekstra sabar dalam menolak ajakan hawa nafsu terhadap hal-hal yang menyenangkan yang selalu tersaji di hadapannya. Apalagi ia dituntut berzuhud di tengah limpahan kekayaan dunia. Hal ini tentu tidak terjadi dalam diri orang fakir.

Pendapat kedua mengatakan bahwa orang fakir yang sabar dan bersyukur lebih utama dari semuanya. Begitu pendapat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani radliyallahu ‘anhu. Alasannya karena meninggalkan dunia dan kenikmatannya adalah lebih utama. Al-Mawardi mengatakan bahwa pendapat ini keluar dari orang-orang yang ingin mencari keselamatan. Dan keselamatan tidak akan ada yang dapat menandinginya. 

Ketika kita memikirkan dan memperhatikan sejarah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau adalah seorang yang fakir. Hari-hari beliau, sering dilalui dengan perut yang lapar, hingga pada saat penggalian parit Madinah dalam menangkal serangan pasukan Mekah yang dibantu sekelompok Yahudi dan suku-suku di Arab yang lain, beliau melilitkan batu-batu di perut beliau, untuk lebih menegakkan badan di saat beliau berdiri dalam kelaparan.

Bagaimana Rasulullah selalu berpaling dari dunia dan meninggalkan kenikmatannya, di saat kunci tempat penyimpanan dunia dan isinya berada di tangan beliau. Dari ini diketahui, bahwa kefakiran beliau adalah sebuah pilihan bukan sebuah keterpaksaan, yang memberikan kesimpulan bahwa pada hakikatnya fakir adalah lebih utama. Di akhirat nanti orang fakir diselamatkan dari beratnya perhitungan amal (hisab), dan ia mendahului orang yang kaya sejauh 500 tahun perjalanan. 

Banyaknya hadits yang memuji kefakiran dan perilaku berpaling dari dunia adalah bukti kuat bahwa fakir yang sabar dan bersyukur adalah lebih utama dari pada yang lain. 

Wallahu a’lam bish shawab.

Related

Khazanah 7444335796524769340

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item