Al-Ma’mun Raja Abbasiyah Pembawa Kejayaan Islam (1)

Inilah salah satu khalifah dinasti Abbasiyah yang sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Pada saat pemerintahannya Dinasti Abbasiyah y...


Inilah salah satu khalifah dinasti Abbasiyah yang sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Pada saat pemerintahannya Dinasti Abbasiyah yang beribukota di Bagdad mencapai puncak kejayaan, meneruskan kejayaan yang telah ditorehkan oleh ayahnya, Harun Ar-Rasyid. Ia dikenal sebagai khalifah yang dianugerahi intelektualitas yang cemerlang dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.

Al-Ma’mun adalah julukan dari Abdullah bin Harun Ar-Rasyid, khalifah ke-7 dinasti Abbasiyah, menggantikan saudara kandungnya, Al-Amin melalui proses yang berliku. Ia lahir pada tahun 170 H/786 M, meninggal saat mengunjungi Damaskus, dan dimakamkan di Tartus sebelah utara Syam (sekarang masuk wilayah Turki) pada tahun 218 H/833 M.

Proses Pergantian Kepemimpinan
Al-Ma’mun lahir saat ayahnya diangkat menjadi khalifah. Ibunya berkebangsaan Persia yang bernama Murajil. Ia wafat saat menjalani masa nifas setelah kelahiran al-Ma’mun. Pada usia 13 tahun ayahnya mengangkatnya sebagai gubernur di Khurasan setelah mengangkat terlebih dahulu adiknya, yaitu Al-Amin, sebagai Khalifah. Di Khurasan ini, Al-Ma’mun diberi kekuasaan penuh seolah merdeka dari kekuasaan Al-Amin di Baghdad. Pada tahun 186 H, Harun Ar-Rasyid mengajak Al-Ma’mun dan semua anak-anaknya ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Di sana Harun Ar-Rasyid menetapkan perjanjian untuk Al-Amin dan Al-Ma’mun yang digantungkan di Ka’bah. Dalam perjanjian itu, Al-Amin diminta untuk tidak mengganggu kekuasaan al-Ma’mun di Khurasan dan tidak ikut campur di dalam pemerintahannya.

Setelah Ar-Rasyid Wafat pada tahun 809 M di Thus, mulailah ketegangan diantara keduanya. Ketegangan bermula ketika al-Amin mulai melanggar perjanjian yang ditetapkan ayahnya. Al-Amin memandang dirinya sebagai khalifah yang mempunyai kekuasaan terhadap semua wilayah, termasuk di Khurasan, demi menjaga disintegrasi negara. Ketegangan semakin parah ketika orang-orang yang tidak bertanggungjawab memberikan bisikan kepada kedua saudara yang sebelumnya selalu bersama itu untuk saling mempertahankan pendapat masing-masing. Di kubu Al-Amin ada Al-Fadhl bin Rabi’ dan di kubu Al-Ma’mun ada Al-Fadl bin Sahal.

Setelah beberapa kali Al-Amin berkirim surat kepada Al-Ma’mun untuk memberinya jalan memantau Khurasan, dan Al-Ma’mun tetap dalam pendiriannya, Al-Amin lalu mencopot kekuasaan Al-Ma’mun dan menggantikannya kepada anaknya, yaitu Musa An-Nathiq. Kemudian ia memerintahkan seseorang untuk mencuri lembar perjanjian yang digantung di dinding Ka’bah dan membakarnya.

Pada saat yang sama, Al-Ma’mun mulai memperkuat pasukannya bersiap-siap untuk menyongsong penyerangan al-Amin dari Bagdad. Jenderal pasukan dipercayakan kepada Thahir bin Husein dan Hartamah bin A’yun. Sementara itu al-Amin mengirimkan pasukan besar sejumlah puluhan ribu tentara dipimpin oleh Ali bin Isa bin Mahan seorang menteri yang semasa pemerintahan Harun Ar-Rasyid ia menjadi Gubernur di Khurasan. Di daerah Ray pasukan Ali bin Isa bertemu pasukan Thahir. Pertempuran terjadi dan pasukan Thahir yang hanya berjumlah 4000 tentara berhasil memukul mundur pasukan Ali bin Mahan. Dalam pertempuran ini, Ali bin Mahan tewas.

Tidak selang beberapa lama, Al-Amin mengirimkan pasukan dengan jumlah yang tidak kalah besar dengan pasukan sebelumnya. Tetapi akhir petempuran, pasukan Al-Amin kembali berhasil dipukul mundur. Kemudian pasukan Al-Ma’mun bergerak menuju Bagdad. Pasukan yang dipimpin Thahir bin Husein menyerang Bagdad dari arah barat, sementara pasukan yang dipimpin Hartamah menyerang dari arah timur. Inilah perang saudara pertama di Bagdad sejak dideklarasikannya dinasti Abbasiyah. Dalam penyerangan ini, tentara regular pasukan Al-Amin terasa tidak begitu kuat menahan kekuatan pasukan Al-Ma’mun. Melihat kenyataan ini, Al-Amin memerintahkan untuk membebaskan kelompok Ayyarin dari penjara untuk membantu mempertahankan Bagdad. Kelompok Ayyarin adalah kelompok yang menyerupai tentara regular yang pada kesehariannya, mereka berprofesi sebagai perampok, pembegal dan pengacau keamanan. Kelompok Ayyarin yang dipersiapkan Al-Amin berjumlah lebih dari 100.000 orang. Mereka bertempur tanpa alas kaki, bertelanjang dada dan bersenjatakan batu, tanpa pedang dan tameng. Mereka adalah pasukan berani mati, buas dan brutal, hingga Thahir bin Husein mengatakan bahwa mereka bukan manusia.

Korban dari pasukan Al-Makmun yang didominasi oleh warga Khurasan mulai banyak yang berjatuhan. Akan tetapi keputusan al-Amin mengikutsertakan kelompok Ayyarin dalam mempertahankan Bagdad harus dibayar mahal. Biaya kebutuhan untuk kelompok Ayyarin begitu besar, hingga dia harus meminta kepada orang-orang kaya dan para pedagang. Akibatnya kebutuhan pangan semakin berkurang, disamping disebabkan blokade pasukan Al-Ma’mun terhadap akses keluar Bagdad. Pada akhirnya pasukan Ayyarin dapat dihancurkan. Sisa-sisa mereka lari menyembunyikan diri.

Istana Al-Manshur mulai terkepung. Namun al-Amin dan beberapa pengikutnya berhasil melarikan diri dan mencoba menyeberang sugai Tigris dengan perahu kecil. Tetapi perahu itu terbalik setelah menabrak batu, dan ia berhasil menuju tepi. Selanjutnya ia ditahan pasukan al-Ma’mun yang dipimpin Thahir, lalu dibunuh atas perintah Thahir.

Bersambung

Related

Sejarah Umum 6016102542877598241

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

Facebook

TERBARU

Arsip

Statistik Blog

item