Perhatikan Urusan Dunia!

Allah SWT menciptakan manusia dengan pengawasan dan kekuasaanNya. Diantara kelembutan pengawasan dan keindahan kekuasaanNya, Dia mencip...


Allah SWT menciptakan manusia dengan pengawasan dan kekuasaanNya. Diantara kelembutan pengawasan dan keindahan kekuasaanNya, Dia menciptakan makhluk sebagai makhluk yang saling membutuhkan dan sebagai makhluk yang lemah, agar tampak bagi mereka, bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Kaya, lagi Berkuasa. Dengan kekuasaan Allah itu, kita akan mengakui bahwa Dialah yang menciptakan dan dengan kekayaannya, kita akan merasakan bahwa Dialah yang member rizki, hingga kita akan mampu tunduk dalam taat dan mengakui kekurangan kita.

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang lebih membutuhkan dari segala jenis hewan yang ada. Maka sifat saling membutuhkan, adalah karakter yang tidak akan pernah lepas dari manusia. Allah SWT berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

"Manusia diciptakan sebagai makhluk yang lemah". (QS. An-Nisa: 28)

Lemah disini adalah ketidakmampuan manusia bersabar dari apa yang ia butuhkan dan memikul berat apa yang tidak dapat ia lakukan.

Ketika manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling membutuhkan diantara makhluk-makhluk yang lain, maka ia tampak sebagai makhluk yang paling lemah. Penciptaan Allah terhadap manusia seperti ini, bukan merupakan bentuk ketidakadilan Allah. Justeru hal ini merupakan bentuk kenikmatan dan kasih sayang Allah kepada manusia. Dengan kelemahan dan sifat membutuhkan inilah manusia akan tercegah dari perbuatan jahat karena sekelumit kekayaan yang diraih dan perbuatan keji karena sedikit kekuasaan yang dimiliki.

Namun demikian, bukan berarti Allah membiarkan manusia di atas kelemahan dan sifat membutuhkan yang dimilikinya. Allah juga menciptakan dan membuka selebar-lebarnya sarana-sarana untuk manusia, agar mereka dapat memperoleh segala apa yang dibutuhkan dan menutupi sifat lemah yang Allah berikan. Sarana-sarana itu dapat diperoleh manusia dengan petunjuk akal. Dengan akal ini manusia akan mampu mengumpulkan dan melakukan sarana-sarana untuk memperoleh apa yang dibutuhkan sebanyak-banyaknya dan mendapatkan kekuasaan setinggi-tingginya. Tetapi, perolehan dan pendapatan itu terikat dengan limit yang ditaqdirkan Allah, yang berfungsi agar manusia tidak bersandar pada akalnya di dalam memperoleh rizki dan tidak mengandalkan kecerdasan untuk membawa diri lepas dari ketidakmampuan.

Terkadang makna yang tersimpan di balik penciptaan merupakan hal yang samar bagi sebagian orang, hingga hal ini menjadi penyebab dirinya tergelincir dari rel-rel yang ditetapkan. Sebenarnya jika ia mau berpikir dan berprasangka baik, ia akan mengetahui ada banyak kebaikan dibalik hal-hal yang menyakitkan, hingga mampu mengantarkan dirinya tunduk dalam ketaqwaan. Sebab, tidak semua kebaikan terlihat jelas, ada diantaranya yang tersembunyi dan akan menjadi hikmah seusai musibah yang menimpa badan. Berbaik sangkalah kepada Allah, karena hal itu salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Begitu Rasulullah SAW menyatakan.

Di dunia ini, Allah berikan sarana-sarana itu, dimana dunia dijadikan Allah sebagai tempat untuk mengamalkan hukum-hukumNya, sebagaimana akhirat Ia ciptakan sebagai tempat pembalasan amal. Oleh sebab itu, seharusnya manusia mengarahkan dunia untuk kepentingan akhirat. Pernyataan ini tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. karena yang dimaksud disini ialah usaha untuk meninggalkan kebutuhan dunia yang terlepas dari kebutuhan primer dan mensucikan diri dari cinta dunia. Benci dunia itu tercela. Cinta dunia sumber malapetaka. Allah SAW berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap". (QS. All-Insyirah: 7-8)

Ulama Ahlut Ta'wil mengatakan: "Jika telah selesai urusan duniamu, maka tegakkan badan untuk beribadah kepada Allah"

Selaras dengan ayat ini, hadits Nabi SAW:

لَيْسَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا لِلْآخِرَةِ وَلَا الْآخِرَةَ لِلدُّنْيَا , وَلَكِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَخَذَ مِنْ هَذِهِ وَهَذِهِ

"Bukan sebaik-baik kalian, orang yang meninggalkan dunia untuk akhirat atau meninggalkan akhirat untuk dunia. Tetapi sebaik-baik kalian ialah orang yang mengambil bagian untuk dunia dan bagian untuk akhirat".

Wallahu A'lam Bish Shawab

Related

Akhlaq-Tashawuf 8763458730089586300

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item