Hukum Tawassul KAFIR ?

Allah SWT berfirman: مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya me...

Allah SWT berfirman:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". (QS. Az Zumar : 3)

Ayat ini adalah ayat yang dijadikan dalil sekelompok orang untuk memperkuat kehendak dan pemahaman batil mereka. Berdasartkan ayat tersebut Mereka bersepakat menyimpulkan bahwa melakukan tawasul dengan Rasulullah SAW, para wali dan orang-orang yang sholeh, melakukan tabarruk kepada mereka atau peninggalan-peninggalan mereka, dan mengagungkan mereka, adalah bentuk ibadah kepada mereka dan sama dengan perbuatan orang-orang musyrik ketika menyembal berhala. Kelompok itu tidak mau membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta tidak mau memahami bahwa Allah hanya membenci (ingkar) kepada orang-orang musyrik dalam menyembah berhala, menjadikannya Tuhan selain Allah, dan menyekutukanNya karena menyembah berhala-berhala sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kekufuran orang-orang musyrik dalam hal ini dipandang dari penyembahan mereka kepada berhala dan keyakinan (i'tiqad) bahwa berhala-berhala itu adalah tuhan-tuhan. Bukan dipandang dari tawasul dan ucapan mereka bahwa mereka menyembah berhala sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Perlu diketahui bahwa bagian akhir dari ayat ini memberikan kesaksian bahwa orang-orang musyrik itu tidak berkata dengan sebenarnya. Jika mereka berkata benar maka derajat Allah dimata mereka tentu lebih tinggi dari pada berhala-berhala itu. Sesudah ayat ini Allah menjelaskan ketidak benaran ucapan mereka. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
"Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.". (QS. Az Zumar: 3)

Abdur Razzaq, Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abu Abdillah bin Abdul Wahhab meriwayatkan dari Qatadah RA, dia berkata bahwa umat islam mencaci berhala-berhala kaum kafir dan (sebaliknya) kaum kafir mencaci Allah SWT. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan". (QS. Al An'am: 108)

Ayat ini melarang keras orang-orang mukmin berkata buruk tentang batu yang disembah orang-orang kafir di Mekah. Karena perkatan seperti itu akan menyebabkan kemarahan orang-orang kafir Mekah yang dengan ketulian hati, mereka menganggap batu-batu itu memberi manfaat. Jika marah, mereka akan membalas memaki dan mencela Allah. Merekapun menisbatkan hal-hal buruk kepada Allah. Nah, jika ucapan mereka benar bahwa penyembahan mereka kepada berhala dalah upaya mendekatkan diri kepada Allah, tentu mereka tidak akan berani mencaci Allah sebagai balasan akan cacian yang dilontarkan untuk tuhan-tuhan mereka. Maka dengan ini sangat jelas bahwa Allah SWT di ruang hati mereka lebih kecil dari batu-batu itu.

Orang-orang kafir itu juga berbohong, ketika mereka berkata seperti yang difirmankan Allah :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
"Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". (QS. Luqman: 25)

Jika mereka benar-benar bahwa Allah adalah satu-satunya dzat yang menciptakan dan berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa, maka tentu mereka akan menyembah Allah satu-satunya. Atau paling tidak pengagungan mereka kepada Allah berada di atas pengagungan mereka kepada batu-batu tersebut. Di saat mereka mencaci Allah karena berhala-berhala mereka dicaci, adakah ucapan mereka benar dalam ayat tersebut? Sekilas kesimpulan adalah tidak benar.

Penjelasan Allah SWT tentang lebih rendahnya derajat Allah dimata orang-orang musyrik dari pada berhala-berhala mereka bukan hanya terdapat dalam surat Az Zumar ayat 3 ini saja. Banyak ayat-ayat yang serupa!. Diantaranya adalah firman Allah:
وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang Telah diciptakan Allah, lalu mereka Berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan Ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, Maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. amat buruklah ketetapan mereka itu". (QS. Al An'am: 136)

Seandainya Allah di mata orang-orang musyrik tidak lebih rendah derajatnya dari pada berhala-berhala tentu mereka tidak lebih mengunggulkan berhala-berhala mereka dari pada Allah, hingga Allah berfirman "amat buruklah ketetapan mereka itu".

Dalam riwayat Al-Bukhari diceritakan tentang Abu Sufyan (sebelum masuk Islam) yang berkata: "Kalahkanlah (Allah) wahai Hubal". Ia memanggil berhala yang diberi nama Hubal agar mengalahkan Allah Tuhan pencipta langit dan bumi supaya ia dan tentaranya mampu mengalahkan tentara-tentara Islam yang hendak menghancurkan berhala-berhala mereka. Inilah bukti kadar kecintaan mereka kepada berhala-berhala mereka dari pada Allah SWT.

Ketahuilah dengan sebenar-benarnya bahwa, banyak orang yang tidak memahami ayat sebagaimana pemahaman tadi dan berkesimpulan dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri. Seandainya orang-orang musyrik itu berkata: "Kami hanya menyembah Allah, tidak menyembah berhala, tetapi kami mempunyai keyakinan bahwa berhala-berhala itu dekat kepada Allah dan kami hanya menyembah Allah di dekat berhala-berhala itu tanpa ada keyakinan memusyrikkan Allah. Dan kami hanya berharap barokah berhala-berhala itu supaya Allah menerima ibadah dan doa kami atau lebih mendekatkan kami kepadaNya", atau mereka berkata, "Kami hanya menjadikan berhala-berhala itu sebagai kiblat dan ibadah kami murni hanya kepada Allah", maka tentu apa yang mereka lakukan tidak membuat mereka musyrik dan kafir. Mereka hanya pantas disebut sebagai orang-orang yang bodoh akibat menerjang perkara-perkara haram, karena meyakini berhala dekat kepada Allah atau menjadikannya kiblat tanpa ada perintah dari Allah SWT. Sekali lagi dengan perbuatan itu mereka tidak bisa disebut kafir, seperti halnya seorang mukmin yang melakukan adzan di gereja atau melakukan shalat di sana.

Allah memerintahkan orang-orang mukmin menghadap Ka'bah dalam shalat, bukan menyembahnya. Mencium hajar aswad adalah ibadah kepada Allah dan iqtida' kepada Rasulullah SAW. Jika seorang mukmin niat ibadah kepada Ka'bah atau hajar aswad, maka ia menjadi musyrik seperti para penyembah berhala. Hukum pekerjaan tergantung niat sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

Menundukkan badan untuk mencium hajar aswad atau saat nabi meletakkan dahi di atasnya, tidak bisa disebut sujud kepadanya, sebagaimana anggapan sebuah kelompok bahwa mencium tangan para wali adalah sujud kepada mereka. Diriwayatkan bahwa, Abdullah bin Abbas RA hendak menuntun onta tunggangan Zaid bin Tsabit RA –salah seorang ulama sahabat--. Zaid mencegahnya karena menghormati Abdullah bin Abbas sebagai kerabat Rasulullah SAW. Abdullah bin Abbas berkata: "Beginilah perlakukan yang diperintahkan kepada kami dalam menghormati para ulama". Lalu Zaid bin Tsabit memegang tangan Abdullah bin Abbas lalu menciumnya, dan berkata: "Beginilah perlakuan yang diperintahkan kepada kami untuk (menghormati) ahli bait Nabi SAW". Adakah menundukan badan yang dilakukan Zaid untuk mencium tangan Abdullah bin Abbas disebut sujud?.

Riwayat ini juga merupakan dalil bahwa kedua Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas diperintah untuk menghormati orang lain, dan menghormati para sholihin dan mencium tangan mereka adalah sesuatu yang disyariatkan (masyru').

Maka, tawassul kepada Allah dengan para ulama dan shalihin bukan perbuatan syirik. Mencintai mereka karena Allah dan dalam ridlo Allah bukan perbuatan kufur. Jangan samakan makna ibadah dan tawasul dengan menggunakan definisi yang jernih, bebas dari kebencian dan kecenderungan kelompok. Wallahu A'lam bish Shawab.


Sumber: Huwa Allah, karya Sayid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani

Related

Aqidah 2933517964487050216

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item