Dalil Tradisi Bubur Suro

Pertanyaan Tradisi yang terjadi dalam masyarakat muslim terutama Jawa dan Madura adalah saling berbagi bubur Suro antara saudara dan ...


Pertanyaan
Tradisi yang terjadi dalam masyarakat muslim terutama Jawa dan Madura adalah saling berbagi bubur Suro antara saudara dan tetangga pada bulan Muharram, terutama pada tanggal 10. Apakah tradisi ini ada dalilnya?

Abu Amar. abuamar8879@xxxx.xxx

Jawaban:
Tradisi ini ada dalilnya. Saling berbagi bubur suro ini termasuk bagian dari Shadaqah dan juga bagian dari tausi’ah (memberi nafaqah lebih) kepada keluarga yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada hari tanggal 10 Muharram (asyura). Dalam riwayat At-Thabarani dan al-Baihaqi, dari Abi Sa’id al-Khudzriy, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ سَنَتِهِ كُلِّهَا. (حديث صحيح رواه الطبرانى، والبيهقى).

“Barang siapa berbuat tausi’ah (memberi nafqah lebih) kepada keluarganya di hari asyura, maka Allah akan memberinya keleluasaan selama setahunnya”. Hadist shahih riwayar At-Thabarani dan al-Baihaqi)

Dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin bahwa barang siapa bershadaqah di hari Asyura maka seolah-olah dia tidak pernah menolak peminta-minta.

Dalam hamisy I’anah dijelaskan tentang sebuah kisah nabi Nuh yang dapat dijadikan dasar sejarah berlakunya tradisi bubur suro. Tradisi ini bahkan dinyatakan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari. Dijelaskan bahwa hari Asyura adalah hari dimana nabi Nuh turun dari perahu yang telah menyelamatkan beliau dari banjir yang melanda dunia yang memusnahkan seluruh makhluk, kecuali penumpang perahu nabi Nuh.

Ketika nabi Nuh dan makhluk yang bersama beliau turun dari perahu, mereka merasakah lapar, padahal perbekalan sudah kosong. Lalu Nabi Nuh memerintahkan mereka untuk mengambil sisa bekal. Diantara mereka ada yang membawa gandum dan ada yang membawa kacang dan lain-lain, hingga mencapai tujuh macam biji-bijian. Lalu nabi Nuh memasaknya, kemudian makan bersama-sama hingga mereka merasakan kenyang berkat barokah doa nabi Nuh, sesuai firman Allah:

قيل يا نوح اهبط بسلام منا وبركات عليك وعلى أمم ممن معك

“Dikatakan; wahai Nuh. Turunlah dengan salam dari kami dan barakah atasmu dan atas umat-umat yang bersamamu”.

Kejadian ini adalah peristiwa pemasakan makanan di atas muka bumi setelah terjadinya banjir. Dari kejadian ini masyarakat menjadikannya sebagai “sunnah” di hari Asyura. Dan pahala yang besar bagi mereka yang melakukannya dan memberikannya kepada fakir miskin.

Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar bahan yang dimasak pada hari Asyura adalah gandum, beras, daging hewan yang berjalan, kedelai, buncis, kacang panjang, dan kacang brol.
Bubur yang akan dihidangkan dibacakan:

سبحان الله ملء الميزان، ومنتهى العلم، ومبلغ الرضا، وزنة العرش ، والحمد لله ملء الميزان ومنتهى العلم ، ومبلغ الرضا، وزنة العرش ، والله أكبر ملء الميزان، ومنتهى العلم، ومبلغ الرضا وزنة العرش، لا ملجا ، ولا منجى من الله إلا إليه سبحان الله عدد الشفع والوتر، وعدد كلمات الله التامات كلها ، والحمد لله عدد الشفع والوتر، وعدد كلمات الله التامات كلها ، والله أكبر عدد الشفع والوتر، وعدد كلمات الله التامات كلها ، أسألك رب العالمين.

Referensi:
I’anatut Thalibin 2/302 Maktabah Syamilah


Related

Bahtsul Masail 3436041239453377311

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item