Wahsyi bin Harb; Mengakhiri Hidup Si Nabi Palsu (2-Habis)

Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala, para muslimin sepakat membaiat sayyidina Abu Baka...


Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala, para muslimin sepakat membaiat sayyidina Abu Bakar As-Shidiq menggantikan kedudukan Rasulullah. Kepergian Rasulullah menyisakan kesedihan yang sangat mendalam dalam dada para sahabat. Namun bagi mereka yang tidak beriman, kepergian beliau adalah sebuah kabar gembira yang akan memberikan jalan lapang untuk memenuhi keinginan nafsu mereka. Orang-orang murtad pun bermunculan, para pembangkang mulai menampakkan eksistensinya dan nabi-nabi palsu semakin berani menampakkan diri dan menyebarkan ajaran-ajaran sesat mereka.

Berpusat di Yamamah, nabi palsu, Musailamah Al-Kadzab menyebarkan ajarannya. Pengaruhnya yang besar, membuat pengikutnya mencapai puluhan ribu orang. Untuk menumpas Musailamah Abu Bakar menugaskan Khalid bin Walid setelah sebelumnya berhasil menumpas kaum murtadin Bani Tamim. Dengan kekuatan 11.000 prajurit, Khalid bin Walid bergerak menuju Yamamah dibantu oleh Sarahbil bin Hasanah dan Ikrimah bin Abu jahal. Ikut dalam pasukan Khalid, sang pembunuh Hamzah, Abu Dasimah Wahsyi bin Harb. Dengan lembing yang dulunya ia gunakan membuh Hamzah, ia bertekat menebus kesalahan masa lalu dengan ikut perperang menumpas Musailamah dan pengikutnya.

Setelah sebelumnya diberi peringatan untuk kembali ke jalan yang benar, dan penduduk suku Bani Hanifah sebagai pengikut Musailamah tetap dalam pendiriannya, Khalid bin Walid mulai melakukan penyerangan. Muslaimah telah menyiapkan benteng yang kokoh dan kekuatan tentara sebanyak 100.000 orang prajurit. Kekuatan yang sangat besar yang didukung dengan puluhan ahli strategi perang dan persenjataan yang lengkap membuat Muslaimah semakin angkuh.

Pertempuran di mulai. Tiga kali pasukan muslimin harus mundur hingga mengakibatkan ratusan tentara syahid yang diataranya terdapat para penghafal al-Quran. Setelah Khalid bin Walid melakukan transposisi pasukan dengan mengelompokkan mereka sesuai suku dan kabilah masing-masing, pasukan muslimin atas pertolongan Allah berhasil menguasai jalannya peperangan, kemudian berhasil memukul mundur pasukan musuh. Musailamah al-Kadzab lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Sejumlah sahabat mengejarnya, termasuk Wahsyi bin Harb. Pada posisi yang strategis, Wahsyi mempersiapkan lembingnya. Ketika sudah siap, ia segera melemparkan lembingnya ke arah Musailamah yang masih menghunus pedangnya. Lembing Wahsyi berhasil menembus tubuh Musailamah. Pada saat yang sama, seorang Anshar menghampiri tubuh Musailamah, lalu menyabetnya dengan pedang. Musailamah tersungkur tewas bermandikan darah. Wahsyi berkata: “Allah maha tahu, siapa yang sebenarnya membunuh Musailamah. Jika aku yang berhasil membunuhnya, maka aku telah membunuh sebaik-baik manusia sesudah Rasulullah dan juga membunuh sejelek-jelek manusia”.

Salman bin Yasar dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Saya mendengar teriakan saat perang Yamamah; ‘Budak hitam itu telah membunuhnya!’.” Sementara menurut penuturan A’idz bin Yahya dari Muhammad bin Umar, Wahsyi dan Abdullah bin Zaid al-Anshari yang telah membunuhnya bersama-sama.

Saat kaum muslimin mengadakan ekspansi ke Syam, Wahsyi juga turut serta hingga ia memutuskan untuk menetap di Homs, Suriah sampai wafat. Ia dimakamkan di sana berdampingan dengan makam Tsauban pembantu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Masjid yang didirikan dekat makamnya terkenal dengan nama Masjid Jami’ Wahsyi Tsauban. Namun saat ini, kondisi masjid ini hancur akibat ulah pemberontak.

رضي الله عنه وعن سائر الصحابة أجمعين .


Related

Sejarah Umum 1152854635406450932

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item