Sabar: Sendi dari Segala Sesuatu (1)


Kebahagian dan keselamatan (sa’adah) baik di dunia dan akhirat tidak akan di dapat oleh seseorang tanpa diperolehnya kedekatan diri dan jiwanya (taqarrub) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kedekatan kepada Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan mengikuti jalan kebenaran dan menghindarkan diri dari jurang kebatilan.

Sementara itu, manusia diciptakan dengan karakter yang tidak menyukai kebenaran dan cenderung menyenangi kebatilan.

Maka, untuk mendapatkan kebahagian dan keselamatan dunia akhirat, seseorang dituntut mempunyai sifat sabar. Sabar di dalam mendorong dirinya untuk mengikuti jalan kebenaran, dan sabar di dalam memaksakan dirinya menjauh dari kebatilan.

Sabar adalah sendi dan tiang terpenting dari segala sesuatu. Ia adalah salah satu tingkatan derajat dalam tingkatan-tingkatan derajat agama. Ia adalah salah satu rumah dari rumah-rumah orang-orang yang menelusuri jalan menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Sabar yang diungkapkan bagi bertahannya pendorong agama melawan pendorong nafsu, adalah bagian dari akhlak-akhlak yang mulia dan keutamaan-keutamaan yang agung.

Tentang keutamaan dan kedudukan sabar, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Memohonlah pertolongan dengan menggunakan kesabaran dan shalat. Karena sesungguhnya rahmat Allah bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar adalah akhlak karimah yang menjadi sifat bagi para pemimpin ummat. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا

Artinya: “Dan Kami menjadikan dari mereka, para pemimpin yang menunjukkan kepada perintah kami, ketika mereka bersabar”. (QS. As-Sajadah: 24)

Dan tentang pahala besar yang diberikan Allah bagi orang yang sabar, Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Hanyalah orang-orang yang sabar yang diberikan pahala tanpa hisab”. (QS. Az-Zumar: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصبر أمير جنود المؤمن

Artinya: “Sabar adalah panglima para tentara orang yang beriman”.

Dalam sebuah wasiat beliau kepada Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

واعلم أن النصر مع الصبر وأن الفرج مع الكرب وأن مع العسر يسرا

Artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya kemenangan bersama sifat sabar, kebahagiaan bersama musibah, dan kesulitan bersama kemudahan”.

Sabar dibagi menjadi empat. Sabar dalam taat dan ibadah, sabar dari maksiat, sabar dari musibah dan sabar dari keinginan-keinginan nafsu.

Sabar dalam menjalankan taat dan ibadah secara batin dapat memunculkan sifat ikhlas dan kekhusyuan dalam melakukan taat dan ibadah tersebut. Sedangkan secara lahir, sabar membuat seseorang berupaya untuk selalu beribadah dan membiasakannya dan sabar dapat menumbuhkan semangat dan berupaya melakukan taat dan ibadah sesuai apa menjadi ketentuan syariah.

Sabar seperti ini dapat peroleh dan dibangkitkan dengan mengingat-ingat janji yang diberikan Allah bagi perbuatan taat, berupa pahala di dunia atau di akhirat. Orang yang mempunyai sifat sabar seperti ini akan dapat mencapai derajat kedekatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pada saat inilah seseorang akan mampu merasakan manis dalam perbuatan taat, kenikmatan dan kebahagiaan dalam ibadah yang tidak dapat dibayangkan.

Sabar terhadap maksiat berfungsi secara lahir memunculkan upaya untuk meninggalkan maksiat, dan menjauhkan diri dari segala bentuk sarana yang diduga menimbulkan maksiat. Secara batin sabar ini membuat hati tidak berpikir tentang maksiat dan tidak menyenanginya.

Sabar seperti ini dapat didorong dengan mengingat-ingat ancaman siksa Allah yang dunia ataupun di akhirat. Barang siapa selalu tetap dalam kesabaran dari maksiat, maka Allah akan memuliakannya dengan wujudnya keangkuhan atas segala maksiat, hingga masuk neraka menurut dirinya lebih ringan dari pada melakukan maksiat yang paling kecil sekalipun.

Sabar dari musibah adalah kesabaran dari segala hal yang tidak sukai nafsu. Musibah dibagi menjadi dua yang kedua-duanya harus dihadapi dengan kesabaran.

Yang pertama dari jenis musibah adalah musibah yang datang langsung dari Allah tanpa ada perantaraan orang lain. Seperti sakit, kehilangan harta benda, kematian orang-orang yang dicintai, dan lain-lain. Kesabaran terhadap musibah seperti ini secara batin membuat jiwa tetap dalam keadaan tenang, tidak marah, tidak mengeluh, tidak resah dan tidak merasa gelisah.

Secara lahir, sabar dari musibah membuat seseorang tidak mengadukan apa yang dialaminya dan tidak mengeluhkannya kepada orang lain. Bersama itu, ia tidak menampar wajahnya sendiri, tidak merobek baju dan tidak menjerit-jerit.

Sabar seperti ini, dapat dibangkitkan dengan adanya pengertian bahwa mengeluh pada hakikatnya dapat menyakitkan diri sendiri, dapat menghilangkan pahala dan menjerumuskan seseorang ke dalam siksa. Mengeluh dan mengadukan musibah kepada orang yang tidak dapat memberikan manfaat dan menghilangkan keburukan adalah sebuah kebodohan. Mengeluh adalah petunjuk bagi tidak merasa cukupnya seorang hamba kepada Allah yang merajai setiap sesuatu.

Sabar ini juga dapat didorong dengan mengingat-ingat bahwa dibalik kesabaran dari musibah terdapat pahala besar, dan mengingat-ingat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lebih tahu terhadap apa yang terbaik bagi seseorang dari pada diri sendiri.

Orang yang mempunyai kesabaran seperti ini dan selalu melakukannya secara terus menerus, akan diberi manisnya pasrah, dan merehatkannya dalam kebahagiaan kerelaan terhadap apa yang telah diberikan Allah.

(Bersambung)

Related

Akhlaq-Tashawuf 7257702225067294950

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item