Kisah Tentara Gajah

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” ...

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” (QS. Al-Fiil: 1)

Mereka datang dari Yaman yang pada masa itu di bawah kekuasaan Raja Najasyi, raja Habasyah (Kakek Raja Najasyi yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam). Bermula dari kedengkian pimpinan mereka, Abrahah Al Habsyi, gubernur kota Yaman, kepada para pelaku haji yang selalu berziarah ke Baitullah, Makkah. Dia bermaksud menandingi dengan membangun gereja di kota Shanaa yang kemudian dinamainya dengan, “Al-Qullays”. Gereja ini dibangun dengan megah dan dihias emas perak juga permata permata yang serba indah. Keinginannya hanya satu, agar para pelaku haji mau berpaling dari Makkah dan berziarah ke gereja Al Qullays. Selanjutnya hal ini ia kabarkan lewat surat kepada rajanya, Raja Najasyi. “Wahai sang raja, sesungguhnya aku telah membangun sebuah gereja yang amat megah untukmu. Yang belum pernah di kerajaan manapun dibangun gereja seperti ini. Dan aku tidak akan berhenti sampai di sini, hingga aku bisa memalingkan orang orang arab yang berhaji menuju ke gereja ini”.

Ketika berita yang termuat di dalam surat Abrahah bocor menyebar di kalangan orang Arab, Malik bin Kinanah menjadi berang. Pada suatu malam ia kemudian memasuki gereja Qullays dan setelah duduk di dalamnya, ia melumuri bangunan gereja dengan tinja. Dengan sangat marah, Abrahah bertanya, “Siapa yang berani berbuat seperti ini?” Kemudian diceritakan kepadanya bahwa yang berbuat itu adalah seorang laki laki dari penduduk sekitar Baitullah. Abrahah semakin gusar dan bersumpah akan membawa bala tentara dan menghancurkan Baitullah.

Hingga tiba saatnya tekad itu sudah bulat, ia mengerahkan segenap kekuatannya guna mewujudkan ambisinya merobohkan Ka’bah. Dengan menunggangi gajah yang bernama Mahmûd (mammood), dia dan pasukannya yang berjumlah 60.000 tentara bertolak menuju Makkah. Berpuluh puluh kabilah arab mencoba menghadangnya, namun karena kekuatan yang demikian hebat, tak satupun yang mampu menghentikan perjalanan pasukan Abrahah. Sesampainya di Al-Maghmas, ia kurirkan Al-Aswad bin Maqshud untuk merampas harta penduduk Makkah termasuk dua ratus ekor unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi. Dengan pongah Abrahah menyampaikan berita kepada penduduk Makkah, “Kabarkan bahwa kami ke sini bukan untuk memerangi kalian, namun kami ke sini hanya untuk merobohkan Baitullah”. Kemudian ia meminta Abdul Muthalib selaku pembesar Quraisy untuk bertemu dengannya. Ternyata setelah Abdul Muthalib datang, Abrahah sempat terheran-heran dan merasa hormat ketika melihat sosok berwibawa dan elok yang ada di hadapannya. Karena malu menyandingkannya di singgasana, namun merasa sungkan ketika harus mendudukannya di bawah, Abrahah pun akhirnya duduk di bawah di atas tikar dan mempersilahkan Abdul Muthalib duduk di sampingnya. Cakap demi cakap dilalui, kembali Abrahah terheran-heran, karena Abdul Muthalib datang hanya demi meminta ia mengembalikan dua ratus untanya. Disertai rasa penasaran ia pun menanyakan, “Apakah engkau ke sini hanya untuk memperjuangkan dua ratus untamu? dan kenapa tidak kamu perjuangkan al-Bait yang selama ini menjadi agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang ke sini untuk menghancurkannya”. Abdul Muthalib dengan tegas menjawab, “Saya adalah pemilik unta unta itu, sedangkan untuk Baitullah sudah ada penguasa yang akan menghalangi terjadinya kerusakan itu”. Dengan sombong Abrahah berkata, “Tidak ada yang dapat menghalangiku”. Abdul Muthalib menimpali, “Itu adalah menurutmu, bukan kehendak-Nya”.

Segera setelah pulang dari kediaman Abrahah, atas saran sahabat karib Abdul Muthalib yang bernama Abu Mas’ud Ats Tsaqafi, beliau memerintahkan penduduk Quraisy mengungsi ke lereng-lereng gunung. Dan sebelum bergabung ke lereng gunung, Abdul Muthalib bersama beberapa orang sempat memanjatkan doa di pintu Ka’bah. Sambil memegang pelingkar pintu Ka’bah, ia pun berdoa :

Wahai Tuhanku, aku tidak berharap pada mereka kecuali kepada-Mu
Wahai Tuhanku, halangilah bumi larangan-Mu dari mereka
Sesungguhnya musuh rumah ini adalah mereka yang memusuhi-Mu
Cegahlah mereka untuk meruntuhkan Baitullah.


Inilah tipu daya Abrahah dalam usahanya menghancurkan rumah Allah yang suci :

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

“Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu pada arah kesesatan dan kehancuran mereka ?” (QS. Al-Fil: 2)

Maha besar Allah!. Tentara Abrahah bersama dua belas gajahnya yang hanya tinggal selangkah lagi masuk ke kota Makkah, tiba tiba disongsong oleh Nufail yang dengan cerdik langsung mendekati Mahmud seraya membisikkan, “Wahai gajah, menjerumlah dengan terpuji dan kembalilah dengan cerdik, karena engkau berada di bumi Allah yang haram”. Serta merta atas ijin Allah, sang gajah pun bertingkah aneh, menjerumkan diri, menolak berperang serta enggan berdiri ketika diajak maju ke kota Makkah. Dia hanya patuh dan tunduk ketika diarahkan ke selain bumi Haram. Belum hilang kegusaran mereka akibat perilaku kendaraan perangnya, Allah Yang Maha Perkasa telah mengirimkan pasukan burung dari lautan yang menyerupai bayangan menyambar. Masing masing membawa tiga batu, satu diletakkan di paruh dan yang dua di kedua kakinya. Batu batu kematian yang akan membinasakan tubuh manusia. Tentara yang dulunya sombong, kini lari tunggang langgang mencoba menyelamatkan diri. Namun ke mana hendak bersembunyi jika yang memburu adalah makhluk utusan Ilahi. Akhirnya semuanya mati di sepanjang jalan. Mereka yang sempat melarikan diri, termasuk Abrahah, tubuhnya tercecer sepanjang jalan hingga banyak yang menemui ajalnya. Abrahah sendiri sempat sampai di Shanaa setelah jari jemarinya rontok dan tubuhnya terkoyak laksana anak burung yang tak berdaging (mitsl farkh thair). Dan dia pun binasa setelah dadanya terpecah hingga hatinya menyemburat ke luar dari tubuhnya.

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ ، تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ ، فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

"Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)". (QS. Al-Fiil: 3-5)

Kehancuran Abrahah bersama tentara gajahnya adalah satu bentuk i’tibar bahwa kebatilan akan selalu lebur di hadapan kuasa Allah. Apapun akan bisa diperbuat Allah terhadap mereka yang berani memusuhi Nya.

Lima puluh hari setelah kebinasaan Abrahah, Allah menganugerahkan nikmat yang maha dahsyat  untuk penduduk di segenap penjuru bumi. Di tahun ini, ‘Aamul Fill (tahun gajah), Rasulullah lahir sebagai pertanda awal pencerahan Islam dan kejernihan moral yang telah dikeruhkan oleh perilaku jahiliyah. Hingga kini, dari tahun ke tahun, hampir segenap umat Islam di penjuru dunia selalu memperingati hari kelahiran Rasulullah ini sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Allah.

Manakala kedengkian sudah menghujam dalam ke hati, maka apapun akan bisa ia perbuat. Kejayaan Islam yang kini telah berkibar tinggi, tentu akan memunculkan Abrahah baru dengan gayanya yang baru. Keharuman ahlussunnah yang menebar semerbak, suatu ketika tentu akan terusik oleh mereka yang berjubah Abrahah. Tentu saja dengan siasat yang lebih modern dan lebih taktis.

Allah yang akan senantiasa memelihara Islam. Allah yang akan selalu melestarikan ahlussunnah wal jama’ah. Maka Allah pula lah yang pasti akan menyelamatkan dari keterpurukan yang diupayakan oleh Abrahah abrahah masa kini dan masa mendatang.

Dengan segenap kecintaan terhadap Rasulullah, kita perkokoh ajaran ajaran beliau dengan lurus. Dengan hikmah Maulid Nabi, yang merupakan nikmat teramat besar atas terlahirnya Sang Penuntun Umat, Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. tidak ada buruknya sejenak kita merenungi kisah Abrahah.

Sumber: http://lbm.lirboyo.net/kisah-abrahah-dan-tentaranya/

Related

Sirah Nabawiyah 6640264175756427886

Follow Us

Facebook

TERBARU

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item