Rasulullah bersabda :

لاَ تَطْرُوْنِيْ كَمَا أطرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

"Jangan berlebih-lebihan kalian memujiku, seperti umat nasrani yang berlebih-lebihan memuji (Isa) Ibnu Maryam".

Hadits ini adalah di antara dalil-dalil yang dijadikan mainan oleh para kelompok yang bersikap ekstrim. Mereka membelokkan makna hadits dan memberikan penafsiran tidak sesuai dengan kenyataannya dan meletakkan hadits ini tidak pada tempatnya. Apa yang mereka lakukan hanyalah untuk memperkuat kehendak dan tujuan buruk mereka, karena kebencian dan rasa dengki mereka akan puji-pujian kepada majikan seluruh makhluk, penyejuk setiap mata, pemimpin kaum bertauhid, dan utusan penguasa alam semesta, Nabi teragung, Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Yang mendorong mereka untuk melakukan hal ini adalah kebodohan mereka dalam memahami hadits di atas. Mereka mempunyai kepahaman tentang adanya pelarangan memuji Rasulullah dari hadits tersebut dan menganggap perbuatan memuji sebagai bagian dari sifat melampaui batas yang tercela dan akan berakibat pada kemusyrikan. Mereka juga mempunyai kepahaman bahwa setiap orang yang memuji nabi dan upaya mengangkat beliau kepada derajat yang lebih tinggi dari pada manusia pada umumnya, serta menyandangi beliau dengan sifat-sifat yang istimewaadalah perbuatan bid’ah dan menyimpang dari sunah.

Inilah pemahaman yang buruk dan menunjukkan kepicikan pandangan mereka. Karena dalam hadits di atas, nabi hanya melarang kita memuji beliau seperti umat Nasrani memuji Nabi Isa bin Maryam dan mengatakan dia adalah anak Allah. Dan makna hadits adalah, barang siapa memuji Rasulullah dan memberinya sifat seperti apa yang diperbuat umat Nasrani, maka ia sama seperti mereka.

Adapun orang yang memuji dan memberinya sifat yang tidak mengeluarkan nabi dari hakikat kemanusiaan disertai keyakinan bahwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, menjauhkan diri dari keyakinan umat Nasrani, maka tidak diragukan lagi ia adalah orang yang sempurna dalam bertauhid.

Kami kalangan para pemuji Rasul, yang bernyanyi dan berdendang tentang pujian terhadap Rasul, berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia, dan mungkin baginya apa yang mungkin dialami oleh manusia yang lain, seperi sakit dan lain-lain yang tidak mengakibatkan kemerosotan derajat dan berpalingnya manusia. Syaikh Ahmad Al-Marzuqi dalam "Aqidatul Awam" mengatakan:

وَجَائِزٌ فِيْ حَقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ * بِغَيْرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَرَضِ

"Jaiz bagi mereka (para Rasul) adanya hal-hal baru (yang bersifat manusiawi) dengan tanda mengurangi derajat mereka, seperti sakit yang ringan".

Rasulullah adalah hamba Allah yang tidak mempunyai manfaat dan bahaya bagi dirinya, tidak bisa menghidupkan, tidak bisa mematikan dan tidak bisa membangkitkan. Allah berfirman :

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Katakan wahai Muhammad!, Aku tidak memiliki manfaat dan bahaya untuk diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Andaikata aku mengetahui perkara ghaib, aku akan berusaha memperbanyak kebaikan, dan tidaklah keburukan menimpaku. Aku hanya seorang yang menakut-nakuti dan memberi kabar gembira". (QS. Al-A'raf: 188)

Kami juga berkeyakinan bahwa beliau telah menyampaikan risalah, menyampaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berperang di jalan Allah, hingga datang kepada beliau sebuah keyakinan. Lalu beliau kembali kepangkuan Allah dalam keadaan rida dan diridai. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu (Muhammad) akan mati dan mereka (juga) akan mati”. (QS. Az-Zumar: 30)

Allah dalam ayat lain berfirman: “Tidaklah aku ciptakan keabadian bagi manusia sebelum kamu. Jikalau kamu mati, adakah mereka tetap hidup abadi?.” (QS. Al-Anbiya’: 34)

Kami berkeyakinan bahwa meskipun Rasulullah SAW telah mati, namun keutamaan dan derajatnya abadi di sisi Tuhannya. Hal ini tidak diragukan lagi bagi orang yang beriman. Meskipun derajatnya luhur dan martabatnya agung, ia hanyalah seorang makhluk, tida bermanfaan dan berbahaya, tanpa adanya Allah dan tanpa izinnya.
Allah berfirman: "Katakan wahai Muhammad!, Aku hanyalah manusia seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu. Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang maha esa". (QS. Al-Kahfi: 110)

Kami dengan rahmat Allah, tahu apa yang wajib bagi Allah, apa yang wajib bagi Rasul. Kami juga tahu mana yang murni untuk Allah dan mana yang murni hanya untuk Rasul, tanpa berlebih-lebihan dalam memuji, sampai pada pemberian sifat yang khusus bagi Allah.

Adapun berlebih-lebihan dalam memuji, mencintai, mematuhi dan bergantung kepada Rasulullah, sebenarnya sangat dianjurkan, berdasar hadits yang diatas. Makna hadits yang sebenarnya adalah bahwa berlebih-lebihan dalam memuji selama tidak seperti umat Nasrani, adalah perbuatan terpuji. Jika makna hadits tidak demikian, maka maksud hadits adalah pelarangan memuji secara mutlak. Padahal hal ini tidak pernah dikatakan oleh orang yang paling bodoh diantara orang-orang yang bodoh. Karena Allah SWT, di dalam Al-Qur'an mengagungkan Rasul dengan bentuk pengagungan yang tinggi dan memerintahkan kita untuk mengagungkannya. Tetapi, kita tidak boleh mengagungkan dan memujinya dengan sifat-sifat ketuhanan.

Puji-pujian terhadap nabi semuanya menyiratkan hakikat ini, jelas bagai sinar matahari menyinari bumi di tengah hari. Dalam qasidah al-Burdah karya al-Bushiri sebagai pemimpin perkumpulan para pemuji Rasul disebutkan:

دع ما ادعته النصارى في نبيهم * واحكم بما شئت مدحا واحتكم
فإن فضل رسول الله ليس له * حد فيعرب عنه ناطق بفم

Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya.
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka.

Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu.
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau.

Karena keutamaannya sungguh tak terbatas.
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.

Sumber : Kitab Al-Madh An-Nabawi Karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, 7-11

 
Top