Al-Albani Seorang Muhaddits?

Di kalangan Wahabi / salafi, pria yang satu ini dianggap muhaddits paling ulung di zamannya. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetar...

Di kalangan Wahabi / salafi, pria yang satu ini dianggap muhaddits paling ulung di zamannya. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadist terdahulu. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

Sebetulnya, kapasitas pria yang lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M ini sangat meragukan. Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan enteng menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.”

Berarti dia tidak layak disebut sebagai Muhaddits, karena yang disebut Muhaddits adalah orang yang mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para rawi hadits. Albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil dari sisa buku-buku hadits yang ada di masa kini. Kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal sejuta hadits  berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari huffadhuddun-ya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia). Beliau hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits dari hadits sebanyak itu. Maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman.


Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman. Demikian muhaddits-muhadits besar lainnya, seperti An-Nasa’i, At-Tirmidziy, Abu Dawud, Muslim, Ibn Majah, Imam As-Syafi’i, Imam Malik dan ratusan muhaddits lainnya.


Muhaddits adalah orang yang berjumpa langsung dengan perawi hadits, bukan berjumpa dengan buku buku. Albani hanya berjumpa dengan sisa-sisa buku hadits yang ada masa kini.



Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yang telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan pada saat ini, jika semua buku hadits yang tercetak dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits. An-Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Al-Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.


Albani bukan pula Al-Hafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Karena ia banyak menusuk fatwa para muhadditsin, menunjukkkan ketidakfahamannya akan hadits-hadits.


Abani bukan pula Al-Musnid, yaitu pakar hadits yang menyimpan banyak sanad hadits hingga saat ini, yaitu dari dirinya, dari guru-guru, dan dari para muhadditsîn sebelumnya hingga Rasul SAW. Orang yang banyak menyimpan sanad seperti ini diberi gelar Al-Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yang muttashil.


Para Muhadditsin, "Tiada ilmu tanpa sanad". Maksudnya semua ilmu hadits, fiqh, tauhid, al-Qur’an, harus mempunyai jalur sanad hingga kepada Rasulullah SAW. Jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa, namun ia tidak punya sanad guru, maka fatwanya mardûd (tertolak), ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya maqthû‘.


Jika ada seorang manusia pada masa sekarang yang menukil sisa-sisa hadits yang tidak mencapai 10% dari hadits yang ada dimasa lalu, kemudian berfatwa hadits ini dha‘if, hadits ini mauwdhû‘ dan lain sebagainya, maka bagaimana pendapat Anda?

Related

Wahabi Salafi 949317242876851175

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item