Antara Nafsu dan Akal

Setiap keutamaan mempunyai pondasi dan setiap peradaban mempunyai sumber. Pondasi peradaban dan sumber peradaban adalah akal, di mana Allah...

Setiap keutamaan mempunyai pondasi dan setiap peradaban mempunyai sumber. Pondasi peradaban dan sumber peradaban adalah akal, di mana Allah menjadikannya sebagai pondasi agama dan pilar dunia. Allah mewajibkan beragama dengan kesempurnaan akal dan mengatur dunia dengan hukum-hukum akal. Allah juga merukunkan umat manusia dengan akal, di tengah perbedaan dan beragamnya tujuan dan cita-cita mereka.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لِكُلِّ شَيْءٍ عُمِلَ دِعَامَةٌ وَدِعَامَةُ عَمَلِ الْمَرْءِ عَقْلُهُ فَبِقَدْرِ عَقْلِهِ تَكُونُ عِبَادَتُهُ لِرَبِّهِ أَمَا سَمِعْتُمْ قَوْلَ الْفُجَّارِ { لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya : "Setiap sesuatu yang dikerjakan mempunyai pilar. Dan pilar pekerjaan (amal) seseorang adalah akalnya. Dengan kadar akalnya ibadahnya hanya untuk Tuhannya. Adakah kalian tidak mendengarkan ucapan orang-orang yang jahat (saat ia dilempar ke neraka), 'Andai kami mau mendengar atau memahami, tidaklah kami menjadi penduduk neraka". 

Ibrahim bin Hassan mengatakan :

"Seorang pemuda akan bisa hidup di hadapan manusia dengan akalnya. 
Di atas akalnya perbuatannya mengalir.
Sebaik-baik pemberian Allah adalah akal
Tidak ada sesuatu yang dapat mendekati derajatnya
Jika Yang Maha Penyayang menyempurnakan akalnya,
maka sempurnalah perilaku dan tujuannya".

Dengan akal seseorang akan mampu mengetahui hakikat sesuatu dan dengan akal pula ia mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Sesuai kemampuan akalnya, seseorang diperintah mematuhi hukum-hukum Allah, tidak kurang dan tidak lebih. Dan dengan akal pula manusia berbeda dengan hewan.

Menurut pendapat yang shahih, pengertian akal ialah: pengetahuan terhadap sesuatu yang dapat ditangkap oleh indera. Pengetahuan ini ada dua jenis. Pertama: Pengetahuan yang dihasilkan lewat interaksi indera dengan benda-benda sekitarnya, seperti: warna, suara, rasa, bau, dan bentuk. Kedua ialah pengetahuan yang timbul dari dalam dirinya sendiri, seperti pengetahuan bahwa setiap sesuatu tidak pernah lepas dari sebutan ada atau tidak ada. Jenis pengetahuan kedua pasti dimiliki oleh seseorang, jika ia layak disebut orang yang berakal.

Akal dapat berkembang dan juga dapat berkurang sesuai dengan volume penggunaannya. Perkembangan akal dapat dihasilkan melalui dua jalan, yaitu banyaknya penggunaan akal dan kecerdasan akal. Seseorang yang telah mengalami masa hidup yang lama, tentu mempunyai kemampuan akal yang lebih tinggi dibanding orang yang masa hidupnya lebih sedikit, karena banyaknya pengalaman, dan banyaknya waktu untuk pelakukan penelitian. Seorang Penyair mengatakan :

"Tidakkah kau melihat, akal adalah perhiasan bagi seseorang. Tetapi kesempurnaan akal hanya akan didapat melalui banyaknya pengalaman".

Kecerdasan juga menjadikan akal lebih cepat berkembang, dan kecerdasan biasanya dimiliki seseorang ketika seseorang dalam masa muda. Ath-Thabrani dalam "Al-Kabir" meriwayatkan :

مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ فِي صِغَرِهِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْحَجَرِ , وَمَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ فِي الْكِبَرِ كَاَلَّذِي يَكْتُبُ عَلَى الْمَاءِ

Artinya: "Orang yang belajar saat masih muda bagai mengukir di atas batu, dan orang yang belajar saat masa tua bagai orang menulis di atas air".

Para ulama berbeda pendapat mengenai kecerdasan yang berlebih. Ada yang mengatakan bahwa kecerdasan yang berlebih bukan sebuah keutamaan, karena keutamaan adalah sesuatu yang sedang-sedang saja. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan, "Sebaik-baik sesuatu adalah yang sedang-sedang". Ulama juga beralasan bahwa kecerdasan yang berlebih akan menjerumuskan pemiliknya dalam jurang tipu muslihat.
Ulama lain mengatakan --dan ini adalah pendapat yang lebih shahih-- bahwa kecerdasan yang berlebih merupakan sebuah keutamaan, karena kwantitas pengetahuan tidak terbatas. Memang, sesuatu yang berlebih adalah perkara yang tercela; keberanian yang berlebih akan menjadikan seseorang  bersifat ngawur dan membabi buta. Tidak demikian dengan kecerdasan. Kecerdasan yang berlebih menjadikan seseorang mampu melakukan pemahaman yang baik, prediksi yang tepat, dan lebih cepat menyerap pengetahuan. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik manusia ialah orang yang paling berakal".

Di sisi lain, keinginan nafsu adalah penghalang kebaikan dan berlawanan dengan akal. Keinginan nafsu melahirkan perilaku yang buruk, pekerjaan yang tercela, membongkar aib, dan menjadi jalan keburukan. Abdullah bin Abbas mengatakan, "Keinginan nafsu adalah tuhan yang disembah selain Allah". Allah berfirman :

أَفَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إلَهَهُ هَوَاهُ

Artinya : "Adakah kau melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai sesembahan".

Umar bin Khatthab mengatakan, "Cegahlah diri ini dari keinginan-keinginannya!, Sesungguhnya keinginan-keinginan itu adalah para pengintai yang akan mengantarkan pada keburukan yang parah. Kebaikan ini berat dan pahit dan kejelekan adalah perkara yang ringan dan manis. Meninggalkan kesalahan lebih baik dari pada mengobatinya dengan taubat. Berapa banyak pandangan yang menumbuhkan keinginan, dan keinginan sesaat melahirkan penyesalan yang berkepanjangan".

Ketika keinginan nafsu selalu berusaha menguasai dan menjadi muara jalan-jalan keburukan, maka akallah yang akan menjaga, memerangi dan mengawasi keinginan nafsu. Akal juga akan mencegah kuatnya pengaruh dan tipu muslihat keinginan nafsu.

Kekuatan pengaruh keinginan nafsu, disebabkan oleh begitu banyaknya hal-hal yang membuatnya tertarik, hingga terkadang akal tidak mampu mencegahnya, meski akal  mampu menilai bahwa keinginan itu jelas-jelas buruk. Hal semacam ini banyak dialami oleh kalangan muda, hingga terkadang masa muda dijadikan alasan untuk diperbolehkannya menuruti keinginan nafsu.

Adapun cara untuk mengurangi kekuatan pengaruh keinginan nafsu, hingga akal mampu untuk mengantisipasi setiap keinginannya adalah dengan upaya menanamkan perasaan dan kesadaran akan parahnya keburukan, adanya dampak negatif, dan semakin bertumpuknya dosa dibalik keinginan nafsu itu sendiri. Informasi Rasulullah hendaknya dijadikan pertimbangan sebelum memutuskan untuk berbuat sesuatu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Artinya: "Surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci. Dan neraka dikelilingi hal-hal yang menjadi keinginan nafsu".

Ibnus Sammak mengatakan, "Jadilah dirimu seorang penyabar dalam menghadapi keinginan nafsumu, dan jadilah dirimu penolong akalmu. Lihatlah hal-hal buruk yang diakibatkan. Latihlah dirimu untuk menjahui keinginan nafsumu. Menuruti keinginan nafsu adalah penyakit, dan meninggalkannya adalah obat. Maka bersabarlah dalam meminum obat, seperti halnya dirimu takut akan penyakit".

Jika keinginan nafsu mau tunduk terhadap akal, ia akan memperoleh derajat yang luhur berupa pahala dari Allah dan pujian dari makhluk. Allah berfirman :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنْ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى 

Artinya: "Adapun orang yang takut kepada Tuhannya, dan mencegah nafsu dari keinginannya, maka sesungguhnya surga adalah tempatnya".

Sebagian ulama mengatakan bahwa, akal yang bebas dari keinginan dipenuhi oleh para malaikat. Sedangkan keinginan tanpa disertai akal akan ditunggangi para binatang. Jika akal seseorang mampu mengalahkan keinginan nafsunya, maka ia lebih baik dari pada malaikat. Sebaliknya, jika keinginan nafsunya yang mengalahkan akal, maka ia lebih buruk dari pada binatang.

Tipu muslihat yang dilakukan keinginan nafsu adalah melalui upaya pensamaran. Keinginan-keinginan nafsu dibungkus sedemikian rupa, hingga akal pun tertipu. Ia menilai keburukan sebagai kebaikan, dan menilai bahaya sebagai sesuatu yang berguna. Keadaan ini terjadi melalui salah satu dari dua jalan. Pertama, keinginan nafsu sudah sedemikian menggebu, hingga tak satupun keburukan tampak dimatanya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

حُبُّك الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ 

Artinya: "Cintamu pada sesuatu membutakan mata dan membuat tuli telingamu".

Ubaid bin Muawiyah bin Abdillah bin Ja'far bin Abi Thalib mengatakan:

"Tidaklah aku memandang buruk terhadap sesuatu yang aku cintai.
Mata cinta rabun akan keburukan dan mata benci menilai buruk apa yang dilihatnya".

Kedua, terlalu sibuk dan payah dalam membedakan baik buruk yang tampak di mata, hingga jalan pintas pun ditempuh, hal yang paling mudah akhirnya dipilih. Maka kesimpulan akhirnya adalah, hal yang paling mudah itu adalah yang terbaik, dan yang lebih cocok dengan kondisinya. Ia pun tertipu.

Untuk menutup kedua jalan ini, gunakan pemikiran hati sebagai pengadil atas pandangan kedua mata yang selalu menjadi penunjuk jalan keinginan nafsu. Lalu curigailah nafsu ketika akan menilai benar apa yang menjadi keinginannya, agar terlihat jelas terlebih dahulu mana yang sebenarnya menjadi bagian dari kebaikan dan kebenaran. Ketahuilah bahwa kebenaran berat dipikul, dan sulit dilalui. Jika ragu dan bimbang akan dua hal, maka jauhilah hal yang lebih disukai dan hindarilah hal yang lebih mudah. Sebab, nafsu lebih suka lari dari kebenaran, dan lebih tunduk pada keinginan.

Al-Abbas bin Abdul Mutthalib mengatakan, "Jika terjadi kamu rancu atas dua perkara, maka tinggalkan perkara yang lebih kamu senangi, dan ambilah perkara yang lebih berat".
Ketika perkara yang lebih dibenci dilakukan dan perkara yang lebih berat diambil, maka nafsu tidak akan segera merealisasikannya, hingga akhirnya lewat masa yang panjang, tampaklah mana yang benar dan terlihatlah mana yang samar.

نَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَكْفِيَنَا دَوَاعِيَ الْهَوَى , وَيَصْرِفَ عَنَّا سُبُلَ الرَّدَى , وَيَجْعَلَ التَّوْفِيقَ لَنَا قَائِدًا , وَالْعَقْلَ لَنَا مُرْشِدًا ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، والحمد لله رب العالمين
والله أعلم بالصواب

Related

Akhlaq-Tashawuf 1651654113364952335

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item