Pada periode awal, Wahabi dengan didukung pemerintah sangat kejam. Pernah suatu ketika KH. Faqih Maskumambang saat beliau mukim di Saudi melihat orang yang sedang memegang tasbih di Masjidil Haram langsung ditangkap oleh orang Wahabi dan kukunya dicopot. Hanya gara-gara membawa tasbih yang dianggapnya bid'ah. Apalagi membaca maulid.


Wahabi adalah salah satu aliran dan faham yang mengancam terhadap amaliyah warga NU, yang penyebarannya sangat signifikan, khususnya di Indonesia, karena didukung oleh dana yang kuat, terutama dari negeri petro dolar, Saudi Arabia. Wahabi adalah sebuah paham dan aliran yang muncul di Nejd Saudi Arabia, yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam banyak literatur disebutkan bahwa  ada campur tangan Inggris atas kemunculan Wahhabi ini. Kelahirana ajaran Wahabi dipicu oleh kepentingan politik Barat yang dikendalikan oleh Inggris di negara Turki. Raja-raja Turki terdahulu adalah raja-raja yang saleh. Tetapi pada akhirnya raja-raja Turki sudah mulai kedonyan (cinta dunia), selalu mengedepankan kemewahan dan foya-foya sampai membangun sebuah istana yang terbuat dari kristal. Di saat itulah muncul berbagai masalah, antara lain kecemburuan sosial rakyat Turki kepada para rajanya yang dipicu oleh kesenjangan ekonomi yang mencolok. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh orang-orang Barat (baca: Inggris) untuk merongrong kewibawaan raja-raja Turki dengan menggunakan Mustafa Kemal Pasha untuk memberontak dan merebut kekuasaan.
Setelah Dinasti Utsmaniyah hancur dan diganti oleh Mustafa Kemal Pasha, Turki dirombak menjadi negara sekuler dan menjadikan sekuler sebagai undang-undang dasar. Dia juga mengolok-ngolok  Islam dan mengatakan bahwa Islam tidak layak menjadi sistem pemerintahan. Menurut anggapannya kehancuran Turki disebabkan oleh pemerintahan  ala Islam.
Disaat kondisi Turki melemah, maka pemerintah inggris memanfaatkan Syarif Husein di Hijaz untuk memberontak terhadap Turki. Rupanya pemberontakan ini berhasil. Pada saatnya tibalah kepemimpinan Turki jatuh dan dipegang oleh seseorang Syarif yaitu Syarif Husein. Ketika Syarif husein memimpin beliau banyak didukung oleh rakyat dan mempunyai kewibawaan, beliau menyebarkan pengaruhnya dengan menempatkan putra-putranya di berbagai tempat, sehingga dengan kesyarifannya, rakyat sangat menaruh hormat dan muncullah dinasti baru, yaitu dinasti Husein.
Kepemimpinan Syarif dengan fenomena yang terjadi, oleh Inggris dianggap berbahaya. Untuk itu, Inggris memanfaatkan Nejd untuk menggulingkan Syarif Husein dengan bekerjasama dengan Abdul Aziz dan Muhammad bin Abdul wahhab. Dengan menciptakan isu-isu keagamaan murahan yang bertendensi politik sebagai legitimasi tentara musuh  untuk membantai penduduk Hijaz. Diantara isu-isu keagamaan itu  adalah disebarkannya  paham bahwa orang-orang Hijaz telah musyrik karena mereka melakukan tawassul, memperingati maulid, membaca Al-Barzanji dan lain sebagainnya. Isu-isu keagamaan itu dimunculkan juga untuk memalingkan penduduk Hijaz dari mahabbah (kecintaan) terhadap Ahlul Bait. Karena raja yang akan digulingkan yaitu Syarif Husein adalah seorang Syarif (keturunan Nabi). Dari  sinilah awal  kemunculannya paham Wahabiyah .
Pada periode awal, Wahabi dengan didukung pemerintah sangat kejam. Pernah suatu ketika KH. Faqih Maskumambang saat beliau mukim di Saudi melihat orang yang sedang memegang tasbih di Masjidil Haram langsung ditangkap oleh orang Wahabi dan kukunya dicopot. Hanya gara-gara membawa tasbih yang dianggapnya bid'ah. Apalagi membaca maulid. Karena KH. Faqih Maskumambang sangat benci kepada Wahabi, karena kezaliman mereka terhadap Ahlussunnah Wal-Jama’ah.
Banyak tokoh Ahlussunnah yang dibantai di Mekkah. Ada salah satu murid dari Syeikh Said Yamani di Thaif juga dibantai. Syekh Said Yamani punya santri dari Jawa (Indonesia) yang beliau suruh untuk menunggu perpustakaan beliau. Santri ini oleh tentara Wahabi disuruh turun dengan jaminan keamanan. Tetapi ketika si santri turun, ia langsung dibantai oleh tentara tersebut seraya berkata: “Tidak ada jaminan keamanan bagi orang Musyrik.” Masya Allah kejam sekali mereka.
Nampaknya, sekarang keluarga Alu Saudi (Abdul Aziz bin Su'ud, pendiri kerajaan Arab Saudi) sudah mulai tidak terikat dengan Alu Syeikh (Muhammad bin Abdul Wahab) dan sudah mulai memberi peluang terhadap paham lain. Terbukti ketika suatu waktu penulis pergi umroh, pernah melihat di masjid Nabawi ada orang Syiah dengan memakai pakain ala Saudi, dan shalat  dengan cara Syiah. Setelah penulis dekati dan bedialog dengannya ternyata memang benar ia asli orang Saudi, dengan logat Saudi. Dia mengaku dari Ahsa’. Dulu di sana memang banyak orang Syiah cuma mereka tidak berani menampakkan kesyiahannya. Sekarang mereka sudah berani terang-terangan menunjukkan bahwa mereka Syiah, apalagi yang Ahlussunnah, mereka lebih diberi kebebasan oleh Kerajaan. Ada kesan seperti itu. Sampai-sampai  ketika Syekh Muhammad Alawi al-Maliki meninggal dunia Raja juga ikut ta’ziyah..
Bagi Masyayikh (Keluarga Syekh Muhammad bin Abdul Wahab), hal ini sangat memukul mereka. Sehingga mereka seperti kebakaran jenggot. Maka dari itu mereka sangat gencar menyebarkan paham mereka, terutama di luar Saudi, termasuk Indonesia. Kelompok-kelompok yang gencar membawa misi ajaran Wahabi didanai, seperti Kelompok yang menamakan dirinya Salafi. Mereka ini sangat ngawur. Suka mencaci maki orang Islam. Dimana kita sibuk mengislamkan orang yang belum Islam, sementara mereka senang mengkafirkan orang yang sudah Islam.

Sumber : Edisi Pertama Buletin Milenia Aswaja, diterbitkan oleh Lajnah Ta'lif Wan Nasyr PCNU Kencong. Naskah asli berupa wawancara dengan KH. A. Sadid Jauhari, Pengasuh PP. Assunniyyah Kencong Jember, yang pada saat wawancara menjabat sebagai Wakil Katib Syuriyah PBNU.
 
Top