Thalhah bin Ubaidillah RA: Bersatu di Akhir Jalan

Hidup dan mati setiap insan memang menjadi rahasia Allah SWT. Begitu pula dengan yang dialami sah...

Hidup dan mati setiap insan memang menjadi rahasia Allah SWT. Begitu pula dengan yang dialami sahabat Thalhah bin Ubaidillah. Meskipun dirinya telah disebut oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Asy-Syahidul Hayy (Syahid yang Hidup) dan bahwa kelak di akhirat akan masuk surga, per­jalanan hidupnya tidaklah mulus, bahkan ia wafat di tangan pemeluk Islam lainnya.

Peristiwanya terjadi dalam Perang Unta  atau Waq’atul Jammal, yang terjadi 26 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW. Perang itu melibatkan para saha­bat dekat Rasulullah.

Ketika itu Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat terpaksa ber­hadapan dengan sahabat Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, yang menggabungkan diri dengan Ummul Mu’minin Siti Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, yang juga istri Rasulullah SAW.

Kala itu, orang masih mempertanya­kan siapa sebenarnya pembunuh Khali­fah Utsman bin Affan, yang meninggal lantaran dibantai di rumahnya sendiri.

Kisahnya, rumah khalifah ketiga itu telah dikepung massa dari berbagai penjuru wilayah kekuasaannya, seperti Kufah, Mesir, Basrah, yang tidak setuju dengan kebijakannya selama dia meme­rintah, yang dipandang nepotis.

Ketika tengah membaca Al-Qur’an di dalam kamarnya, Khalifah Utsman diintai oleh tiga orang, yaitu Qutaurah, Saudan, dan Al-Ghafiqi. Yang disebut terakhir itulah yang kemudian memukulkan se­batang besi ke tubuh Khalifah, yang sudah sepuh, hingga darah mengucur dari kepala sang khalifah dan menetes pada lembaran-lembaran kitab suci yang tengah dibacanya. Peristiwa yang di­saksikan langsung oleh istri dan anak-anak Khalifah itu terjadi di Madinah pada tanggal 18 Dzulhijjah 35 H/657 M. Saat itu Khalifah Utsman berusia 82 tahun.

Para pembunuh Khalifah Utsman itu­lah yang kemudian dipertanyakan oleh pengikut-pengikut Utsman, apakah me­reka orangnya Ali bin Abi Thalib. Karena, sejak awal, di antara keduanya sudah sering terjadi perbedaan pendapat.

Bagi Imam Ali, memang peristiwa pembunuhan itu  menempatkan dirinya pada kedudukan yang serba sulit, bah­kan pada gilirannya dia menjadi kambing hitam.

Dengan terbunuhnya Khalifah, terja­di kekosongan kepemimpinan yang sulit diatasi, sementara wilayah Islam telah meluas membentang dari barat sampai timur.

Lima hari setelah pembunuhan Kha­lifah Utsman, atas desakan orang ba­nyak, Ali bersedia dibai’at sebagai amirul mu’minin. Ia lantas memerintahkan di­lakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa sebenarnya pembunuh Utsman.


Kelompok Makkah
Di lain pihak, Thalhah mengajukan per­mintaan kepada Ali agar diangkat se­bagai penguasa di Kufah, sementara Zubair bin Awwam minta diangkat se­bagai penguasa di Basrah.

Dengan tegas Ali menolak perminta­an itu, karena ia menilai bahwa perminta­an itu aneh.

Ternyata penolakan ini berbuntut pan­jang dan kian merawankan keduduk­an Imam Ali sebagai amirul mu’minin.

Keduanya segera bertolak ke Mak­kah, yang telah menjadi tempat berkum­pulnya tokoh-tokoh yang terkena tinda­kan penertiban Amirul Mu’minin, seperti Marwan bin Hakam, tangan kanan Uts­man. Saat itu Siti Aisyah, yang termasuk tokoh yang bersimpai terhadap Khalifah Utsman, juga tengah berada di Makkah, sesudah melaksanakan ibadah haji.

Awalnya ia ingin mengucapkan se­lamat kepada Thalhah, yang diberitakan telah diangkat sebagai khalifah meng­gantikan Utsman, tapi ternyata berita itu bohong. Apalagi kemudian ia  mende­ngar kabar bahwa yang menjadi khalifah adalah Ali. Maka ketika ketiga orang itu kemudian bertemu, mereka pun berga­bung  membentuk kelompok yang dike­nal sebagai “Kelompok Makkah”. Kelom­pok ini berusaha menuntut balas kemati­an Utsman dan ingin menggulingkan Ali dari kursi khalifah.

Mereka kemudian pergi ke Basrah dengan rombongan yang besar. Di kota itu banyak pendukung Zubair dan Thal­hah.

Tentu saja Imam Ali ingin mengecek kebenaran kabar tersebut. Ia, bersama pasukannya dari Madinah, berusaha menyusul rombongan Siti Aisyah ke Basrah.


“Menjadi Tetanggaku di Surga”
Di dekat perbatasan kota Basrah, kedua pasukan besar itu bertemu. Maka terjadilah dialog yang mengharukan antara Ali dan Thalhah, Ali dan Zubair, serta Ali dan Aisyah.

Kepada Ahnaf bin Qais, seorang to­koh masyarakat Basrah, Ali menegas­kan bahwa penduduk Basrah adalah kaum muslimin. “Anda tidak perlu kha­watir saya akan membunuh semua orang lelaki Basrah dan menjadikan kaum wanita Basrah sebagai budak jika saya memenangkan perang ini.”

Kepada Thalhah dan Zubair, yang maju ke depan, Ali mengatakan, “Seka­rang terbukti bahwa kalian sudah siap dengan senjata, kuda, dan pasukan. Ku­ingatkan, kalian jangan berbuat seperti perempuan yang mengurai benang  se­telah dipintalnya. Bukankah aku ini sau­dara seagama dengan kalian? Allah SWT dan Rasul-Nya meng­ha­ram­kan kali­an menum­pah­kan darahku dan meng­ha­ram­kan diriku menumpahkan darah kalian. Alasan apa yang menghalalkan ka­lian hendak menumpah­kan darahku?”

Thalhah menjawab, “Menuntut balas atas ke­matian Khalifah Utsman.”

“Hai Thalhah, patutkah engkau me­nuntut balas atas kematian Utsman? Allah mengutuk orang yang membunuh Utsman. Engkau mengajak istri Rasul­ullah SAW untuk dijadikan tameng dalam peperangan, sedangkan istrimu engkau sembunyikan di rumah. Bukankah eng­kau telah membai’atku?”

Singkat cerita, Zubair kemudian da­pat menangkap uraian Ali yang meng­ingatkan persabatan mereka bertiga dengan Baginda Nabi, sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa kecuali air mata berlinang, dan mereka akhirnya saling berpelukan. Dia kemudian mengundur­kan diri dan kembali kepada pasukan­nya.

Tapi, hanya beberapa langkah dari situ, dia tersungkur oleh anak panah yang dilayangkan Amru bin Jarmuz dari kubu Thalhah.

Sedangkan Thalhah, ia masih harus menyaksikan terjadinya peperangan di antara kedua kubu sesama muslim itu. Namun, dia selalu terdesak meski Imam Ali selalu mengingatkan dan melarang pasukannya agar tidak membunuh Thalhah.

Hal itu menimbulkan tanda tanya di benak Thalhah. Dia akhirnya sampai pada kesimpulan, mengapa ia meme­rangi Ali, apa tujuannya. Dari dalam lubuk hatinya, ia menyatakan penyesal­an dan bertekad hendak memu­lihkan perdamaian.

Pada saat pasukan kedua belah pihak  bergembira ria sama-sama mengumandangkan seruan perdamaian, tiba-tiba se­buah anak panah menan­cap di leher Thalhah tanpa diketahui siapa pe­lakunya. Seketika Thalhah jatuh ter­sung­kur, tewas. “Allahumma ya Allah,” kata­nya sambil melihat tetesan darahnya sen­diri. “Ambillah pembalasan dariku atas kematian Utsman, supaya ia puas.”

Setelah Ali meninjau orang-orang yang gugur sebagai syuhada, semuanya dishalatkan, baik yang bertempur di pihaknya maupun yang menentangnya, termasuk Thalhah dan Zubair.

Di depan makam kedua sahabatnya itu, Ali berkata, “Kedua telingaku ini telah mendengar sendiri sabda Rasulullah SAW, ‘Thalhah dan Zubair menjadi te­tanggaku di surga’.” Semoga Allah SWT memberi keberkahan kepada kaum muslimin.

Related

Sirah Nabawiyah 1777995296241881046

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item