Ahmadiyah Sesat!
"Ahmadiyah" atau Al-Qadaniah", adalah kelompok gerakan yang berkembang sekitar tahun 1900 M, di daratan India dengan prakarsa...
- Menyakini bahwa Tujan itu berkebangsaan Inggris, karena dapat berbahasa Inggris.
- Menyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah "al-Masih" yang dijanjikan.
- Menyakini bahwa nabi Muhammad SAW bukan nabi terakhir tetapi Allah akan terus mengutus nabi sesuai dengan kebutuhan dan Mirza Ghulam Ahmad adalah paling utamanya para nabi.
- Kitab sucinya bukan Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, tetapi kitab suci mereka bernama "al Kitab al Mubin" yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
- Kota Qadian diyakini sebagai kota suci sebagai kiblat umat Islam dan tempat pelaksanaan Ibadah Haji, karena kota Qadian lebih utama dari pada Mekah dan Madinah
- Setiap orang yang mengaku muslim menurut mereka masih dianggap kafir sebelum masuk Al Qadiniyah
- Tidak disyariatkan jihad melawan penjajah dan harus tunduk patuh kepada pemerintahan Inggris, karena pemerintah Inggris itu waliyul amr menurut nash "kitab suci".
- Nuruddin, Khalifah pertama pengganti Mirza Ghulam Ahmad setelah meninggal dunia
- Muhammad Ali, Amir Al Qadiayaniah di Lahore, penerjemah Al Quran ke Bahasa Inggris.
- Muhammad Shodiq, mufti al Qadiyaniah, pengarang buku "Khadim Khotaminnabiyyin".
- Basyir Ahmad bin Al-Ghulam, pengarang buku "Sejarah Al Mahdi".
- Mahmud Ahmad bin Al Ghulam, khalifah kedua. Dan banyak yang lain (Lihat: al Mawsu'ah al Muyassaroh Fil Adyan wal Madzahib al Mu'azhirah, WAMY. hlm. 389).
- Ahmadiyah menghina Allah, dengan mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai anak Allah. "Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) di sisi-Ku seperti kedudukan anak-anak-Ku, engkau dari Aku dan Aku dari engkau". (Tadzkirah: 436)
- Mirza Ghulam Ahmad meyakini menyatu dengan Allah, "Maka Aku melihat bahwa roh-Nya meliputi dan bersemayam (berada) di badanku dan mengurungku dalam lingkungan keberadaan-Nya, sehingga tidak tersisa dariku satu (atom) pun. Dan aku melihat badanku, ternyata anggota badan Allah, dan mataku adalah mataNya, dan lidahku adalah lidahNya. (Tadzkirah: 196)
- Mirza Ghulam Ahmad mengaku sederajat dengan ke-Esa-an Allah, "Wahai Ahmad-Ku, engkau dalah tujuanKu, kedudukanmu di sisiKu sederajat dengan kemaha esaanku. Engkau terhormat pada pandanganku". (Tadzkirah: 579)
- Mirza Ghulam Ahmad mengaku lebih sempurna dari Allah, "Nama Mirza Ghulam Ahmad sangat sempurna, sedang nama Allah tidak sempurna".
- Ahmadiyah mengkafirkan umat Islam yang bukan Ahmadiyah; "Bahwa Allah telah memberi kabar kepadanya, sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat padamu dan tetap menentang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan RasulNya dan termasuk penghuni neraka jahannam". (Tadzkirah: 342)
- Jamaah Ahmadiyah tidak boleh shalat dengan non Ahmadiyah: "Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadaku, bahwa setiap orang yang telah sampai padanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim dan berhak mendapatkan siksa Allah". (Tadzkirah: 600)
- Ahmadiyah mengklaim kitab Tadzkirah sebagai kitab suci yang paling benar; "sesungguhnya kami telah menurunkan kitab suci Tadzkirah ini dekat Qadian (India). Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun". (Tadzkirah: 637)
- Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Rasulullah, "Dan katakanlah, hai manusia sesungguhnya saya Rasul Allah kepada kamu sekalian". (Tadzkrah: 352)
- Semua manusia harus tunduk kepada Mirza Ghulam Ahmad: "Kami tempatkan manusia di bawah telapak kakimu". (Tadzkirah: 744)
- Anggota Ahmadiyah akan masuk surga, "Laknat Allah atas orang-orang yang kafir, diberkahi orang yang bersamamu dan orang disekitarmu". (Tadzkirah: 751)
- Mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Diakui ia telah menerima wahyu yang diturunkan di India, kemudian wahyu itu dikumpulkan manjadi sebuah kitab suci yang mereka beri nama "Tadzkirah".
- Mengakui Tadzkirah adalah kitab suci, sama dengan Al-Qur'an
- Membajak ayat-ayat Al-Quran lalu dimasukkan kedalam Tadzkirah, seperti, "Katakanlah, wahai Ghulam Ahmad, jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah Aku". (Tadzkirah: 637), bajakan dari penggalan ayat Al Quran: "Katakanlah hai Muhammad, Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku (nabi)", (QS. Ali Imran: 31)
- Memiliki khalifah sendiri dan sekarang ini adalah khalifah ke-14, bermarkas di London Inggris, bernama Thahir Ahmad.
- Kewajiban berbaiat kepada pimpinan Ahmadiyah. Di dalam baiat mereka disuruh membaca syahadat mengakui dosa-dosanya dan disuruh beriman kepada seluruh dakwaan Mirza Ghulam Ahmad.
- Tidak ada kewajiban Haji ke Mekah, karena tempat suci mereka adalah Rabwah dan Qadiyan di India. (lihat buku "Mengapa Saya Keluar Dari Ahmadiyah" karya Ahmad Hariadi)
- Tidak ada kewajiban Zakat, karena menurut mereka, iuran wajib yang telah mereka bayarkan tiap bulan kepada organisasi yaitu sebanyak 1/16 dari penghasilan telah menyamai zakat.
- Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan laki-laki non Ahmadiyah
- Tidak boleh bermakmum di belakang non Ahmadiyah
- Mempunyai tanggal dan bulan sendiri, Suluh, Tabligh, Aman, Syahdah, Hijrah, Ikhsan, Wafa' Zuhur, Tabuk, Ikha, Nubuwah dan Al Fathah. Nama tahun mereka adalah Hijriyah Syamsi (HS)
- Tidak merujuk pada ulama terdahulu, kalangan sahabat, tabi'in dan para imam madzhab. Pemahaman mereka merujuk pada apa yang dipahami Mirza Ghulam Ahmad
- Tidak ada fiqh, hadits dan ilmu syar'i. Dalam dakwah objek pembicaraan mereka terfokus pada tiga hal pokok; mati-hidupnya Nabi Isa, masalah-masalah yang berhubungan dengan kenabian dan Imam Mahdi.