Pelihara Sifat Malu, Jangan Bikin Malu!

Ada pepatah mengatakan, "Jangan kau tanya seseorang tentang perilakunya. Di wajahnyalah engkau tahu jawabannya". Dari wajah kit...

Ada pepatah mengatakan, "Jangan kau tanya seseorang tentang perilakunya. Di wajahnyalah engkau tahu jawabannya". Dari wajah kita akan tahu sifat seseorang dan dari wajah itu pula kita akan menyimpulkan kebaikan dan keburukan perilakunya. Lantas bagaimana kita tahu kebaikan dan keburukan perilaku seseorang hanya dari wajahnya?.

Wajah adalah organ utama bagi manusia. Ketika kita akan menentukan baik buruknya seseorang secara lahiriyah, kita cukup melihat wajahnya. Kita pun dapat menyimpulkan diri ini cantik atau tidak melalui wajah, hingga tidak sedikit upaya dilakukan untuk membuat wajah semakin cantik atau sekadar mempertahankan kecantikan yang telah ada. Dari wajah pula kebaikan atau keburukan seseorang terlihat, hingga syariah memberikan kelonggaran hukum, berupa diperbolehkannya melihat wajah dan telapak tangan bagi orang yang akan melamar, untuk menentukan keputusan. Namun, menentukan baik buruk seseorang melewati wajah, tidak semudah mengedipkan mata. Tidak banyak orang yang mampu, dan kita pun termasuk bagian dari orang-orang itu, hingga terjebak untuk memberikan keputusan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Semoga Allah menjauhkan kita dari prasangka buruk.

Ada pertanyaan menggelitik, "Mengapa orang terlanjur ngentut di depan orang lain merasa salah tingkah dan terkadang menutupi wajahnya?". Jawaban yang pasti benar adalah karena ia malu. Kalau kita memakai sistim ilmu mantiq, maka kita katakan, "Baik buruk seseorang tergantung pada kwalitas dan kuantitas malu yang ada pada dirinya". Ini qadhiyah pertama. Qadhiyah kedua; "Malu itu tampak dari wajah". Natijah-nya: "Baik buruk seseorang bisa dilihat dari wajahnya". Begitulah kira-kira.

Memang, sifat malu adalah sebuah petunjuk adanya kebaikan dalam diri. Sebaliknya, tidak bersemayamnya malu dalam diri adalah sebuah bukti adanya perilaku buruk dalam diri. Rasulullah SAW bersabda:

الحياء لا يأتي إلا بخير

“Malu tidak akan datang kecuali mem-bawa kebaikan”. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna malu (al-haya’), diantaranya mereka memberikan pengertian, malu ialah sebuah perilaku yang menggugah seseorang berbuat kebaikan dan mening-galkan keburukan. Ada lagi yang mendefinisikan, malu ialah takut dicela, jika ada penisbatan buruk pada dirinya.

Jika malu diartikan demikian, maka ia adalah sifat yang akan menghalang-halanginya dari keburukan dan mence-gahnya berbuat sesuatu yang menimbul-kan dirinya dicela dan dihina. Inilah sifat dan perilaku terpuji yang tidak memberi-kan sesuatu kecuali kebaikan.

Sebaliknya, jika rasa malu tidak terlin-tas dalam wajah seseorang, maka kebu-rukan dan kelakuan-kelakuan tercela yang akan selalu ia lakukan. Ia tidak akan peduli dosa, nista, hina dan segala dampak yang akan diperoleh dari perbuatan tidak punya malu itu. Ia juga tidak peduli dengan segalanya, yang penting keinginan dirinya terwujud, kesenangannya tercapai dan kemewahan dunia dapat ia peroleh.

Ada tiga macam malu, yang jika semua-nya ada dalam diri seseorang, ia akan memperoleh kesempurnaan dalam kebaikan, dan terbebas dari segala bentuk keburukan. Ia pun berjalan dalam keutamaan dan terkenal dalam kemuliaan. Tiga macam malu itu ialah, malu pada diri sendiri, malu pada orang lain dan malu kepada Allah SWT.

Malu kepada diri sendiri akan melahir-kan sifat iffah, yakni sifat yang memberi-kan seseorang kemampuan mencegah diri dari hal-hal yang tidak halal dan tidak baik, meski dalam kesendirian. Para ahli hikmah mengatakan, “Jadikan rasa malumu pada diri sendiri lebih banyak dari pada rasa malumu pada orang lain”.

Malu pada orang lain ialah sifat malu yang membuat seseorang mencegah diri melakukan perbuatan nista dan meninggalkan perbuatan buruk secara terang-terangan. Walaupun sifat malu semacam ini merupakan sarana untuk memperoleh nilai plus dari orang lain, namun sifat ini harus ada dalam diri seseorang, minimal berguna meminimalisir perbuatan buruk yang dilakukan dan menekan angka perbuatan baik dalam raport amal, hingga terbiasa berbuat baik dan terbawa dalam kesendirian. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa takut kepada Allah, ia juga takut (dan malu) kepada orang lain (untuk melakukan keburukan)”.

Malu kepada Allah, sesuai dengan sabda Rasulullah adalah pilar iman; menjunjungnya setinggi-tingginya. Jika pilar ini roboh, maka iman yang ada di atasnya akan ambruk dan hancur berserakan. Dengan malu semacam ini, manusia, akan terdorong melakukan segala perintah dan meninggalkan segala laranganNya, fissirri wal ‘alaniyah, dengan tingkat kesadaran dan keikhlasan yang tinggi Tidak terbesit dalam hatinya keinginan untuk memperoleh bagian dunia.

Semoga Allah menerima segala amal baik, dan melanggengkannya dengan taufiqNya, hingga terpanggil kehadapanNya. Amin Ya Robbal 'alamin.

Related

Akhlaq-Tashawuf 4331646276470325661

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item