Telaah Aqidah Syiah Dan Ahlussunnah

Ketika Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu, para sahabat bertanya: &qu...

Ketika Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu, para sahabat bertanya: "Siapakah golongan yang selamat itu?". Rasulullah menjawab bahwa mereka ialah orang golongan yang mengikuti sunnah Rasullah SAW dan sunnah para sahabat.

Saat ini, ketika banyak kelompok yang mengklaim dirinya sebagai kelompok yang selamat (al-firqah an-najiyah), kita tentu bingung kelompok manakah yang selamat. Sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW, kelompok yang selamat ialah kelompok yang perpegang teguh kepada sunnah Rasulullah dan sunnah para sahabat. Lantas kelompok mana yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah dan sunnah para sahabat? Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :

فإذا رأيتم الإختلاف فعليكم بالسواد الأعظم ، رواه ابن ماجه

"Maka ketika kalian melihat perpecahan, maka berpegang teguhlah dengan apa yang menjadi keyakinan dan pendapat kelompok terbesar". (HR. Ibnu Majah).

Syeikh As-Sindi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan as-sawad al-a'dham pada hadits tersebut di atas ialah kelompok terbesar umat islam dimana kesepakatan mereka mendekati ijma'. Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa as-sawad al-a'dham ialah mayoritas umat islam. Dalil atas pendapat kedua imam ini ialah sabda Rasulullah SAW:

إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة أبدا ، رواه الترمذي

"Sesunggunya Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam sesesatan selamanya". (HR. At-Tirmidzi) .

Imam Al-Bajuri mengatakan bahwa wajib bagi para mukallaf mengenal setiap kelompok-kelompok dan keyakinan mereka, walaupun secara global. Hal ini disebabkan akan semakin banyaknya kelompok yang menyimpang dan keluar dari jalur yang dibenarkan, agar kita tidak terjebak dalam keyakinan mereka .

Salah satu kelompok yang saat ini mulai semarak dan bahkan mampu mempedaya banyak kalangan awam untuk masuk ke dalam kelompok ini, ialah syiah. Inilah kelompok sempalan yang didukung dengan dana yang besar dari Iran –sebagai pusat penyebarannya—dan didukung oleh kalangan habaib yang kurang begitu jeli dalam menanggapi dan memilah-milah antara haq dan bathil.

Dalam tubuh syiah, juga terjadi perpecahan, dimana satu dengan yang lain saling mengkafirkan dan mensesatkan. Namun, tulisan ini hanya akan membahas sebagian dari aqidah-aqidah kelompok syiah itsna asyariyah (imamiyah).

Syiah ialah kelompok sempalan yang menganut paham mencintai ahlul bait Rasulullah SAW, namun pada kenyataannya tidak demikian. Mereka mengaku sebagai pengikut pembesar-pembesar ahlul bait semisal Al-Hasan dan Al-Husein, Ali bin Abi Thalib, Al-Husein bin Zaid dan Ja'far As-Shadiq (radliyallahu 'anhum), dan mereka melaknat dan menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah bin Abi Sufyan, Amr bin Ash dan para pengikutnya. Sebenarnya Rasulullah telah memperingatkan akan kemunculan kelompok ini, sebagaimana hadits riwayat Al-Imam Ahmad, Ad-Daruqutni, Adz-Dzahabi, dan At-Thabrani dari mayoritas sahabat, diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib:

سيأتي من بعدي قوم لهم نبز يقال لهم الرافضة ، فإن أدركتهم فاقتلوهم فإنهم مشركون : قال علي كرم الله وجهه : قلت يا رسول الله : ما العلامة فيهم ؟ قال: يقرظونك بما ليس فيك ويطعنون على السلف  ، رواه أحمد والدارقطني والطبراني
 
Artinya: "Akan datang sesudahku kaum yang mempunyai julukan rafidhoh. Jika kamu menemuinya,maka perangilah, karena sesusungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik". Ali KW berkata: "Apa tanda-tanda mereka?". Rasulullah SAW manjawab: "Mereka memujimu dengan sesuatu yang tidak ada dalam dirimu dan mereka menghujat para sahabat". (HR. Ahmad, Ad-Daruquthni, dan At-Thabrani) .

Disebut Imamiah atau Itsna 'Asyariah (Dua Belas Imam); sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:
  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja'far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
Dilihat dari 12 pemimpin-pemimpin yang mereka yakini, mereka tentu saja tidak mengakui kekhalifahan tiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagaimana keyakinan ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan, ketiga khalifah tersebut dianggap telah merampas hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, dan melaknat ketiganya dan menganggap mereka keluar dari Islam. Adapun dalil yang mereka pergunakan ialah Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ  المائدة: 55

Artinya : “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al-Maidah: 55)

Sebagian ahli tafsir berpendapat ayat ini turun mengenai Abdullah bin Salam (mu`alaf yahudi) yang mengeluh pada Rasul mengenai rasa kesepian karena dikucilkan kaumnya . Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar. Dari Ibnu Abbas sendiri terdapat dua riwayat, yang pertama  menyatakan ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali , sedangkan riwayat kedua menyebutkan sebab turun ayat ini adalah Ubadah bin Shamit, ketika beliau membatalkan ikatan persekutuan dengan Yahudi.

Kalaupun kita mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai Imam Ali,  itu tidak berarti hukum ayat ini khusus bagi Imam Ali. Karena yang digunakan dalam ayat ini  adalah ungkapan untuk orang banyak (shigoh jamak/plural) bukan ungkapan untuk satu orang (single). Ungkapannya yaitu, “orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” Dalam kaidah tafsir disebutkan, yang dijadikan patokan adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab . Jadi, semua orang mukmin yang memiliki sifat sesuai dengan apa yang disebut ayat diatas layak untuk dimasukkan dalam kategori Wali, tidak hanya Imam Ali seorang. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Imam Abu Ja`far, Muhammad Al Bagir (Tokoh Tabi`in yang diagungkan Ahlu Sunnah maupun Syiah) ketika beliau ditanyakan mengenai ayat ini, apakah ayat ini khusus turun mengenai Imam Ali, Beliau menjawab “Ali adalah salah seorang dari orang-orang mukmin” . Maksudnya, yang dimaksud wali dalam ayat tersebut adalah setiap mukmin yang sifatnya sesuai dengan apa yang disebutkan dalamnya, dan Imam Ali termasuk salah satunya.

Tidak seperti rukun iman dalam ahlussunnah wal jamaah, rukun imam ala syiah ialah :
  1. Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi'ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma'ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan .
Dari rukum iman ini, maka syahadat kaum syiah tentu berbeda dengan syahadat kaum muslimin pada umumnya. Syahadat mereka adalah dengan menambah penyebutan keduabelas imam mereka.

Membahas akidah-akidah syiah itsna asyariah tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan seperti ini, dibutuhkan berjilid-jilid buku untuk memaparkan sekaligus membantahnya. Akidah syiah diatas adalah sebagian kecil. Maka, berikut ini adalah beberapa akidah syiah yang tentu saja berbeda dengan ahlussunnah wal jamaah :

Ahlussunnah  meyakini bahwa khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Mereka dapat berbuat salah, dosa dan lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi. Sementara Syiah menganggap bahwa para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma'shum, seperti para Nabi.

Mencaci-maki dan melaknat para sahabat tidak diperbolehkan dalam Ahlussunnah wal Jamaah, bahkan para pelaknat shahabat dapat dianggap kufur. Dalam Syiah, mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa, termasuk Sayyaidah Aisyah ummul mukminin, istri Rasulullah SAW, bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai'at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

Menurut kaum Syiah, Al-Qur'an yang ada sekarang ini tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah). Dan mereka mempunyai Al-Qur'an versi mereka yang tentu tidak sama dengan Al-Qur'an yang selama ini menjadi pegangan Ahlussunnah Wal Jamaah.

 Aqidah Raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah menurut Syiah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya. Diceritakan bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi (menurut versi mereka) akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai'at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Mut’ah (kawin kontrak) menurut Ahlussunnah sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Sedangkan Syiah sangat menganjurkan Mut’ah hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Ahlussunnah mengharamkan khamer (arak) dan mengganggapnya najis. Sedangkan Syiah menganggapnya halal dan suci.

Demikian diatara sederetan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar kita memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushul (dasar agama) .
Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat dimaklumi, sebab mereka juga mempunyai aqidah taqiyah, aqidah yang mewajibkab warga syiah untuk tidak menampakkan aqidah dan tata cara ibadah mereka di depan orang-orang non Syiah.

Semoga Allah selalu memperlihatkan kepada kita kebaikan sebagai sebuah kebaikan serta memberikan petunjuk kepada kita untuk menjalankannya. Dan semoga Allah memperlihatkan keburukan sebagai keburukan dan tidak menyamarkannya, hingga kita tidak menuruti keinginan hawa nafsu. Amin.

Referensi :
Ba'alawi, "Al-Ajwibah Al-Ghaliyah Fi 'Aqidah Al-Firqah An-Najiyah", Jedah, Dar al-Ulum wad Da'wah, hlm. 49-50.
Al-Bajuri, "Tuhfatul Murid Syarh Jauharah At-Tauhid", hlm. 21
Ba'alawi, Al-Ajwibah ad-Damighah fi radd ala Aqidah As-Syiah az-Za'ighah", hlm. 197
http://id.wikipedia.org/wiki/Syi'ah#Dua_Belas_Imam
Al-Jalalain, "Tafsir Al-Jalalain", Juz. 2 hlm. 233
Ar-Razi, "Tafsir Ar-Razi", Juz. 6 hlm. 87
Tafsir Al-Khazin, Juz 2 hlm. 302
As-Shawi, "Tafsir As-Shawi", Juz 1 hlm. 383-384
Ar-Razi, Loc.cit. Juz. 2 hlm. 87
http://id.wikipedia.org/wiki/Syi'ah#Doktrin
http://www.albayyinat.net/jwb5ta.html

Related

syiah 6292522889751032569

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item