Ketika Ibadah Dipertuhankan

Dalam benak kebanyakan orang, ketika melakukan ibadah seperti shalat, puasa, sadaqah dan lain sebagainya, terbayang rahmat Allah beru...

Dalam benak kebanyakan orang, ketika melakukan ibadah seperti shalat, puasa, sadaqah dan lain sebagainya, terbayang rahmat Allah berupa pahala surga, diringankannya kesempitan, terkabulkannya keinginan, atau balasan-balasan lain yang memang telah dijanjikan Allah melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang, balasan-balasan yang dijanjikan tersebut yang didukung dengan kejadian nyata, atau kisah-kisah yang pernah dialami seseorang, merupakan motifasi yang paling kuat untuk menggerakkan tubuh ini, melakukan ibadah dan perbuatan baik.

Sebagai contoh adalah shalat dluha 8 rakaat dilanjutkan dengan doa sesudahnya, jika diistiqamahkan akan membuat seseorang serba berkecukupan dan bebas dari kesusahan. Tentu saja, setelah dikuatkan oleh testimoni-testimoni yang disampaikan oleh orang-orang terpercaya dari kalangan ulama, akan membuat seseorang rajin melakukan shalat dluha dengan tujuan kesempitan dan kesusahan yang ia alami segera dihilangkan oleh Allah. Dan pada tingkat yang paling parah adalah timbulnya keyakinan bahwa, hilangnya kesempitan dan kesusahan disebabkan oleh shalat dluha yang rajin ia lakukan.

Dalam kasus yang lebih umum, ibadah berupa menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi laranganNya hanya dijadikan ajang untuk mendapatkan kenikmatan surga dan menghindarkan diri dari jurang-jurang neraka. Dalam kasus ini ada anggapan bahwa hanya dengan ibadah, seseorang akan mendapatkan surga dan dibebaskan dari neraka. Anggapan inilah yang menjadi motifasi kuat bagi seseorang untuk melakukan ibadah sekuat tenaga. Ibarat bisnis, seolah kita bekerja untuk Allah, melakukan shalat, menuaikan puasa, dan menghindari maksiat, demi mendapatkan bayaran surga, atau bayaran-bayaran lain, baik yang diberikan di dunia atau ditangguhkan pada saat hari akhir.

Ungkapan kasar untuk masalah yang diuraikan di atas adalah mempertuhankan ibadah, menomorduakan Allah Azza Wa Jalla. Inilah salah satu bentuk kekufuran yang tanpa sadar meracuni keimanan. Memang syetan selalu berperan aktif dalam usaha menjerumuskan manusia dari jalan kebenaran.

Bagaimana aqidah yang benar dalam masalah ini? Syeikh Al-Bajuri dalam “Jauhar at-Tauhid” mengatakan:

فإن يثبنا فبمحض الفضل ** وإن يعذب فبمحض العدل

“Jika Allah memberi kita pahala, maka itu karena anugerahNya. Dan jika di memberi kita siksa, maka itu adalah bentuk keadilanNya”.

Ini adalah aqidah yang harus diyakini oleh setiap muslim dan merupakan manhaj ulama salaf shalih ridlwanullah ‘alaihim.

Allah SWT adalah raja dari segala raja. Sementara manusia dan semua makhluk adalah hamba. Lalu, apakah pantas jika seorang hamba bekerja untuk sang Raja hanya untuk mendapatkan bayaran. Seorang hamba semestinya bekerja untuk raja bukan untuk dirinya sendiri, apalagi semua yang ada dalam diri seseorang, mulai dari keindahan tubuh, kecerdasan otak, kekuatan badan, dan segala bentuk potensi yang ada adalah milikNya. Apakah yang dapat kita lakukan jika semua itu Dia tarik kembali?.

Memang Allah menjajikan imbalan bagi orang yang mau beribadah, menjalankan perintah dan menjauhi larangannya serta berbauat baik. Jika hanya imbalan menjadi tujuan, sementara Allah sendiri sebenarnya sama sekali tidak membutuhkan ibadah dilakukan, maka apakah yang akan didapat?. Dan apa yang dapat diperbuat, jika semua ibadah tersebut ditolak oleh Allah?

Bayangkan! Jika ada orang telah berjasa besar kepada kita, lalu ia meminta kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat membandingi jasa yang telah ia berikan, tetapi kita malah meminta upah atas pekerjaan yang ia minta, maka dimanakah rasa terima kasih kita kepadanya yang telah berjasa besar? Allah SWT telah memberi kita segala-galanya; segarnya udara, nikmat kesehatan, anggota tubuh, rizki yang kita makan setiap hari, dan semua yang kita miliki saat ini, kemarin dan masa yang akan datang. Sungguh keterlauan ketika Allah meminta kita melakukan ibadah kepadaNya, kita malah menuntutNya memberikan sesuatu yang lain.

Lagi pula cahaya iman dalam hati, kemampuan dan semangat melakukan ibadah, pengetahuan membedakan hak dan batil, serta kecenderungan hati kepada kebaikan dan berpalingnya hati dari keburukan, adalah anugerah dari Allah SWT, bukan hasil jerih payah kita, bukan pula inisiatif dari kita sendiri. Masihkah terbayang dalam benak kita upah ibadah yang kita lakukan? La laula wala quwwata illa billah (tiada kemampuan menghindari maksiat dan tidak ada kekuatan melakukan taat, kecuali dengan pertolongan Allah yang maha besar).

Maka, jangan sekali-kali menjadikan dan mengandalkan ibadah dan perbuatan baik untuk mendapat ridlo dan pahala, serta apa yang telah dijanjikan Allah SWT. Yakinlah bahwa ridlo Allah dan segala bentuk pemberian Allah adalah murni kasih sayang, kedermawanan dan anugerah Allah SWT. Dalam hadits disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لن يدخل أحدكم الجنة عمله ، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمته (رواه البخاري)

Rasulullah SAW bersabda: “Amal salah satu dari kalian tidak akan memasuknya ke surga”. Para Sabahat bertanya: “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?”. Rasulullah bersabda: “Tidak juga aku, kecuali Allah memberikan rahmatNya kepadaku”. (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Atha’illah As-Sakadari dalam al-Hikam menyebutkan: “Diantara tanda bersandarnya seseorang pada amal ibadahnya ialah terjadinya degradasi harapan, saat terjatuh dalam kesalahan”.

Ketika kita mengharap ampunan dan ridlonya, kemudian kita terpeleset dalam sebuah dosa, lalu harapan tersebut berkurang atau hilang, maka dipastikan kita masih bersandar kepada amal ibadah, dan kita masih mempertuhankan ibadah. Wallahu A’lam

Related

Akhlaq-Tashawuf 6701677568571833996

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item