7 Ketepatan Umar Bin Khathab Terhadap Wahyu


Umar bin Khathab Al-Qurasyi Al-‘Adawi t adalah khalifah kedua Khulafaur Rasyidin dan salah seorang dari sepuluh sahabat yang diberi kebahagian dengan surga (al-‘Asyrah al-mubasyarûn bin Jannah). Dia dikenal dengan keadilan, kebijaksanaan, dan ketegasannya. Kemasyhuran tentang dirinya sudah dianggap cukup untuk tidak memperpanjang ulasan tentang dirinya.
Dalam catatan ini, hanya akan dipapar-kan tentang tujuh dari sekian banyak ketepatan beliau terhadap wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah e, walaupun bukan hanya dirinya saja yang mempunyai keistimewaan ini. Ada juga sahabat lain yang mempunyai ketepatan dengan wahyu, meski tidak seterkenal Umar, seperti Abu Bakar dan Mush’ib bin Umair.
Memang! Ada beberapa perkara dan kejadian yang dijelaskan al-Quran tepat dengan pendapat dan mimpi Umar. Terkadang lafadz al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah e mendekati lafadz yang disampaikan Umar t sebelumnya. Menurut riwayat yang dishahîhkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Umar, Rasulullah e bersabda:
إِنَّ اللهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ
“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya”.
Al-Imam As-Suyuthi ketika ditanya tentang ketepatan Umar terhadap wahyu, beliau menjawabnya dengan 19 bait nazam berbahar rajaz yang beliau beri judul “Qathf ats-Tsimâr fi Muwafaqât Umar”. Dan berikut ini adalah ketepatan-ketepatan sahabat yang juga menjadi besan dari Rasulullah tersebut.
1. Maqam Ibrahim
Maqam Ibrahim adalah tempat dimana sebongkah batu yang dijadikan tempat berpijak Nabi Ibrahim saat beliau bersama nabi Ismail, putera beliau membangun Ka’bah diletakkan.
Diceritakan dari Anas bin Malik bahwa sayyidina Umar menceritakan bahwa dirinya sesuai dengan Allah dalam tiga perkara, diantaranya adalah saat ia mengutarakan pendapatnya kepada Rasulullah e: “Wahai Rasulullah! (Bagai-mana jika) seandainya kita menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?”.
Kemudian turunlah ayat:
وَٱتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ مُصَلّٗىۖ  [البقرة: 125]
Artinya: “Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”. (Al-Baqarah: 125)
2. Tawanan Perang Badar
Saat perang Badar dan Allah memberikan kemenangan kepada Rasulullah e dan para sahabat, ada beberapa orang Quraisy yang berhasil ditawan. Rasulullah e bermusyawarah dengan para sahabat tentang apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan itu. Abu Bakar berpendapat agar para tawanan dibebaskan dengan fidyah (tebusan), guna memperkuat pendanaan dan berharap mereka mendapat hidayah dari Allah. Sementara Umar berpendapat tawanan itu sebaiknya dihukum mati, mengingat mereka adalah para pemimpin kuffar yang berhati keras. Rasulullah tampaknya memilih apa yang disampaikan Abu Barar. Namun, keputusan belum diambil setelah kemudian Allah menurunkan ayat:
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ [الأنفال: 67]
“Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu meng-hendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghen-daki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 67)
3. Ayat Mudzaharah dan Ayat Hijab
Yang dimaksud mudzaharah dalam hal ini ialah upaya yang dilakukan secara bersama-sama oleh para isteri beliau terutama Aisyah dan Hafshah, berupa sikap yang membuat Rasulullah e tidak senang dan merasa tersakiti. Hal ini lantaran kecemburuan yang timbul dari masing-masing hati mereka kepada Rasulullah e.
Sayyidina Umar, ketika mengetahui itu berusaha memberikan nasehat kepada mereka untuk tidak meneruskan apa yang mereka lakukan. Kepada Hafshah Umar berkata: “Demi Allah aku telah mengetahui bahwa Rasulullah tidak menyukaimu. Andai aku tidak ada, mungkin beliau telah mentalaqmu!”. Hingga membuat Hafshah yang meru-pakan puterinya sendiri itu menangis.
Umar berkata: “Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu”.
Kemudian turunlah ayat:
إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَاۖ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ٤ عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥
“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu me-nyusahkan nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah pe-nolongnya pula. Jika nabi menceraikan ka-mu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang ber-iman, yang taat, yang bertaubat, yang me-ngerjakan ibadat, yang berpuasa, yang jan-da dan yang perawan”. (QS. At-Tahrim 4-5)
Ayat hijâb adalah ayat yang memerintahkan para isteri Rasulullah e untuk berhijab, dan menutup diri dari pandangan orang lain. Ayat ini turun setelah Umar mengutarakan pendapat kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Andai engkau membuat hijâb atas isteri-isterimu! Karena yang masuk atas mereka ada yang baik da nada yang jahat”.
4. Ayat tentang Yahudi yang memusuhi Jibril
Menurut orang-orang Yahudi Malaikat Jibril adalah musuh mereka. Sedangkan Mikail adalah teman mereka. Apa yang menjadi anggapan orang Yahudi ini pernah didengar langsung oleh Umar tatkala ia me-lewati tempat belajar orang-orang Yahudi. Lalu ia berkata: “Barang siapa menjadi musuh bagi salah satunya (Jibril dan Mikail), maka juga menjadi musuh bagi yang lain. Barang siapa menjadi musuh keduanya, maka ia juga menjadi musuh bagi Allah”.
Sementara itu, Rasulullah e baru saja mendapat wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril, yaitu firman Allah:
قُلۡ مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّجِبۡرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلۡبِكَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَهُدٗى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٩٧ مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبۡرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ ٩٨ [البقرة: 97-98]
Artinya: Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu Telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.  Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-ma-laikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 97-98)
Ketika Umar datang kepada Rasulullah e, dan mengabarkan apa yang telah didengarnya, beliau bersabda:
لَقَدْ وَافَقَكَ رَبُّكَ يَا عُمَرُ
Artinya: “Sungguh Tuhanmu telah mene-patimu wahai Umar!”.
Lalu Umar berkata: “Sungguh engkau akan melihatku dalam agama Allah setelah itu, lebih keras dari pada batu”.
5. Ayat Pengharaman Khamr
Pada masalah ini mungkin tidak terhitung ketepatan Umar terhadap wahyu dengan makna yang jelas. Namun hal ini dapat dimasukkan kepada masalah yang mana yang menjadi penyebab adalah Umar bin Khathab. Diriwayatkan oleh Abi Daud bahwa ketika turun ayat yang menjelaskan status khamr, Umar bin Khathab berkata: “Ya Allah! Jelaskan kepada kami tentang khamr, penjelasan yang cukup!”.
Lalu turunlah ayat:
يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٞ كَبِيرٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ [البقرة: 219]
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu ten-tang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia’”. (QS. Al-Baqarah: 219)
Umar dipanggil Rasulullah t dan diba-cakan kepadanya ayat tersebut. Kemudian ia berkata lagi: “Ya Allah! Jelaskan kepada kami tentang khamr, penjelasan yang cukup!”.
Allah I kemudian menurunkan ayat:
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ [النساء: 43]
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk”. (QS. An-Nisa’: 43)
Mendengar ayat tersebut, Umar berkata lagi: Ya Allah! Jelaskan kepada kami tentang khamr, penjelasan yang cukup!”.
Maka turunlah ayat:
إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ فِي ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِ وَيَصُدَّكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ [المائدة: 91]
Artinya: “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusu-han dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (QS. Al-Maidah: 91)
Umar pun berkata: “Ya! Kami meng-hentikannya!”.
6. Ayat Tentang Halalnya bersetubuh di malam Ramadlan
Pada malam ramadlan melakukan hubungan dengan isterinya setelah shalat isya’ akhir di bulan ramadlan. Setelah mandi, ia menangis dan menyesalkan perbuatan itu. Lalu ia datang kepada Rasulullah e, dan mengabarkan ‘kesalahan’ yang telah ia lakukan. Lalu turun ayat:
أُحِلَّ لَكُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمۡۚ [البقرة: 187]
Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu”. (QS. Al-Baqarah: 187)
7. Ayat tentang Larangan menshalati orang munafiq
Ketika Abdullah bin Ubai bin Salul meninggal, datanglah Abdullah, anak pemimpin kaum munafik itu kepada Rasulullah e. Ia memohon kepada Rasu-lullah agar sudi memberikan gamis untuk mengkafani ayahnya. Ia juga memohon kepada beliau agar mau menshalatinya.
Rasulullah e lalu berdiri untuk melaku-kan shalat. Tiba-tiba Umar bin Khathab berdiri menarika baju Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah! Adakah engkau hendak menshalatinya, padahal Allah sungguh melarangmu melakukannya?”.
Rasulullah bersabda: “Allah memberikan pilihan kepadaku. Dia berfirman: ‘Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka’. (QS. At-Taubah: 80)”.
Beliau lalu menshalati pimpinan kaum munafiq itu, meski umar telah memperi-ngatkan beliau.
Setelah kejadian itu turunlah ayat:
وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰٓ أَحَدٖ مِّنۡهُم مَّـــــاتَ أَبَدٗا وَلَا تَقُمۡ عَلَىٰ قَبۡرِهِۦٓۖ إِنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَمَاتُواْ وَهُمۡ فَٰسِقُونَ [التوبة: 84]
Artinya: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka Telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. (QS. At-Taubah: 84)


***

Related

Khazanah 8947494611018408450

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item