Mu'jizat Nabi Yusya' dan Rasulullah


Pada jaman dahulu, seorang nabi dari Bani Israil setelah wafatnya Nabi Musa bersama kaumnya datang ke Baitul Maqdis untuk membebaskan kota itu dari penjajahan negara kafir. Hari itu adalah hari jumat setelah ashar mendekati terbenamnya matahari. Dia berpikir bahwa pembebasan kota harus diselesaikan hari ini, karena tidak mungkin pembebasan itu dilakukan besok hari sabtu, karena hari sabtu adalah hari yang dimuliakan oleh Bani Israil. Di hari Sabtu Allah melarang mereka melakukan aktifitas duniawi termasuk melakukan peperangan.

Sang Nabi memandang ke arah matahari dan berkata: “Wahai Matahari! Engkau diperintah untuk terbenam, sementara aku diperintah untuk membebaskan kota ini hari ini”.

Lalu ia berdoa kepada Allah: “Ya Allah! Tahanlah matahari (jangan sampai terbenam)!”

Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doanya. Allah menahan matahari agar tidak tenggelam, hingga Sang Nabi memperoleh kemenangan dan membebaskan Baitul Maqdis dari kekuasaan kaum kuffar, sebelum matahari terbenam.

Nabi itu adalah nabi Yusya’ bin Nun bin Afra’im bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim alahimus salam. Dalam literatur kristen dikenal dengan Joshua.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ لِبَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِس

Artinya: “Sesungguhnya matahari tidak ditahan (untuk terbenam) kecuali untuk nabi Yusya’ alaihissalam”. (HR. Ahmad)

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi yang paling sempurna. Beliau mempunyai mu’jizat yang sama dan melebihi mu’jizat nabi-nabi terdahulu. Bahkan berkat kemuliaan Rasulullah, para wali Allah yang menjadi umat beliau dianugerahi karamah oleh Allah sama seperti mu’jizat para nabi terdahulu. Apa yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Yusya’ juga pernah dianugerahkan Allah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ada dua kejadian dimana Allah menahan matahari untuk terbenam. Yang pertama adalah apa yang telah diriwayatkan oleh At-Thahawi. Yaitu ketika beliau sedang mendapatkankan wahyu dari Allah, sementara kepala beliau yang mulia berada dalam pangkuan Sayidina Ali karramallahu wajhah. Beliau tidak mengangkat kepala beliau dari pangkuan Ali sebelum wahyu tersebut tuntas beliau terima hingga matahari mulai terbenam. Padahal saat itu sayyidina Ali belum melakukan shalat ashar.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memohon kepada Allah: “Ya Allah! Sesungguhnya Ali berada dalam taat kepadaMu dan taat kepada RasulMu. Maka kembalikanlah matahari itu!”.

Allah langsung mengabulkan permintaan beliau. Matahari kembali naik hingga dapat terlihat kembali. Kemudian sayyidina Ali bin Abi Thalib melakukan shalat ashar. Sesudah itu mataharipun terbenam.

Kedua, ketika waktu subuh setelah Rasulullah melakukan isra’ mi’raj. Saat itu Rasulullah mengabarkan kepada kaum Quraisy tentang perjalanan beliau ke Baitul Maqdis yang ditempuh tidak sampai semalam. Kaum Quraisy bertanya tentang keadaan di Baitul Maqdis. Allah memperlihatkan keadaan Baitul Madis kepada Rasulullah, hingga beliau benar-benar melihat langsung ke sana. Lalu menjelaskannya kepada kaum Quraisy.

Ketika mereka bertanya tentang rombongan dagang mereka yang sedang pergi ke Baitul Maqdis, Rasulullah menjawab: “Mereka datang  kepada kalian bersamaan terbitnya matahari”.

Allah menahan matahari tidak segera terbit, hingga rombongan dagang itu, hingga benar-benar datang bersamaan dengan terbitnya matahari.

Itulah diantara keutamaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.


Related

Sirah Nabawiyah 3337622184249818871

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item