Kisah Ditulisnya Nadzam Aqidatul Awam


Aqidatul Awam adalah kitab berbentuk nazam yang sangat barakah. Semua penganut Ahlussunnah Waljamaah pasti mengenal kitab yang disusun oleh Sayyid Ahmad Al-Marzuqi ini. Setiap pesantren pasti tidak lupa menjadikan kitab yang membahas akidah ini sebagai mata pelajaran wajib. Bentuk nadzamnya yang ber-bahar rajaz, serta jumlah baitnya yang tidak terlalu banyak, membuat kitab ini mudah dihafal, terutama oleh anak-anak santri seusia sekolah dasar.

Di kalangan ulama, kitab ini merupakan bagian dari kitab-kitab penting di dalam menanamkan akidah yang benar, yang sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah yang menjadi satu-satunya golongan yang selamat, sesuai informasi yang disampaikan Rasulullah e. Perhatian ulama kepada kitab ini sungguh besar. Perhatian besar mereka diwujudkan dalam karya-karya tulis mereka yang mensyarahi kitab ini, disamping mewajibkan murid-murid mereka untuk menghafalkannya. Tercatat, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, memberikan syarah dalam kitabnya yang berjudul Nurudz Dzalam dan Syaikh Abdullah Mirdad dalam kitabnya yang diberi nama Faidlul ‘Allam.

Sayyid Ahmad Al-Marzuqi sebagai penyusun nadzam ini, adalah salah satu dzurriyah Rasulullah e. Beliau yang merupakan syarif al-Hasani dari jalur ayah dan Al-Husaini dari jalur ibu lahir di Sinbath pada pertengahan tahun 1205 H. dan wafat pada tahun 1262 H. Beliau adalah mufti madzhab Malikiyah di Mekah, menggantikan saudaranya yaitu Sayyid Muhammad pada tahun 1261 H, disamping istiqamah mengajar di Masjidil Haram. Al-Marzuqi adalah laqab-nya yang dinisbatkan kepada kakeknya, yaitu Sayyid Marzuq Al-Kafafi bin Sayyid Musa bin Abdullah Al-Mahdhi bin Imam Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, binti Rasulillah e.

Selain Aqidatul Awam serta syarahnya yang berjudul Tahshil Nailil Maram, karya beliau yang lain diantaranya adalah Syarah Maulid Syarafil Anam dalam bidang sirah nabawiyah, Al-Fawaid Al-Marzuqiyah yang mensyarahi Al-Ajurumiyah dalam fan Nahwu, dan nadzam dalam bidang Falak.

Kemasyhuran dan barakah kitab ini bukan tanpa alasan. Keikhlasan, kezuhudan dan sikap wira’i yang dimiliki ulama yang dimakamkan di Ma’la ini, adalah salah satu alasan mengapa kitab abda’ubis ini menjadi begitu berbarakah. Dan konon, penulisan terhadap nadzam ini, diajarkan langsung oleh Rasulullah e.

Diceritakan bahwa pada malam jumat pertama bulan Rajab tanggal 5 tahun 1258 H, beliau bermimpi bertemu Rasulullah e bersama para sahabat yang berdiri di sekeliling beliau. Rasulullah e bersabda: “Bacalah nadzam tauhud yang mana bila ada orang yang menghafalkannya akan masuk surga dan akan mendapatkan tujuan dari setiap kebaikan yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”.

Sayyid Ahmad Al-Marzuqi bertanya: “Apakah nadzaman itu, Wahai Rasulullah ?!”.

Para sahabat berkata: “Dengarkanlah apa yang disabdakan Rasulullah!”.

Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah:

أَبْدَأُ بِاسْمِ اللهِ وَالرَّحْمٰنِ

Didengarkan oleh Rasulullah, Sayyid Ahmad al-Marzuqi membacakannya, hingga sampai pada bait:

وَصُحُفُ الْخَلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ * فِيْهَا كَلَامُ الْحَكَمِ الْعَلِيْمِ

Saat terbangun dari tidurnya, beliau merasakan apa telah dibacanya dalam mimpi telah tersimpan dalam hatinya hingga akhir.

Kemudian pada malam jumat saat waktu sahur tanggal 28 Dzul Qo’dah, beliau bermimpi lagi bertemu Rasulullah e untuk kedua kalinya. Dalam mimpi itu Rasulullah e bersabda kepadanya: “Bacalah apa yang telah engkau kumpulkan (dalam hatimu)!”.

Sayyid Ahmad al-Marzuqi membacanya dari awal hingga akhir di hadapan Rasulullah e. Sementara para sahabat mendengarkannya sambil berkata: “Amin!”, di setiap bait nadzam.

Selesai membaca, Rasulullah e bersabda: “Semoga Allah menunjukkanmu kepada jalan yang diridlaiNya, menerimanya, memberi barakah untukmu dan untuk orang-orang yang beriman, dan dapat dimanfaatkan oleh para hamba Allah. Amin!”.

Setelah nadzam ini diperkenalkan kepada masyarakat, mereka mempersoalkannya dan beliau menjawab:

وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُوْلُ * فَحَقُّهُ التَّسْلِيْمُ وَالْقَبُوْلُ

“Setiap apa yang dibawa Rasulullah, maka haknya adalah harus diterima”.

Setelah itu beliau melanjutkan bait nadzam Aqidatul Awam hingga selesai.

Maka, sangat tidak mengherankan jika kitab ini begitu masyhur. Karena kitab ini diajarkan Rasulullah dan didoakan oleh beliau agar dapat diambil manfaatnya oleh para hamba Allah. Bagaimana tidak? Kitab ini memuat ringkasan akidah Ahlussunnah Waljamaah, dan diajarkan oleh Rasulullah e, meski dalam mimpi. Dan bermimpi bertemu Rasulullah adalah sesuatu yang benar.

Rasulullah e bersabda:

مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِيْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِيْ (رواه البخاري وأحمد)

“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya syetan tidak akan bisa merubah tubuhnya seperti diriku”. (HR. Bukari dan Ahmad)

Mimpi yang benar seperti yang dialami oleh Sayyid Ahmad al-Marzuqi adalah bagian dari kabar-kabar gembira, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam:

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ

“Tidak ada yang tersisa dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.

Sabahat bertanya: “Apakah kabar gembira itu?”

Rasulullah menjawab: “Mimpi yang benar”.

Mimpi yang benar adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian, sebagaimana keterangan dalam hadits yang diriwayatkan dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim.

Mimpi seperti ini tidak hanya dialami oleh penyusun nadzam ini. Selain beliaupun dapat pula mengalaminya, seperti yang dialami oleh al-Imam As-Syathibi saat beliau merampungkan Mandzumah Syathibiah yang masyhur itu. beliau bertemu Rasulullah dalam mimpi dan membacanya mandhumah itu di hadapan Rasulullah e. Dalam mimpi itu rasulullah e bersabda: “Barang siapa menghafalkannya, maka ia akan masuh surga”.

Related

Khazanah 6825528980333607908

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Langganan Via Email

Statistik Blog

item