Peringatan Syahadah Tanpa Dendam Politik

Asyura adalah sebuah sebutan untuk bulan Muharram. Di bulan ini kita disunahkan untuk berpuasa, dan begitulah menurut syariat nabi-nabi...

Asyura adalah sebuah sebutan untuk bulan Muharram. Di bulan ini kita disunahkan untuk berpuasa, dan begitulah menurut syariat nabi-nabi Bani Israil juga. Belakangan hari Asyura lantas jadi hari anak yatim, untuk menandai gugurnya Sayyidina Husein Bin Ali ketika menegakkan nilai-nilai ketauhidan dan kemanusiaan. Sebab Sayyidina Husein putra Khalifah ke-4 itu teleh gugur sebagai syahid di padang Karbala dalam pertempuran melawan lasykar Yazid yang fasik.

Telah diriwayatkan bahwa wafatnya Sayyidina Husein ini akibat pengkhianatan pengikut beliau sendiri yang tidak setia. Simaklah misalnya kata-kata seorang penyair bernama Al-Farazdaq tatkala diutus Yazid untuk memonitor opini warga Iraq terhadap dirinya. Pulang dari sana ia menyampaikan berita yang sungguh tidak mengenakkan telinga. Dalam jawaban yang puitis, penyair Iraq itu berkata: "Qulubuhum ma'aka, wa sufufuhum alaika (hati mereka bersamamu, dan pedang-pedang mereka di atas kepalamu)". Kemudian sejak itu, teror terus menjadi-jadi, kemudian hal ini dijadikan semacam bidak politik untuk kekuasaan segelintir mereka yang fasik maupun yang pendukung opurtunis tersebut. Sampai kemudian terbunuhlah Sayyidina Husein sebagai syahid di Padang Karbala.

Momentum ini kemudian dijadikan tonggak pengikut ekstrim Sayyidina Husein dengan cara melembagakan dendam, yang tidak hanya ditujukan kepada yang terlibat, tetapi malah menggelinding dengan liar menjadi "bola politik" melalui gugatan dan tuntutan yang didukung riwayat-riwayat yang tidak jelas. Syi'al Ali yang dulu dalam pengertian pengagum Ali di zaman khalifah, sampai di sini mengalami transformasi. Bahkan wafatnya Sayyidina Husein lantas tidak saja dijadikan tonggak perlawanan, melainkan dibuat mulainya sebuah kelompok eksklusif yang cenderung sektarian dan mengarah pada pemisahan dari jama'ah.

Di sisi lain perlu diketahui, bahwa yang gugur di kalangan pahlawan Islam tidak sedikit. Juga dari kalangan Alhul Bait Nabi, ternyata tidak hanya Sayyidina Husein. Kakak beliau Sayyidina Hasan juga meninggal terbunuh, dan malah ayah beliau, Sayyidina Ali KW, gugur karena dibunuh Abdurrahman bin Muljam, seorang pendukung Khawarij dan menyempal dari barisan Ali. Paman Sayyidan Ali, yakni Sayyidina Hamzah bin Abdul Muththalib juga gugur, sebagai syuhada di Medah Uhud. Semuanya itu sama, sangat layak untuk dikenang sebagai peringatan.

Karena itu, haul Asyura sendiri baik, namun lebih baik bila kita mengenang semua pahlawan kita terutama jasa-jasa beliau dalam mengembangkan agama Islam, tanpa ada dendam dan tuntutan politik, tapi berupa renungan dan doa. Menyesali peristiwa lama, yang pada hakikatnya merupakan persoalan Allah semata, adalah kesia-siaan yang berlarut. Namun, mengapa ada yang seakan tidak mau menerima takdir Allah dan tetap menuntutnya?. Sebuah peringatan dengan menyiksa dengan dalil ikut merasakan sakitnya siksa yang dialami para syahid, adalah perbuatan yang melampaui batas, seakan para syuhada' itu tidak merasakan bahagia mendapat balasan besar dari Allah. Jika demikian, maka hasil yang diperoleh bukan hikmah dan nilai-nilai yang moral yang tinggi, melainkan hanya memupuk rasa dendam dan kebencian. Dan hal ini sangat berlawanan dengan semangat lapang dada dan murah maaf yang diajarkan Rasulullah SAW.

Seperti diceritakan dalam Hayah Ash-Shahabah, bahwa delapan tahun setelah pembunuhan Sayyidina Hamzah di Medan Uhud, Nabi menaklukkan kota Mekah. Sejumlah penentang misi Nabi lari ke Tha'if, salah satunya adalah si pembunuh Hamzah, Wahsyi. Sebagian lain merunduk takut melihat keperkasaan lasykar Islam, dan datang mengiba memohon pengampunan. Nabi bukannya membalas dendam atas perlakuan mereka kepada beliau sebelum hijrah ke Madinah. Perlakuan keji kaum Quraisy kepada beliau  dan para pengikutnya di masa lalu, seakan tidak pernah ada. Nabi memberikan amnesti.

Wahsyi yang secara sadis membunuh Sayyidina Hamzah, paman Nabi, mendengar kabar itu dan datang menemui Nabi, lalu berkata: "Wahai Muhammad! Mengapa Anda menerima saya?. Tidakkah Anda pernah berkata bahwa pembunuh, pezina dan orang musyrik adalah pelaku dosa besar dan dilipat gandakan siksanya di neraka dalam keadaan terhina?". Nabi lalu bacakan ayat Al-Qur'an mengenai orang yang bertaubat dan mengerjakan kebaikan. Maka dosa orang itu akan dihapus dan digantikan dengan kebaikan (QS.25:70).

Mendengar ayat itu, Wahsyi merasakan hal yang tersebut merupakan syarat yang berat. "Saya berat untuk melaksanakan itu, Wahai Muhammad!". Maka saat itu turunlah ayat yang berisi bahwa Allah akan mengampuni segala dosa kecuali dosa bila Dia diperskutukan (QS.4:48).

Laki-laki hitam dari Afrika ini masih belum puas dan bertanya lagi, "Adakah yang lain, Wahai Muhammad?".

Rasulullah membacakan ayat, "Katakanlah Wahai Muhammad, 'Wahai hamba-hambaku yang melanggar batas hingga mnerugikan dirinya sendiri! Janganlah berputus asa atas rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Karena Dia maha pengampun lagi maha penyayang". (QS.39:53). Wahsyi pun menerima, bersyahadat dan bertaubat.

Hikmah peristiwa ini sangat besar, sangat patut untuk kita teladani. Dan memang sudah seharusnya, pengikut Rasulullah SAW meneladani sifat-sifat terpuji dan akhlak mulia beliau, dan karena inilah Rasulullah SAW. diturunkan ke muka bumi ini. "Innama bu'istu li'utammima makarimal akhlak (Aku hanya diutus untuk menyempurnakan tata krama yang mulia)".

Jika kita merasa sebagai pecinta Rasulullah SAW, lenyapkanlah jauh-jauh perasaan dendam, apalagi dendam politik yang ditujukan kepada sesam saudara muslim. Wallahu a'lam bish shawab.

Sumber: Majalah Cahaya Nabawi, Edisi: 48/Th. V Muharram 1428/Februari 2007.

Related

syiah 8908264173060425281

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item