BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat pedesaan pada umumnya cenderung menganggap bahwa permulaan perkembangan psikologis dimulai pada saat anak dilahirkan. Akibat kecenderungan ini, kebanyakan mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis anak pada masa prenatal, dimana masa prenatal ini –menurut banyak penelitian-- adalah penentu dan pembentuk karakter dan tingkah laku anak sesudah lahir.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa yang masih memegang adat-istiadat kuno, masa prenatal sebenarnya banyak mendapat perhatian. Hal ini dapat dicontohkan dengan semisal anggapan bahwa, jika ayah atau ibu atau keduanya benci kepada seseorang, maka anaknya akan mirip orang yang dibenci tadi. Anggapan semacam ini masih dianggap takhayul dan belum bisa dinalar secara ilmiyah.

Islam adalah satu-satunya agama yang memperhatikan masa prenatal. Hal ini bisa dibuktikan bahwa dalam kandungan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits nabi terdapat isyarat-isyarat yang mengindikasikan faktor genetika dan herediter, yang tidak ditemukan pada kitab-kitab suci agama lain. Islam juga mengajarkan bagaimana cara mendapatkan anak yang sholih sholihah dengan memperhatikan masa prenatal kelahiran.

B. Rumusan Masalah
Ada beberapa masalah yang perlu dikaji dalam masalah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal kelahiran, diantaranya:
  1. Sejauh manakah pengaruh prenatal kelahiran bagi psikologi anak
  2. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan masa prenatal kelahiran terhadap psikologi anak
  3. Apa saja yang harus dilakukan pada masa prenatal kelahiran agar bayi lahir sesuai dengan harapan.

C. Tujuan
Adapun beberapa tujuan mengapa kita perlu mempelajari tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan masa prenatal, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap masa prenatal kelahiran.
  2. Mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan masa prenatal kelahiran dalam rangka membentuk karakter anak yang akan dilahirkan.
  3. Merencanakan kehidupan yang berkwalitas bagi anak pada khususnya, dan bagi kehidupan berkeluarga pada umumnya, baik di dunia dan di akhirat.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Fase-Fase Masa Prenatal Kelahiran
Perkembangan masa prenatal atau prakelahiran dibagi ke dalam tiga fase utama: germinal, embryonis dan fetal. Dalam Al-Qur'an digambarkan keseluruhan fase prenatal sebagai berikut :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Q.S. Al-Mukminun [23] : 12-14)

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai ketika periode prenatal tersebut:

1. Periode Germinal
    Periode germinal adalah periode perkembangan prenatal yang berlangsung pada dua minggu pertama setelah pembuahan. Ini meliputi penciptaan zigot, dilanjutkan dengan pemecahan sel, dan melekatnya zigot ke dinding kandungan. Sekitar seminggu setelah pembuahan, zigot terdiri dari 100 hingga 150 sel. Pemisahan sel telah dimulai ketika lapisan dalam dan lapisan luar organisme terbentuk.

2. Periode Embrionis
Periode embrionis adalah periode perkembangan masa prenatal atau prakelahiran yang terjadi dari dua hingga delapan minggu setelah pembuahan. Selama periode embrionis, angka pemisahan sel meningkat, sistem dukungan bagi sel terbentuk, dan organ-organ mulai tampak.

3. Periode fetal
Periode fetal adalah periode perkembangan masa prenatal atau prakelahiran yang mulai dua bulan setelah pembuahan dan pada umumnya berlangsung selama tujuh bulan. Pertumbuhan dan perkembangan melanjutkan rangkaian dramatisnya selama periode ini. Tiga bulan setelah pembuahan, panjang janin kira-kira tiga inci dan beratnya satu ons. Janin semakin aktif, menggerakkan tangan dan kakinya, membuka dan menutup mulutnya, dan menggerakkan kepalanya.

Wajah, dahi, kelopak mata, hidung dan dagu dapat dibedakan, demikian juga lengan bagian atas, lengan bagian bawah, tangan, dan tungkai serta alat kemaluan dapat diidentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan. Pada akhir bulan keempat, janin tumbuh hingga lima setengah inci dan bertanya hingg empat ons. Pada bagian ini, suatu percepatan pertumbuhan terjadi pada tubuh bagian bawah. Refleks prenatal atau prakelahiran semakin kuat; gerakan-gerakan lengan dan kakau dapat dirasakan untuk pertama kali oleh ibunya.

Pada akhir bulan kelima, panjang janin kira-kira sepuluh hingga dua belas inci dan bertanya setengah hingga satu pon. Struktur kulit sudah terbentuk, misalnya kuku jari kaki dan kuku jari tangan. Janin semakin aktif yang memperlihatkan keinginan suatu posisi tertentu di dalam kandungan.

Pada bulan akhir keenam, panjang janin kira-kira empat belas inci dan bertanya naik setengah hingga satu pon lagi. Mata dan kelopak mata benar-benar terbentuk, dan suatu lapisan rambut halus menutup kepala. Refleks menggenggam muncul, dan pernafasan yang belum beraturan terjadi.

Pada bulan akhir ketujuh, panjang janin empat belas hingga tujuh belas inci dan berat naik beberapa pon lagi hingga bertanya sekarang dua setengah hingga tiga pon. Selama bulan kedelapan dan kesembilan, janin bertumbuh lebih panjang dan naik lebih berat lagi, kira-kira delapan pon. Ketika lahir, rata-rata bayi amerika bertanya tujuh hingga tujuh setengah pon dan tingginya sekitar 20 inci. Pada dua bulan terakhir, lapisan atau jaringan lemak berkembang dan fungsi berbagai sistem organ seperti jantung dan ginjal berjalan.

B. Pengaruh Pranatal Bagi Keadaan Bayi Sesudah Lahir
Jauh sebelum masa prenatal mendapat banyak perhatian para ahli psikologi perkembangan, kemudian muncul teori-teori untuk membentuk karakter dan memprogram tingkah laku anak selama dalam kandungan, sehingga anak lahir sesuai dengan keinginan, atau paling tidak bayi lahir dalam keadaan selamat dan tidak cacat secara fisik, para "orang tua" sudah terlebih dahulu memberikan kesaksian bahwa masa prenatal kelahiran adalah masa penting dan sangat berpengaruh bagi keselamatan, kepribadian, kondisi fisik dan kejiwaan bayi setelah ia dilahirkan. Para "orang tua" sangat menganjurkan ayah dan ibu untuk bersikap baik dan menghindari hal-hal yang terbilang buruk semasa ibu mengandung, seperti larangan bagi ayah atau ibu duduk atau berdiri di pintu, karena hal ini menurut mereka menyebabkan ibu sulit untuk melahirkan, dan masih banyak contoh yang lain. Walaupun hal ini belum dibuktikan secara ilmiyah, dan boleh saja disebut sebagai takhayul, namun hal ini bisa dijadikan bukti bahwa masa prenatal kelahiran adalah masa yang menentukan dan tidak bisa dianggap sepele, atau bahkan dianggap sebagai sesuatu yang tidak berpengaruh sama sekali bagi kondisi anak yang akan dilahirkan.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin juga menganggap masa prenatal adalah masa yang memberikan pengaruh bagi bayi yang akan dilahirkan. Salah satu contoh ada hadits Rasulullah SAW. dalam kitab Mu’jamul Kabiir 1/117 disampaikan berdasar riwayat Imam Yahya bin Yahya, dari Khalid bin Ma’dan bahwa Rasulullah bersabda: “Makanlah oleh kalian (wanita-wanita yang sedang hamil) jambu safarjal karena dapat mempercantik anak.”

Perhatian sains terhadap masa prenatal juga sangat besar. Penelitian empiris mengenai hal tersebut dapat dilihat pada terbitnya majalah Pre and Perinatal Psychology Journal pada tahun 1986. Sebelumnya Joffe (1969) mempublikasikan hasil penelitiannya tentang pengaruh masa prenatal yang dianggap sebagai hal yang sangat penting dalam penelitian selanjutnya, meskipun dia menjadikan hewan sebagai obyek penelitian.

Terbitnya buku-buku psikologi dan kesehatan tentang program pendidikan dan kesehatan anak semasa prenatal juga menjadi bukti bahwa masa prenatal mempunyai pengaruh bagi perkembangan bayi sesudah ia dilahirkan.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Prenatal
Para ahli psikologi perkembangan yang membahas mengenai perkembangan manusia selalu mengkaitkan istilah nature dan nurture. Dimana setiap perkembangan manusia dipengaruhi oleh interaksi dari kedua hal tersebut.

Konsep nature muncul dipengaruhi oleh aliran filsafat barat yang dikemukakan oleh Jean Jacquess Rousseau (dalam Stumpf, 1999). Ia menyatakan bahwa faktor-faktor alamiah mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Istilah nature mengandung pengertian faktor-faktor alamiah yang berhubungan dengan aspek bio-fisiologis terutama keturunan, genetis dan herediter. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Sifat-sifat, maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan diturunkan melalui unsur gen kepada anak-anaknya. Bukan hanya yang bersifat fisiologis seperti: berat badan, tinggi badan, warna kulit, rambut, jenis penyakit, akan tetapi juga karakteritik psikologis yang menyangkut tipe, kepribadian, kecerdasan, bakat, kreativitas, dan lain-lain.

Sedangkan konsep nurture dipengaruhi oleh aliran filsafat empirisme yang dikemukakan oleh Jhon Locke. Melalui teori tabula rasa, Locke mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bagaikan kertas putih yang masih bersih, ia percaya bahwa baik dan buruknya perkembangan hidup manusia tidak dilepaskan dari pengaruh lingkungannya.

Konsep nurture merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan eksternal, seperti: pola asuh, pendidikan, sosial budaya, media masa, status sosial ekonomi, agama, dan sebagainya. Seorang individu akan berkembang menjadi orang dewasa yang baik, mandiri, cerdas, dan bertanggung jawab, apabila ia berada dalam lingkungan hidup yang mendukung perkembangan tersebut. Lingkungan hidup yang buruk akan menyebabkan individu berkembang menjadi seorang pribadi yang tidak baik, bodoh, jahat, dan sebagainya.

a. Genetis
Pertumbuhan setiap indivividu sudah terprogam sejak masa konsepsi yang dipengaruhi oleh faktor genetis. Perubahan panjang, tinggi, berat badan bayi akan terjadi secara otomatis karena pengaruh genetika (keturunan). Faktor keturunan lebih menekankan pada aspek biologis atau herediter yang dibawa melalui aliran darah dalam kromosom. Faktor genetis cenderung bersifat statis dan merupakan predisposisi untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kalau sejak awal orang tua memiliki karakteristik fisiologis yang sehat, maka akan menurunkan generasi yang sehat pula. Sebaiknya bila orang tua tidak sehat, maka keturunanya pun akan mengalami gangguan atau penyimpangan secara fisik atau psikis (Papalia, Old & Fieldman, 1998: 2004).

Para ahli Psikologi perkembangan (Papalia dkk, 1998; Santrock, 1999; Helms & Turner, 1995; Haris & Liebert, 1991) mengakui bahwa aspek fisik maupun psikis seorang individu sangat dipengaruhi oleh unsur genetis, karakteristik tersebut akan nampak pada hal-hal sebagai berikut :

1) Sifat- sifat Fisik
Sifat-sifat fisik yang dapat diturankan secara genetis misalnya wajah, tangan, kaki atau bagian-bagian organ tubuh lainnya. Hal ini dapat terjadi pada anak tunggal maupun kembar. Bila orang tua memiliki suatu jenis penyakit tertentu seperti: tekanan darah tinggi, penyakit jantung, epilepsi, atau paru-paru, kemungkinan besar anak-anak yang dilahirkan pun mempunyai resiko terserang penyakit yang sama.

2) Intelegensi
Kecerdasan yang dimilki orang tua akan dapat menurun pada anak-anaknya. Meskipun anak-anak tersebut diasuh oleh orang tuanya sendiri maupun oleh orang lain, sifat kecerdasan orang tua akan tetap menurun. Pandangan ini dipengaruhi oleh pemikiran filsuf naturalis dari Perancis, J.J. Rousseau yang mengatakan bahwa anak cerdas dihasilkan dari orang tua yang cerdas (Stump, 2000).

3) Kepribadian
Kepribadian merupakan organisasi dinamis dari aspek fisiologis, kognitif maupun afektif yang membantu pola prilaku individu dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya (Hall, Lindsay & Campbell, 1998). Sebagai organisasi yang dinamis, maka kepribadian akan mempengaruhi perubahan pola pemikiran, sikap, dan perilaku seseorang.

Selain dipengaruhi oleh faktor interaksi dengan lingkingan hidupnya, kepribadian dipengaruhi pula oleh faktor genetis yang dibawa sejak lahir. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan oleh ahli psikologi perkembangan ditemukan bahwa baik kepribadian yang normal ataupun abnormal, pada dasarnya, diturunkan dari kedua orang tuanya.

Gen yang terdapat di dalam nukleus dari telur yang dibuahi pada masa embrio mempunyai sifat tersendiri pada tiap individu. Manifestasi hasil perbedaan antara gen ini dikenal sebagai hereditas. DNA yang membentuk gen mempunyai peranan penting dalam transmisi sifat-sifat herediter. Timbulnya kelainan familial, kelainan khusus tertentu, tipe tertentu dan dwarfism adalah akibat transmisi gen yang abnormal. Haruslah diingat bahwa beberapa anak bertubuh kecil karena konstitusi genetiknya dan bukan karena gangguan endokrin atau gizi. Peranan genetik pada sifat perkembangan mental masih merupakan hal yang diperdebatkan. Memang hereditas tidak dapat disangsikan lagi mempunyai peranan yang besar tapi pengaruh lingkungan terhadap organisme tersebut tidak dapat diabaikan. Pada saat sekarang para ahli psikologi anak berpendapat bahwa hereditas lebih banyak mempengaruhi inteligensi dibandingkan dengan lingkungan.

Sifat-sifat emosionil seperti perasaan takut, kemauan dan temperamen lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dibandingkan dengan hereditas, yaitu:
  • Jenis kelamin pada umur tertentu pria dan wanita sangat berbeda dalam ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain-lainnya sehingga memerlukan ukuran-ukuran normal tersendiri. Wanita menjadi dewasa lebih dini, yaitu mulai adolesensi pada umur 10 tahun, pria mulai pada umur 12 tahun.
  • Ras atau bangsa. Oleh beberapa ahli antropologi disebutkan bahwa ras kuning mempunyai tendensi lebih pendek dibandingkan dengan ras kulit putih. Perbedaan antar bangsa tampak juga bila kita bandingkan orang Skandinavia yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang Italia.
  • Keluarga tidak jarang dijumpai dalam suatu keluarga terdapat anggota keluarga yang pendek anggota keluarga lainnya tinggi.
  • Umur kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pada masa fetus, masa bayi dan masa adolesensi.

b. Lingkungan
Lingkungan memiliki peran yang besar bagi perubahan yang positif atau negatif pada individu. Lingkungan yang baik tentu akan membawa pengaruh positif bagi individu, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan cenderung memperburuk perkembangan individu.

Seorang psikolog ekologis, Urie Brofenbrenner (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) menyatakan bahwa lingkungan tersebut bersifat stratifikasi yakni berlapis-lapis dari yang terdekat sampai yang terjauh. Pengaruh lingkungan menjadi lebih kuat pada periode sensitif. Masing-masing pertumbuhan system organ atau anggota tubuh memiliki periode sensitif yang rentan terhadap pengaruh lingkungan.

Berbagai faktor eksternal tidak hanya dapat menyebabkan keguguran, namun juga ketidaksempurnaan dari bayi yang dikandung. Penelitian ilmiah menunjukan bahwa faktor eksternal atau lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan pra kelahiran dan juga proses kelahiran. Agen eksternal yang dapat mempengaruhi ini disebut dengan teratogen. Teratogen adalah segala virus, obat-obatan, zat kimia, radiasi, atau agenlingkungan lain yang dapat membahayakan perkembangan embrio atau janin hingga menyebabkan kerusakan fisik, kebutaan, kerusakan otak, dan bahkan kematian. Selain teratogen, kondisi emosional ibu, asupan gizi dan usia ibu juga dapat mempengaruhi kehamilan.

Karena itu, para ahli psikologis maupun medis berusaha keras untuk mengatasi dan membantu perawatan pada wanita hamil. Hal ini pun tak lepas dari peran dan tanggung jawab dari calon ayah dan calon ibu untuk bekerja sama menjaga kualitas pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat secara fisiologis maupun psikologis.

c. Interaksionisme antara Genetis dan Lingkungan
Untuk mencari titik temu perbedaan yang mencolok dari dua pandangan diatas, maka para ahli kemudian memadukan keduanya, sehingga terjadilah interaksi. Perpaduan antara faktor genetis dan faktor lingkungan menyatakan bahwa perkembangan seseorang tidak akan maksimal kalau hanya mengadalkan salah satu faktor saja. Karena itu, keduanya harus digabungkan untuk mengupayakan maksimalisasi perkembangan seseorang. Faktor genetis harus ditopang dengan faktor lingkungan dan faktor lingkungan harus memperoleh dukungan faktor genetis, sehingga memungkinkan perkembangan yang baik dan normal baik fisiologis maupun psikologis.

D. Upaya Yang Seharusnya Dilakukan Pada Masa Prenatal
Setiap keluarga tentu menginginkan anak-anak yang berkwalitas, dan tentunya anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang shalih shalihah yang mampu memberikan kegembiraan kedua orang tua baik di dunia dan akhirat.

Setelah diketahui, bahwa masa prenatal adalah masa yang penting bagi perkembangan anak sesudah lahir, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan masa prenatal, maka ayah dan ibu harus melakukan usaha-usaha pada masa prenatal, dengan tujuan anak yang akan dilahirkan diharapkan menjadi anak yang baik secara fisik ataupun kejiwaan. Upaya-upaya tersebut, secara ringkas diantaranya sebagai berikut:
  1. Menjaga Kesehatan Ibu Selama Hamil dan janin
  2. Berdoa agar proses kehamilan sampai melahirkan lancar, serta anak yang dilahirkan sesuai dengan harapan.
  3. Hendaknya ibu mengkonsumsi makanan-makanan yang memberikan pengaruh bagi perkembangan janin baik secara fisik, intelegensi, kepribadian dan kejiwaan
  4. Tidak terlalu sering mengkonsumsi bahan-bahan kimia
  5. Hindari stess dan ketegangan emosional
  6. Lakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat
  7. Menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk hidup, baik manusia maupun binatang
  8. Jangan menentang nasihat orang lain terutama orang tua walaupun tidak sesuai dengan akal dan bersifat takhayul
BAB III
PENUTUP DAN KESIMPULAN

Masa prenatal merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan awal dalam kehidupan manusia. Proses pertumbuhan dan perkembangannya dimulai sejak terjadinya konsepsi, yakni pertemuan antara sperma dan sel telur (ovum) yang akan menghasilkan benih manusia (zygote) yang kemudian berkembang menjadi organism atau janin (embrio) sebagai calon manusia yang dikenal sebagai fetus (bayi dalam kandungan). Pada umumnya, masa prenatal berlangsung sekitar sembilan bulan atau 266 hari dan berakhir pada saat bayi dilahirkan. Variasi individual memang sering terjadi, ada yang lahir lebih awal (premature) dari waktu tersebut dan ada pula yang lebih lambat (late mature), tergantung pada kondisinya masing-masing.

Ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi proses perkembangan pada masa prenatal, yaitu faktor pembawaan (heredity) yang merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan, dan faktor waktu (time) yang merupakan saat-saat tibanya masa peka atau kematangan (maturation).

Masa prenatal merupakan masa yang harus mendapat perhatian serius, karena apapun yang terjadi pada masa ini, baik positif maupun negative, akan berpengaruh pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya. Setiap kondisi yang tidak baik akan membawa dampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangannya di kemudian hari. Oleh sebab itu, berbagai cara dan upaya dilakukan oleh para ahli psikologi perkembangan dan para ahli medis agar proses pertumbuhan dan perkembangan masa kehamilan berjalan dengan baik dan lancar. Namun, upaya ini tidak akan maksimal tanpa adanya kerjasama dari calon ayah dan calon ibu.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.alquran-indonesia.com
Santrok, John W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Monks, F.J. Prof. Dr, Knoers A.M.P, Prof. Dr. dan Haditono, Siti Rahayu; Psikolofi Perkembangan, Yogjakarta, Gadjah Mada University Press, Cetakan ke-16 tahun 2006
Dariyo, A. (2007). Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Jakarta: Refika Aditama.
http://fithgallagher.wordpress.com/2010/09/30/karakteristik-perkembangan-masa-prenatal/
http://mediaaula.blogspot.com/2011_07_01_archive.html
 
Top