Kisah Kelam Gereja Dari Prancis

Propaganda misionaris yang selalu dilancarkan untuk mendangkalkan akidah umat Islam sekaligus salah satu cara mereka untuk memurtadkan ...

Propaganda misionaris yang selalu dilancarkan untuk mendangkalkan akidah umat Islam sekaligus salah satu cara mereka untuk memurtadkan umat Islam adalah dengan mengatakan secara berulang-ulang bahwa "Kristen adalah agama kasih", "inti ajaran agama Kristen adalah kasih" Kemudian mereka mulai memban-dingkan dengan Islam yang dikatakannya sebagai agama teror penuh kekerasan dengan serangkaian bukti semenjak peristiwa 9-11 hingga bom-bom yang terjadi di Indonesia.


Di sini kita tidak membahas fitnah dan kebohongan yang sengaja direkayasa atas tindakan-tindakan radikal 9-11 dan seterusnya. Namun kita akan membuka sejarah secara obyektif untuk mematahkan jargon yang selalu mereka usung "agama kasih", sebenarnya adalah sebuah kampanye dan sangat bertolak belakang dengan realita sejarah.

Sebagai salah satu contoh adalah peristiwa "The St Bartholomew's Day Massacre" atau peristiwa pembantaian di hari St Bartolomeus. Ketika itu, kekuasaan gereja demikian kuat hingga gereja bertindak sebagai wakil Tuhan dan bisa mengatasnamakan Tuhan dalam segala tindakannya.

Para pemimpin gereja pun diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memberontak pada Paus dengan mempublikasikan 95 poin pernyataan, terutama menentang praktik penjualan 'pengampunan dosa'. Pada tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik, lalu kemudian dia ditahan dan disiksa dengan dicongkel kedua matanya di dalam sebuah Gereja Katolik. Menurut Peter de Rosa (dalam bukunya Vicars of Christ : The Dark Side of the Papacy), hal ini hanya menambahkan unsur kemunafikan terhadap sebuah kejahatan ("it merely added hypocrisy to wickedness”).

Pembantaian di hari St Bartolomeus terjadi pada 24 Agustus 1572. pembunuhan massal atas kaum Huguenot, yang merupakan kaum Protestan Calvin di Prancis, dilakukan oleh penganut Gereja Roma. Pembantaian tersebut dimulai di Paris dan kemudian menyebar ke seluruh Prancis selama 2 bulan. Hampir 100 ribu orang Protestan dibunuh, dan kaum Huguenot hampir dipunahkan dari muka bumi. Semua itu dimulai dalam sebuah perayaan pernikahan.

Charles IX, Raja Francis dari 1560-1574, merancang pernikahan antara saudara perempuannya yang berusia 19 tahun, Margaret of Valois, dan Raja Henry of Navarre yang juga berusia 19 tahun. Henry, yang pada 1580 akan menjadi Raja Henry IV di Prancis, dibesarkan oleh ayahnya yang adalah penganut Calvin, dan merupakan pemimpin kaum Huguenot. Charles berpikir bahwa melalui pernikahan ini ia bisa menyelesaikan pertikaian antara sebagian besar penganut Gereja Roma di Prancis dengan kaum Protestan..

Pernikahan antara Margaret of Valois dan Raja Henry of Navarre dirayakan di Prancis pada 18 Agustus 1572, dipimpin oleh Kardinal Bourbon. Pesta itu dihadiri oleh setiap pejabat tinggi di Prancis, baik yang Katolik maupun Protestan. Empat hari kemudian, terjadi percobaan pembunuhan atas Coligny seorang Huguenot yang sangat berpengaruh secara politis di Prancis dan cukup akrab dengan Raja Charles, atas suruhan Catherine de Medici, ibu dari Charles IX.

Charles bersumpah untuk membalas usaha pembunuhan Coligny dan segera memerintahkan penyelidikan. Oleh karena takut penyelidikan itu akan mengungkap kebenaran, Chaterine ibu permaisuri, dibantu teman-temannya, membujuk raja muda itu dengan membuat fitnah bahwa itu semua merupakan bagian dari rencana kaum Protestan untuk memulai kerusuhan serta ia harus memerintahkan pembunuhan atas semua pemimpin Huguenot sebelum mereka bisa beraksi menentangnya.

Charles termakan fitnah yang dibuat oleh ibunya. sebagian besar pemimpin Huguenot sudah ada di Paris untuk meng¬hadiri pernikahan dan tidak satupun dibiarkan lolos. Yang pertama dibunuh adalah Coligny. Tengah malam 24 Agustus 1572, pada hari St Bartolomeus, tanda diberikan, dan pembunuhan atas kaum Huguenot dimulai. Para pengikut Gereja Roma ini mulai membantai rakyat jelata yang tak berdosa, memburu mereka seperti binatang siang dan malam. Dalam tiga hari pertama, hampir 10.000 mayat ditemukan di Paris saja.

Mereka melemparkan mayat itu ke Sungai Seine sampai airnya seperti darah. Pembantaian itu segera menyebar ke seluruh Prancis dan berlanjut sampai Oktober.

Tidak ada seorang pun yang berusaha menghentikan mereka dan tidak ada hukuman bagi mereka. Dan sikap Vatikan pun hanya diam. Inkuisisi dihalalkan oleh mereka para ‘orang-orang suci' atau rohaniwan gereja. Robert Held, dalam bukunya yang berjudul "Inquisition" memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan inkuisisi pada masa-masa itu.

Held memaparkan lebih dari 50 jenis dan model alas-alas penyiksaan serta berbagai metodenya. Kekejaman tersebut bervariasi mulai dari pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, membelah tubuh manusia dengan gergaji, pemotongan lidah, menghancurkan kepala dengan sebuah alat khusus, mengebor kelamin wanita, dan sebagainya. Sekitar 85 persen dari korban penyiksaan dan pembunuhan tersebut adalah perempuan. Antara tahun 1450-1800, diperkirakan sekitar 2-4 juta perempuan dibakar hidup-hidup di Eropa.
Ditulis Oleh : Hj Irena Handono (Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center)

Related

Kristen 6612801568001388945

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item