Kebaikan Hati Lahirkan Kebahagiaan Hakiki

Mulai dilahirkan sampai saat ini kita tidak pernah lepas dari nikmat Allah. Begitu banyaknya nikmat y...

Mulai dilahirkan sampai saat ini kita tidak pernah lepas dari nikmat Allah. Begitu banyaknya nikmat yang Allah diberikan, hingga kita tidak mampu menghitungnya. Namun nikmat yang paling besar yang Allah berikan ialah nikmat iman, yang harus selalu kita syukuri agar tidak hilang dari kita, akibat ketidakmauan untuk mensyukurinya. Bagaimana cara agar nikmat Allah yang paling besar itu tetap menempel dalam dada kita, hingga kita menghadap Allah SWT?
Tidak ada jalan lain kecuali, melakukan apa yang diperintahkan oleh para ulama termasuk apa yang didawuhkan Al Imam Ibnu Ruslan dalam kitab Az Zubad: 

فكن من الإيمان في مزيد  *** وفي صفاء القلب ذا تجديد
بكثرة الصلاة والطاعات *** وترك ما للنفس من شهوات

"Usahakanlah agar iman selalu bertambah, dan hati pun menjadi bersih, dengan memperbanyak shalat dan taat kepada Allah SWT, serta meninggalkan keinginan (syahwat) nafsu".

Jika iman sudah benar-benar menempel dalam dada, maka akan muncul kebaikan-kebaikan baik lahir maupun batin. Kebaikan batin berupa hati yang bersih dan bebas dari penyakit-penyakit yang buruk, hingga tidak dengki dan benci kepada siapa pun. Jika hati sudah bersih, maka amal dhahir, walaupun tidak terlalu banyak, akan memberikan banyak manfaat. Sebaliknya, meskipun amal yang dilakukan berlimpah, tetapi hati tidak bersih, maka tidak akan ada manfaat yang dapat diambil. 

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits bahwa nabi menyebutkan salah seorang sahabat yang termasuk ahli surga. Beliau bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Akan datang dihadapan kalian seorang lelaki yang termasuk ahli surga".

Para sahabat penasaran ingin menyaksikan lelaki yang disebutkan Rasulullah. Sejenak kemudian datang seorang sahabat Ashar yang jenggotnya meneteskan air sehabis wudlu, dan menenteng sandalnya dengan tangan kiri. Keesokan harinya Rasulullah SAW bersabda lagi seperti sebelumnya, dan yang datang kemudian adalah seorang lelaki yang sama. Pada hari ketiga Rasulullah bersabda dengan sabda yang sama dengan hari sebelumnya, dan sejenak kemudian datang seorang lelaki dengan rupa dan gaya seperti kemarin. 

Abdullah bin Amr bin Al-Ash mempercayai bahwa dialah salah seorang ahli surga seperti yang disabdakan Rasulullah SAW. Dia penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya amal yang ia lakukan sehingga disebut Rasulullah sebagai ahlii surga. Dia pun mengikuti sahabat yang disabdakan Rasulullah itu. Sesampai di rumah Abdullah bin Amr bin Al-Ash dipersilahkan masuk dan berkata: "Aku berselisih pendapat dengan orang tuaku. Dan aku bersumpah tidak akan masuk rumahku sampai tiga hari. Maka aku mohon kepadamu agar mengijinkanku bermalam dirumahmu selama tiga hari". 

Walaupun sebenarnya apa yang dikatakan Abdullah bin Amr bin Al-Ash mengada-ada, tetapi dia melakukan hal itu karena tujuan ingin tahu apa yang dilakukan sahabat Anshar itu di malam hari.

Setiap malam Abdullah bin Amr bin Al-Ash memperhatikan pemilik rumah dan ia melihat bahwa apa yang dilakukan pemilik rumah tidak ada yang istimewa; setelah shalat isyak, dzikir biasa lalu tidur dan tidak pernah Abdullah bin Amr bin Al-Ash melihat pemilik rumah melakukan tahajud. Abdullah bin Amr bin Al-Ash bertanya dalam hati apakah benar ia seorang ahli surga? 

Terakhir ketika Abdullah bin Amr bin Al-Ash hendak pamit, ia mengakui bahwa telah berbohong dan mengakui tujuan ia menginap di rumah sahabat aAnshar itu ialah ingin mengetahui amal apa  yang dilakukan, sehingga disebut oleh Rasulullah SAW, sebagai ahli surga. Abdullah bin Amr bin Al-Ash lalu menceritakan sabda Rasulullah SAW tentang dirinya. 

"Aku hanya ingin tahu amal apa yang anda lakukan, sehingga nanti aku bisa meniru anda dan Allah menjadikanku sebagai salah seorang ahli surga". Kata Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Sahabat Anshar itu menjawab, "Aku tidak mempunyai amal yang istimewa, hanya apa yang engkau lihat setiap malamnya".  

Abdullah bin Amr bin Al-Ash pun segera pamit. Beberapa langkah kemudian, sahabat Anshar itu memanggilnya dan berkata: "Amalku hanya itu! Tetapi aku tidak pernah menyimpan dalam hatiku sifat dengki, benci dan permusuhan kepada seorang muslim sekalipun". 

Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: "Inilah yang membuatmu disebut Rasulullah sebagai ahli surga dan inilah yang sulit aku tiru".

Dengan demikian, pertama yang harus dilakukan seorang muslim ialah mengupayakan pembersihan hati dari penyakit-penyakit yang merusak, dengan cara mempelajari ilmu-ilmunya. Al-Imam Al-Ghazali berkata: bahwa hHukum mempelajari ilmu-ilmu agar terhindar dari penyakit-penyakit hati adalah fardu ain, bukan fardu kifayah. 

Imam Ibnu Ruslan dalam Az Zubad mengatakan:

ففرضه علم صفات الفرد ** مع علم ما يحتاجه المؤدى ** ** من فرض دين الله في الدوام ** كالطهر والصلاة والصيام ** ** والبيع للمحتاج للتبايع ** وظاهر الأحكام في الصنائع ** ** وعلم داء للقلوب مفسد ** كالعجب والكبر وداء الحسد
Ilmu-ilmu yang hukumnya fardu ain ialah: ilmu tentang sifat-sifat Allah, ilmu yang dibutuhkan dalam melakukan kewajiban beribadah kepada Allah, seperti bersuci, shalat dan puasa, ilmu hukum perdagangan bagi orang yang hendak berdagang, dan ilmu untuk mengobati penyakit-penyakit hati, seperti ujub, sombong dan dengki.

Sumber: Ceramah KH. Sholahudin Munshif pada Pengajian Umum dalam Rangka Akhir Sanah PP. Takhsilul Afkar Pugerwetan Puger Jember Tahun 2009
 

Related

Akhlaq-Tashawuf 6307715271499618040

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item