Kekafiran Yang Tidak Disadari

Seorang santri, sebut saja Fadli telah melakukan khithbah kepada seorang perempuan bernama Usailah. Setel...


Seorang santri, sebut saja Fadli telah melakukan khithbah kepada seorang perempuan bernama Usailah. Setelah khitbah dan nadhar, Fadli berkesimpulan cocok dan berkeinginan melanjutkannya ke jenjang pernikahan. Begitu pula Usailah tampaknya juga merasa demikian. Namun, sayang sungguh sayang impian Fadli untuk berumah tangga dengan Usailah harus dipendam dalam-dalam. Pasalnya ayah Fadli tidak setuju. Mengapa padahal Usailah cantik, mondoknya sudah lama, shalihah, puteri seorang kyai dan jadi ustadzah pula. Menurut bapaknya Fadli, pernikahan antara Fadli dan Usailah adalah pernikahan mojok (jawa). Yakni karena rumah Fadli berada di arah barat daya dan rumah Usailah di arah timur laut. Menurutnya pernikahan semacam ini akan berakibat mati salah satu.

Kejadian lain, saat anakku yang kedua lahir perempuan. Disarankan, saat mengubur ari-ari, saya mandi dulu, lalu berdandan rapi, pakai minyak wangi, menyisir rambut dan lain-lain, serta mengubur ari-ari tersebut di dapur. Menurut mbah dukun yang memberi saya saran, hal yang demikian itu akan menjadikan anakku nanti bisa berdandan, resikan (jawa) dan bisa memasak.

Aku pernah membaca buku primbon Jawa "Betal Jemur Adam Makna", juga kitab "Nabi Danial" karangan Abu Ma'syar Al Yunani. Di kedua buku itu aku temukan banyak hal-hal semacam di atas. Bahkan ramalan nasib seseorang bisa dilihat dengan menghitung nama dan hari dan tanggal lahir. Yang menjadi pertanyaan, apa keyakinan semacam itu dapat dibenarkan?

Yang jelas menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, keyakinan semacam itu menyebabkan kafir, jika meyakini tidak adanya campur tangan Allah. Jika ia berkeyakinan bahwa tidak ada yang memberi manfaat dan madlarat kecuali Allah SWT, namun Allah menciptakan adat (kebiasaan), misalnya jika begini maka jadinya begini dan seterusnya, dan pada hakikatnya yang berperan dalam semua itu hanya Allah, maka tidak mengakibatkan ia kafir. (lihat Ghayah Talkhish al Murad [Hamisy Bughiyah al Mustarsyidin] hlm. 206).

Suatu malam aku bertemu seseorang di depan rumah seorang dokter dengan tujuan sama-sama hendak memeriksakan anak karena sudah berhari-hari hari badannya panas. Sambil menanti urutan, kami berbincang-bincang seputar kesehatan anak. "Menurut orang dulu, kalau anak panas, maka ambil potongan pusar anak yang biasanya masih tersisa ketika anak baru dilahirkan. Lalu rendam ke dalam air, dan minumkan. Insya Allah sembuh". Kataku. Orang itu menjawab pakai nada tinggi, "Wah! perbuatan itu takhayyul, khurafat, syirik dan kufur! Mending dibawa ke dokter!". Akhirnya aku diam saja, masak mau debat di depan rumah dokter. Ternyata orang itu simpatisan PKC (Partai Kathok Cingkrang).

Ketika seseorang menganggap keyakinan semacam di atas menyebabkan kekafiran, maka tentu kita bilang "Ya", jika ketika menafikan peran Allah SWT. Dan ketika orang bilang tidak menyebabkan kekafiran, kita pun bilang "Ya", jika tetap meyakini bahwa pada hakikatnya yang berperan dalam semua itu hanyalah Allah. Penulis menganggap semua kejadian-kejadian di atas dan yang sejenisnya, merupakan bagian dari adat (kebiasaan) yang diciptakan Allah, bisa berlaku, dan bisa pula tidak, sesuai dengan kehendakNya. Jika Allah menghendaki sesuatu, maka terjadilah. Dan jika Allah tidak menghendaki, tentu tidak akan terjadi.

Terkadang seseorang terjebak dalam anggapan perbuatan ini termasuk khurafat, syirik dan kufur. Tetapi dalam kehidupan kesehariannya, tanpa dia sadari banyak kekafiran yang telah ia lakukan. Bagaimana tidak, dia bekerja mencari nafkah, karena ia beranggapan dengan bekerja nafkah akan diperoleh. Dia makan agar mampu bertahan hidup, karena makanan mampu memberikan kekuatan tubuh. Ketika sakit dia minum obat, karena obat bisa menyembuhkan. Ketika api menyentuh dirinya, ia segera menghindar, karena api akan membakarnya. Terkadang ia lakukan semua itu dengan menafikan peran Allah di dalamnya. Bukankah ini adalah sebuah kekufuran yang tidak disadari?

Yang jelas dan harus menjadi keyakinan (i'tiqad) kita adalah bahwa semua apa yang terjadi, pada hakikatnya adalah kehendak dan perbuatan Allah, baik yang terjadi melalui adat atau tidak. Tiada api yang mampu membakar kecuali Allah yang membakar. Tiada pisau yang mampu melukai kecuali Allah yang melukai. Tiada obat yang memberi kesembuhan kecuali Allah yang memberikannya. Semuanya tidak mempunyai peran kecuali oleh Allah SWT. Semuanya tidak pekerjaan adalah milik Allah kecuali al-Kasb yang Allah berikan. Wallahu A'lam bish shawab.

Related

Aqidah 8305216394967863583

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item