Pertempuran Uhud: Hikmah dan Ibrah (Habis)

Pertempuran Uhud mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang sangat penting bagi kaum muslimin di setiap masa. Berikut akan sedikit diuraikan mengenai hikmah dan pelajaran itu.

Ketika terdengar informasi akan rencana serangan kaum kuffar ke Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengedepankan musyawarah dengan para sahabat untuk merumuskan sebuah tindakan.  Saat Rasulullah memilih keluar madinah menyongsong tentara kuffar di gunung Uhud sesuai dengan keinginan kaum muda, beliau tidak lagi menghiraukan pendapat kaum tua yang menginginkan bertahan di Madinah. Hal ini memberikan pelajaran bahwa ketika keputusan sudah dibuat tidak selayaknya untuk dicabut kembali. Apalagi kondisi yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu adalah perang yang membutuhkan keberanian dan semangat yang berapi. Jika Rasulullah sampai mengurungkan keputusan itu, maka justru akan menjadikan keberanian sahabat merosot, terjerumus dalam keragu-raguan, kendurnya semangat, dan timbulnya rasa takut, padahal musuh sudah berada di depan mata.

Keputusan Rasulullah ini memberikan konsekwensi yang besar berupa mundurnya 300 tentara dibawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul dari kalangan munafikin sebelum pertempuran dimulai. Kaum muslimin yang pada asalnya berkekuatan 1000 prajurit berkurang menjadi 700 prajurit, juah dari kekuatan kaum kuffar yang berjumlah 3000 prajurit dengan persenjataan lengkap. Hal ini secara matematik akan membawa kaum muslimin pada mimpi buruk yang berupa kekalahan. Akan tetapi mundurnya kaum munafikin dari barisan perang menunjukkan sifat asli mereka, walaupun mereka beralasan karena Rasulullah tidak menghiraukan pendapat kaum tua yang menyarankan bertahan di Madinah.

Dari kejadian ini, akan dapat dilihat bagaimana sifat kaum munafiqin yang sebenarnya. Mereka sebenarnya tidak berani berperang dan tidak mau menceburkan diri dalam gejolak yang menakutkan. Yang mereka inginkan dari Islam hanya sekadar ghanimah dan perlindungan dari kaum muslimin bagi keamanan diri dan harta-harta mereka.

Dalam perang Uhud, meskipun kekuatan muslimin sangat kecil, Rasulullah sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk meminta bantuan dari kelompok non Muslim, dalam hal ini adalah Yahudi Madinah. Mayoritas ulama dengan dasar ini berpendapat bahwa meminta bantuan terhadap non muslim dalam peperangan tidak diperbolehkan. Imam As-Syafi’i memberikan rincian. Jika non muslim itu dapat dipercaya dan mempunyai taktik yang baik, sementara kondisi memerlukan hal itu, maka meminta bantuan kepada mereka adalah boleh.

Siasat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pertempuran Uhud adalah siasat yang sangat jitu. Bagaimana Rasulullah mengatur formasi tentara sedemikian rupa, ditempatkannya para pemanah diatas bukit Ainain, ditiadakannya keuntungan musuh dengan mengurangi jumlah pasukan berkuda, diletakkannya sayap kanan di kaki bukit Uhud dan lain sebagainya. Secara matematis siasat ini akan memberikan kesulitan bagi pasukan musuh menyerang dengan bebas, walaupun pada akhirnya pasukan pemanah tergiur dengan kemenangan sementara yang telah diraih dengan menuruni bukit, lupa akan pesan Rasulullah hingga keadaan berbalik.

Inilah bukti sifat fathanah yang dimiliki oleh Rasulullah. Dari mana Rasulullah belajar taktik peperangan, sementara beliau tidak pernah mengenyam pendidikan sedikitpun? Tidak ada, kecuali berdasarkan wahyu yang membuktikan dirinya adalah nabi dan utusan Allah yang sebenarnya, luput dari segala bentuk kesalahan. Berdasarkan wahyu Allah juga, beliau mampu mengetahui apa yang akan terjadi. Meskipun siasat Rasulullah ini gagal akibat keteledoran pasukan pemanah, bukan berarti hal ini luput dari pengetahuan beliau. Beliau jauh-jauh sudah tahu bahwa itu akan terjadi. Tetapi hal ini dibiarkan terjadi untuk memberikan peringatan bagi mereka yang tidak mau menghiraukan pesan Rasulullah dan lebih mengedepankan hawa nafsu dan mengejar kemewahan duniawi.

Kesalahan pasukan pemanah berakibat fatal bagi mereka sendiri dan juga berakibat gugurnya sahabat lain di luar mereka. Renungkanlah! Kesalahan sekelompok kecil muslimin akan berakibat besar bagi yang lain. Ketika kita melihat realita kekinian, maka hal semacam ini sudah sering terjadi diberbagai Negara muslim, bagaimana penderitaan rakyat muslim yang tidak berdosa akibat kesalahan dan keserakahan sekelompok kecil muslimin.

Saat pertempuran Uhud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit secara fisik akibat serangan bertubu-tubi dari para tentara kuffar, hingga berita kematian beliau terdengar di telinga tentara-tentara muslim yang masih bersemangat dalam berperang, sebagai akibat dari kesalahan kelompok pemanah yang hanya berjumlah 50 orang itu. Dari sini dapat diambil pengertian bahwa Rasulullah adalah manusia biasa yang dapat menderita sakit, bahkan mati. Tetapi sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam diri Rasulullah tidak dapat menurunkan ketinggian derajat beliau.

Informasi kematian Rasulullah yang telah menyebar, menimbulkan dampak besar. Semangat membara para sahabat mulai kendor, keragu-raguan mulai menghantui, dan keputusasaan mencegah mereka mengayunkan pedang ke arah musuh sekuat tenaga. Sungguh keterkaiatan muslimin dengan keberadaan Rasulullah saat itu sangat kuat, seakan tidak pernah tergambarkan dalam benak muslimin, hilangnya Rasulullah dari dunia ini. Ini hanya sebatas issu. Lalu bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?

Inilah salah satu bentuk ujian Allah bagi kaum muslimin. Allah berfirman:

وَما مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ، قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ، أَفَإِنْ ماتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلى أَعْقابِكُمْ؟
وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللهَ شَيْئاً، وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران 3/ 144]

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.  Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

Saat kaum kuffar mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya, para sahabat menjadikan diri mereka sebagai tameng bagi keselamatan Rasulullah. Satu per satu tameng-tameng diri itu berguguran. Inilah sebuah pengorbanan yang sangat menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi mereka melakukan hal ini? Tiada lain kecuali iman kepada Allah dan RasulNya, lalu kecintaan yang tinggi kepada beliau melebihi kecintaan mereka kepada diri mereka sendiri. Dan seharusnyalah, setiap muslim bersikap demikian. Iman yang telah dimiliki tidaklah cukup kecuali hati telah dipenuhi cinta kepada Allah dan RasulNya. Rasulullah bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين (متفق عليه)

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian keciali aku lebih dicintai olehnya dari pada orang tua, anaknya dan manusia semuanya”. (Hadits Muttafaq alaih)

Wallahu A’lam Bis Shawab

Disarikan dari Fiqhus Sirah Karya Syaikh Said Ramadhan al-Buthi Rahimahullah, hal: 177-183

Related

Sirah Nabawiyah 1578808694878080538

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item