Meningkatkan Ibadah di Sepuluh hari Terakhir Ramadlan

Saat artikel ini ditulis, ramadlan sudah hampir mendekat 20 hari. Aktifitas-aktifitas ibadah yang semenjak awal ramadlan ramai dilaku...


Saat artikel ini ditulis, ramadlan sudah hampir mendekat 20 hari. Aktifitas-aktifitas ibadah yang semenjak awal ramadlan ramai dilakukan kini mulai terlihat lesu. Musholla dan masjid tempat dilakukannya jamaah shalat tarawih mulai ditinggalkan jamaahnya. Tadarus al-Qur’an yang mulai digelar semenjak tanggal 1 ramadlan yang diikuti berbagai kalangan baik tua atau muda kini tampak lengang. Suara-suara merdu para pemuda yang melantunkan ayat-ayat al-Quran kini semakin hilang dari pendengaran. Yang tersisa hanya beberapa kaum tua dengan suara terbatuk-batuk terdengar menyayat jiwa, mengingatkan akan kematian yang terasa semakin dekat. Di pesantren-pesantren tempat dilakukannya pengajian berbagai macam kitab mulai sehabis subuh hingga tengah malam, kini mulai sepi. Beberapa kitab sudah dikhatamkan. Sebagain lagi mulai kehilangan peserta yang rupanya tidak sabar ingin segera pulang ke kampung halaman.

Sementara itu jalan-jalan semakin ramai oleh deru sepeda motor. Toko-toko tampak sibuk melayani pembeli yang semakin berjubel. Pasar-pasar penuh sesak oleh mereka yang ingin tampil beda di hari raya. Dan dentingan suara mercon dan kembang api semakin memekakkan telinga.

Itulah suasana menjelang akhir ramadlan. Dan keadaan itu akan terus berlangsung hingga takbir berkumandang dari berbagai macam sound sistem tanpa diketahui siapa yang mengumandangkannya.

Keadaan yang sesungguhnya begitu memprihatinkan. Karena seharusnya ramadlan yang hampir mendekati sepuluh hari terakhir diisi dengan kegiatan ibadah yang lebih meningkat, apalagi ketika memasuki sepuluh hari terakhir itu. Pada saat itu disunatkan bagi kita untuk menambah nilai ibadah dengan melakukan amalan-amalan yang lebih dibandingkan pada hari-hari yang lain.

Diriwayatkan oleh sayyidah ‘Aisyah radliyallallhu ‘anha, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَر

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadlan menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk menambah ibadah dari biasanya”. (Muttafaq alaih)

Dalam riwayat Muslim, dari Aisyah, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ. رواه مسلم

“Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam begitu tekun pada sepuluh hari terakhir bulan ramadlan melakukan ibadah yang tidak beliau tekuni pada hari-hari yang lain”. (HR. Muslim)

An-Nawawi dalam Syarah Muslimnya mengatakan bahwa pada sepuluh hari terakhir bulan ramadlan itu, Rasulullah begitu tekun beribadah melebihi kebiasaan beliau di hari-hari yang lain, menghabiskan malam untuk melakukan shalat dan amalan-amalan yang lain, dan membangunkan keluarga untuk melakukan itu semua.

Salah satu ibadah yang selalu dilakukan Rasulullah di sepuluh hari terakhir bulan ramadlan ini adalah i’tikaf di masjid. Sayyidah Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu beri’tikaf hingga beliau wafat (Hadits Muttafaq alaih).

Ibnu Baththal mengatakan bahwa ketekunan beliau dalam beri’tikaf di sepuluh terakhir ramadlan menjadi dalil bahwa i’tikaf di hari-hari ini sangat disunatkan (muakkad). Sehingga menurut Ibnu Syihab, adalah sebuah keta’juban jika kita sebagai umatnya tidak melakukannya, padahal Rasulullah selalu melakukan dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya semenjak beliau memasuki Madinah hingga beliau dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Perlu diingat bahwa sepuluh tekahir bulan ramadlan adalah masa dimana lailatul qadar diwujudkan. Satu malam diantara malam-malam sepuluh terakhir ramadlan adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Satu malam ini akan terus ada hingga hari kiamat, dimana ia adalah salah satu keistimewaan bagi umat Islam yang tidak pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Oleh sebab itu peningkatan ibadah seharusnya kita usahakan dengan harapan mendapatkan fadilah dan barakah malam tersebut.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari malam sepuluh terakhir bulan ramadlan”. (HR. Bukhari)


Wallahu A’lam Bish Shawab

Related

Akhlaq-Tashawuf 8317726082960947626

Poskan Komentar

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item