Pertempuran Uhud: Kemenangan Sementara Kaum Musyrikin (2)

Melihat turunnya sebagian besar pasukan pemanah Muslimin dari atas gunung, Khalid bin Walid pimpinan sayap kanan pasukan musyrikin yang k...

Melihat turunnya sebagian besar pasukan pemanah Muslimin dari atas gunung, Khalid bin Walid pimpinan sayap kanan pasukan musyrikin yang ketika itu masih kafir, segera menyerang pasukan pemanah  muslimin yang masih bertahan di atas gunung, diikuti oleh Ikrimah, hingga semua gugur sebagai syahid, termasuk Abdullah bin Jubair. Setelah itu Khalid bin Walid beserta pasukan berkudanya menyerang kaum muslimin dari belakang. Pada saat ini pasukan musyrikin Quraisy berhasil mematahkan perlawanan muslimin, dan dengan cepat membunuh puluhan pasukan muslimin. 

Mereka berhasil menembus ke posisi dimana Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian melempar beliau dengan batu, mengenai pipi dan gigi Rasulullah. Darah pun mengalir. Saiyidah Fatimah datang berusaha memberikan pertolongan agar darah berhenti mengalir. Ia usap luka Rasulullah dengan air dibantu Ali bin Abi Thalib –karramallahu wajhah--. Ketika air tidak mampu mengentikan darah, tetapi malah semakin deras, Fatimah mengambil potongan tikar, lalu membakarnya hingga menjadi abu, kemudian menempelkannya ke luka rasulullah hingga darah berhenti mengalir.

Di tengah kejadian ini terdengar kabar dikalangan muslimin, bahwa Rasulullah telah terbunuh. Kabar ini sangat memberikan kegalauan dan ketakutan dalam hati muslimin. Kabar inilah yang membuat orang-orang yang beriman lemah berkata: “Apa kedudukan kita jika Rasulullah terbunuh?”. Mereka pun mundur dari peperangan. Di saat yang sama, Anas bin Nadhr berkata: “Apa guna hidup kalian setelah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasalam- terbunuh?”. Lalu ia menunjuk kaum munafiqin dan orang-orang yang beriman lebah dan berkata: “Ya Allah! Aku bebas dari apa yang mereka katakana!”. Kemudian ia menyabetkan pedangnya ke arah pasukan musyrikin hingga ia sendiri terbunuh.

Di sekitar Rasulullah, pasukan muslimin menjadikan diri mereka sebagai tameng bagi keselamatan Rasulullah, hingga sebagian besar mereka terbunuh. Diantara tameng-tameng Rasulullah itu adalah Abu Thalhah, Abu Dajanah, Ziyad bin As-Sakn dan Imarah bin Yazid bin as-Sakn sebagai tameng terakhir yang terbunuh. Ia terbunuh dengan pipi menempel di kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Setelah pertempuran mereda dan kaum musyrikin mundur dengan membawa kemenangan, kaum muslimin segera melakukan tajhiz terhadap mereka yang gugur sebagai syahid yang diantaranya adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib, paman Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-- yang terbunuh di tangan Wahsyi bin Harb. Sebelum mereka dikuburkan Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-: “Siapa diatara mereka yang paling banyak hafal al-Qur’an?”. Setelah ditunjukkan siapa dia, Rasulullah mendekatkannya terlebih dahulu ke liang lahat dan bersabda: “Aku adalah saksi bagi mereka di hari kiamat”. 

Kaum Yahudi dan Munafiqin menampakkan sikap mengejek atas kekalahan kaum muslimin ini. Abdullah bin Ubai bin Salul pimpinan kaum munafiqin berkata: “Andai kalian mengikutiku, maka diantara kalian tidak akan ada yang terbunuh!”. Mereka sering mempertanyakan pertolongan Allah bagi yang bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam--. Allah lalu menurunkan beberapa ayat dalam surat Ali Imran sebagai catatan bagi apa yang dilakuakan kaum Yahudi dan munafiqin, serta sebagai penjelasan dari hikmah yang dapat diambil dari pertempuran Uhud.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kembali dari Uhud pada Sabtu sore dan berada kembali di Madinah pada malam hari. Saat shalat subuh, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkab Bilal untuk mengumumkan perintah Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- untuk menyusul musuh, dan tidak diperkenankan ikut kecuali mereka yang telah ikut serta dalam perang Uhud. Panji perang yang terikat diberikan beliau kepada Ali bin Abi Thalib. Pasukan muslimin berangkat. Sesampai di Hamra’ul Asad, daerah yang berjarak 10 mil dari madinah, pasukan muslimin beristirahat. Di sana kaum muslimin menyalakan api yang besar, yang terlihat dari jarak yang jauh, sehingga tampak akan banyaknya pasukan.

Ma’bad bin Khiza’i melihat hal ini, lalu disampaikan kepada kaum musyrikin yang sedang berpesta atas apa yang telah diraih dalam perang Uhud. Mereka sebenarnya menginginkan kembali ke Madinah. Namun setelah mendapat informasi dari Ma’bad yang menurutnya pasukan muslimin datang dengan kekuatan besar, Allah menurunkan rasa takut dalam hati mereka. Segeralah mereka mundur kembali ke Mekah. Rasulullah berada di Hamra’ul Asad selama tiga hari, lalu kembali ke Madinah.

Bersambung

Related

Sirah Nabawiyah 8543885428523257943

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item