Ada Umat Islam Berkewarganegaraan Israel

Menjadi seorang muslim dan tercatat sebagai warga negara Israel merupakan hal sangat kontradiktif. Di banyak belahan dunia didiami mayori...

Menjadi seorang muslim dan tercatat sebagai warga negara Israel merupakan hal sangat kontradiktif. Di banyak belahan dunia didiami mayoritas umat Islam, Israel menjadi wilayah tidak seharusnya ada di muka bumi. "Mereka harus disingkirkan dari peta dunia," kata seorang jemaah Haji asal Suriah turut dalam perang enam hari, paling bersejarah dalam pembentukan negara Israel, seperti dilansir dari situs the Media Line (2007).

Apalagi saat musim ibadah Haji. Umat Islam Israel ingin melaksanakan ritual itu harus berperang dengan perasaan takut sebab mereka seolah masuk ke wilayah musuh. Negeri Zionis itu memang dianggap penjahat kakap di mata negara-negara wilayah Arab. Termasuk Arab Saudi, Suriah, Iran, Uni Emirat Arab, Irak, terutama sekali Palestina.

Dunia telah mencap Israel seluruhnya Yahudi. Padahal, sekitar 1,2 juta muslim mendiami wilayah Utara dan Timur. Faktanya, manusia sejagat mengetahui sedikit informasi mengenai mereka dan banyak fakta tidak diketahui dunia. 

Muslim Israel mendapat diskriminasi di luar negaranya. Saat melaksanakan haji, jika ada seseorang bertanya asal mereka, para jemaah haji ini spontan menjawab Palestina. Kebohongan ini terpaksa dilakukan lantaran mereka tidak ingin dapat perlakuan semena-mena. 

Sudah jatuh tertimpa tangga, pemerintah Israel pun juga meminggirkan pendapat warganya yang menganut agama Islam. Mereka dibedakan dalam alokasi anggaran, kesempatan kerja, serta keamanan. Di atas kertas, muslim adalah warga negara sama hak dan kewajiban dengan Yahudi, tapi tidak dalam praktek. Bulan sabit tersapu kibaran Bintang Daud.

Media punya peranan penting dalam menggambarkan citra negara dan media Arab selalu mengulas Israel dari sudut pandang negatif. Para muslim tinggal di negara itu tidak menampik perlakuan pemerintah kurang baik pada mereka, namun mereka mendapat cinta dan kasih sayang dari para tetangga kebanyakan Yahudi. "Kami menyukai tatanan sosial yang dibangun bersama. Pemerintah kadang memang berseberangan dengan rakyat, itu terjadi di manapun. Kami dapat menjadi jembatan antara Israel dan negara-negara Arab agar hubungan diplomatik sehat mulai bisa dibangun," kata Sheikh Ali Bakar, seorang imam masjid asal Israel Utara bekerja untuk Kementrian Dalam Negeri.


Related

Lintas Berita 500973565777129965

Follow Us

Facebook

Terbaru

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item