Bagian Setan Di Hati Rasulullah SAW

Salah satu hadits menceritakan mengenai peristiwa dibelahnya dada Rasul SAW. Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa ketika dada Rasul SA...

Salah satu hadits menceritakan mengenai peristiwa dibelahnya dada Rasul SAW. Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa ketika dada Rasul SAW dibelah, malaikat mensucikan hati Nabi SAW dan mengeluarkan bagian setan (hadh as-syaithan) yang ada di dalamnya.

Syubhat
Nabi SAW adalah seorang yang sempurna kemaksumannya. Bukankah tidak layak dalam hati manusia paling maksum terdapat bagian bagi setan?

Jawaban 
Sebenarnya, dikeluarkanya bagian setan dari hati Nabi SAW di usianya yang masih belia justru merupakan bukti kesempurnaan penjagaan (ishmah) Allah SWT terhadap Beliau. Terlebih jika kita memahami bahwa maksud bagian setan yang dikeluarkan dari hati Nabi SAW bukan bagian yang menjadi tempat setan untuk menggoda Nabi SAW. Tetapi yang dimaksud bagian setan itu adalah rahmat (kasih sayang) Nabi SAW kepada siapapun termasuk setan. Sebab Nabi SAW diutus sebagai rahmatan lil`alamin  (rahmat bagi semesta alam). Sebagaimana firman Allah SWT: 

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين [الأنبياء: 107]

Artinya : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Rahmat Nabi SAW kepada setan inilah yang dikeluarkan malaikat dari hati beliau, hingga dalam hati beliau tidak ada ruang rahmat bagi setan. Maka tidak ada hal yang perlu dipersoalkan mengenai peristiwa ini. (Al-Insan Al-Kamil: 1/34)

Bisa juga yang dimaksud bagian setan ini tempat fitnah setan atau tempat setan untuk menghembuskan hal-hal yang tidak baik. Karena bagian ini diciptakan oleh Allah dalam semua hati manusia yang dapat menerima bisikan setan. Allah pun menghilangkan bagian itu dari hati Rasulullah SAW. Pada sebagian ahli waris Rasulullah hal ini terjadi dengan memuntahkan darah hitam yang terbakar oleh nur tauhid. Akan tetapi terdapatnya bagian setan ini dalam hati Rasulullah SAW, bukan berarti setan akan mampu membisikkan godaan kepada beliau sebelum dada beliau dibelah malaikat. (Radd asy-Syubuhat haul ‘ishmah an-Nabi SAW; 1/111)

Lantas mengapa dada Nabi SAW harus dibelah, bukankah mudah saja bagi Allah SWT untuk tidak menciptakan bagian itu, atau menghilangkanya tanpa proses pembelahan?

Hikmah terjadinya pembelahan dada ini adalah untuk menumbuhkan sikap keberanian dan kekuatan iman dalam diri Rasul SAW, karena tiap kali dadanya dibelah, Beliau melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh malaikat pada dirinya dan ternyata pembelahan ini tidak berdampak apapun pada tubuhnya. Hal inilah yang menguatkan keyakinan Beliau bahwa Allah SWT selalu menjaganya. Oleh karena itulah Rasul SAW tumbuh menjadi manusia yang paling berani, dan tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah SWT semata. (Radd asy-Syubuhat haul ‘ishmah an-Nabi SAW; 1/111)

Hikmah yang lain bahwa pembelahan ini adalah bagi dari mukjizat Beliau dalam arti, jika bagian tersebut tidak diciptakan Allah dalam hati Rasulullah, maka mukjizat ini tidak akan tampak. Hal ini tidak bisa disamakan dengan kelahiran Rasulullah dalam keadaan sudah dikhitan, karena jika Rasulullah lahir belum dikhitan, maka akan terjadi hal-hal yang akan mengurangi kesempurnaan penciptaan belau, berupa terlihatnya aurat beliau saat dikhitan. (Tafsir Haqqi: 14/377)

Pembelahan ini juga berfungsi sebagai peringatan atas umat beliau untuk bersikap waspada dan berhati-hati terhadap setan dengan segala tipu daya, fitnah dan bisikannya. (Nadzm Ad-Durar:3/327)

Adapun pembelahan dada ini terulang sampai tiga kali. Yang pertama yaitu yang terjadi di masa kecil Rasul SAW adalah agar Beliau tumbuh dalam keadaan terjaga dari syaithan dengan dikeluarkanya bagian syaithan dari hatinya. Pembelahan dada kedua yang terjadi ketika beliau diangkat menjadi Nabi adalah agar Beliau dapat menerima wahyu dengan kesucian dan kekuatan hati yang paling sempurna. Sedangkan peristiwa ketiga yang terjadi saat mi’raj adalah agar Beliau mampu untuk bertemu dengan Allah SWT. (Tafsir Al-Baghawi: 5/60).

Sedangkan ungkapan yang ada dalam maulid simtud durar mengenai peristiwa ini, yaitu :

و ما اخرج الاملاك من قلبه اذا # ولكنهم زادوه طهرا على طهر

“Tidaklah para malaikat itu mengeluarkan dari hati Nabi kotoran melainkan mereka menambahkan kesucian dalam hati Nabi yang suci”.

Ungkapan ini tidak bertentangan dengan ungkapan sebelumnya, karena Habib Ali Al Habsyi tidak menafikan pengeluaran sesuatu di hati nabi, buktinya sebelum bait ini tertera :

ثم اخرجوا من قلبه ما اخرجوه و اودعوا فيه من اسرار العلم و الحكمت ما اودعووا

“Kemudian mereka keluarkan dari hati Nabi apa yang mereka keluarkan, dan meletakkan didalamnya rahasia-rahasia ilmu dan hikmah yang mereka letakkan dalamnya”.

Jelas tidak ada pertentangan antara ungkapan dalam Maulid Simtud Durar dengan ungkapan sebelumnya. Memang malaikat mengeluarkan sesuatu dari hati Nabi SAW akan tetapi yang dikeluarkan dari hati Beliau bukanlah merupakan kotoran melainkan  sifat rahmat beliau pada syaithan. bukan hanya itu, setelah dikeluarkanya bagian tersebut dari hati Nabi, malaikat kemudian mengisi hati Nabi SAW dengan rahasia-rahasia keilmuan sehingga menambah suci hatinya yang telah suci.

Related

Slider 3820324870644748517

Follow Us

Facebook

TERBARU

Arsip

Langganan Via Email

Statistik Blog

item